Dua Pembahasan Tentang Permasalahan Hukum “PENYEMBELIHAN KEPALA MANUSIA”

# Pembahasan Pertama #

TERKHUSUS MASALAH PEMOTONGAN KEPALA & PENYEMBELIHAN MANUSIA SIAPAPUN DIA

Ditulis oleh: Syaikh Abu Muhammad ‘Abdul Hamid Al Hajuri ~hafizhahulloh~
Dammaj yang dikepung, 5 shafar 1435H

Diterjemahkan oleh: Abu ‘Abdirrohman Shiddiq Al bugisiy  ~hafizhahulloh~
Dammaj, 7 shafar 1435H

Syaikh ‘Abdul Hamid Al Hajuri ~hafidzahulloh~ berkata:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم .. أما بعد

Sesungguhnya yang shahih dalam masalah pemotongan kepala dan penyembelihan manusia siapapun orang yang disembelih adalah tidak disyariatkan dan tidak pula ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihu wa sallam, kecuali apa yang secara takdir terjadi manakala perang dengan pedang sebagaimana terjadi dengan Salamah bin Al Akwa’ manakala beliau membunuh intel kaum musyrikin…
sementara telah datang hadits:
” وإذا قتلتم فأحسنوا القتلة ..الحديث”
“Perbaguslah kaifiyat pembunuhan apabila kamu membunuh..” al hadits.
dan penyembelihan menafikan hal itu, adapun riwayat bahwasanya ‘Abdullah bin Mas’ud memotong kepala Abu Jahl itu tidak tsabit (tidak shahih) berdasarkan tahqiq saudara kkami Syaikh Abu Basyir rahimahullah (terbunuh sebagai syahid fii ma nahsab oleh Rafidhah Al Hutsiyyun pada tanggal19 muharram 1431) bahwa tidak ada riwayat yang tsabit dalam bab ini…

demikian apa yang datang riwayat pembawaan kepala kepada Abu Bakr Ash Shiddiq (juga) tidak tsabit, adapun yang datang tentang pemotongan kepala-kepala Al Azariqah (kelompok khawarij) itu bukanlah hujjah sebab yang memotongnya adalah banu Umayyah dan pembenaran Abu Umamah atas perbuatan mereka tidaklah menunjukkan bahwa perbuatan itu disyariatkan…kemudian amalan mendatangkan kepala hanyalah alamat / kebiasaan para penguasa yang bengis kejam lagi angkuh dan kebenaran lebih berhak untuk di ikuti…

berlandaskan ini semua maka apa yang dilakukan sebagian saudara kami memotong kepala salah seorang hutsi adalah amalan individu disebabkab ketidak tahuan akh tadi tentang hukum perkara ini, dan telah mengingkarinya Syaikh Yahya Al Hajuri hafidzahullah di atas kursinya pada dars Asar hari sabtu tanggal 04 safar 1435 dimana beliau berkata: “pemotongan kepala hutsi dilakukan oleh sebagian anak-anak tanpa keridhaan kami, dan kami telah mengingkari perbuatan mereka itu”..

dengan ini maka kelakuan-kelakuan individu engkau beri nasihat dan pengarahan dan itu tidaklah teranggap sebagai agama ahlussunnah wal jama’ah, karena metode mereka dibangun di atas dalil bukan hawa nafsu sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari mutilasi (tindakan memotong-motong tubuh musuh seperti memotong telinganya mencungkil matanya dan semacamnya) dan saya pribadi menganggap penyembelihan manusia siapapun dia sebagaimana penyembelihan hewan adalah mutslah dan tidak boleh hukumnya…!

Adapun hukum pancung maka dilakukan dari belakang termasuk ihsan akan tetapi cukup dengan senjata modern yang sudah ada bagi siapa yang telah jatuh atasnya hukum bunuh.

Adapun yang terulang-ulang dalam kalam ahlus sunnah pada permasalahan “sembelih” maka yang di maksudkan adalah “bunuh” sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
” يا معشر قريش إنما بعثت بالذبح ” أي الجهاد والقتل للمخالفين.
“Wahai segenap kaum quraisy sesungguhnya aku diutus dengan sembelih” yaitu jihad dan membunuh orang-orang yang menyelisihi.

Aku tulis ini tuk melepas tanggung jawab sekaligus penjelasan terhadap manhaj yang kami berjalan di atasnya, bertaqorrub kepada Allah bukan tuqyah (menampakkan kepada lawan keyakinan yang pada hakikatnya dia tidak yakini sebagai muslihat dengan tujuan memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari musuh) bukan pula untuk menjilat mencari muka ataupun mudahanah (bersikap lunak) …dan Allah mengetahui maksud…dan kemuliaan hanya milik Allah dan rasulNya dan orang-orang yang beriman. -selesai-

TULISAN ASLI

::.. بخصوص مسالة قطع الرؤوس والذبح للإنسان أيًا كان !! ..::

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه وسلم .. أما بعد:
فان مسالة قطع الرؤوس والذبح للإنسان أيًا كان غير مشروع على الصحيح ولم يكن في عهد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ما جاء قدرًا عند المسايفة كما حصل مع سلمة بن الأكوع حين قتل جاسوس المشركين..
وقد جاء في الحديث :” وإذا قتلتم فأحسنوا القتلة ..الحديث” والذيح ينافي ذلك ، وأما ما جاء أن عبدالله بن مسعود جزَّ رأس أبي جهل فلا يثبت على ما حققه أخونا الشيخ أبي بشير الحجوري رحمه الله-( المقتول شهيدًا فيما نحسب من قبل الرافضة الحوثيين في 19 محرم 1431هـ ) في أنه لم يثبت في الباب شيء ..
وكذا ما جاء من حمل الرؤوس إلى أبي بكر الصديق لا يثبت ، وأما ما جاء من قطع رؤوس الأزارقة لاحجة فيه لأن الذي قام به بنو أمية وإقرار أبي أمامة لهم لا يدل على مشروعيته..ثم إن حمل الرؤوس إنما عُلم من الجبابرة فالحق أحق أن يُتبع..

وعلى هذا فما قام به بعض إخواننا بقطع رأس أحد الحوثيين هو تصرف فردي بسبب جهل الاخ بحكم هذه المسالة ، وقد أنكره الشيخ يحيى الحجوري حفظه الله بنفسه من على الكرسي في درس عصر يوم السبت 04 صفر 1435هـ حيث قال حفظه الله : “قطع رأس بعض الحوثيين فعله بعض الأولاد بما لانرضاه، وقد أنكرنا عليهم ذلك” ..
وبهذا فإن التصرفات الفردية تقوم بالنصيحة والتوجيه ولا تعتبر دينًا لأهل السنة والجماعة ، فطريقهم يقوم على الدليل لا الهوى ورسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المُثلة وأنا شخصيًا أعتبر ذبح الإنسان أيًا كان كذبح الحيوان مُثله ولا يجوز ..!

وبالنسبة للقطع والإعدام وقتل الصبر فيكون من الخلف وفيه إراحة ، لكن يغني عن ذلك القتل بالسلاح الحديث لمن تعين قتله..
أما بخصوص ما يتكرر أحيانًا في كلام أهل السنة في مسألة الذبح فالمراد به القتل كما قال رسول الله صلى الله عليه :” يا معشر قريش إنما بعثت بالذبح ” أي الجهاد والقتل للمخالفين.

كتبت هذا برأة للذمة وتوضيح للمنهج الذي نسير عليه ديانة لا تقية ولا تملق ولا مداهنة ..
والله من وراء القصد والعزة لله ولرسوله وللمؤمنين .

وكتب/
أبو محمد عبد الحميد الحجوري
دماج المحاصرة -الخامس من شهر صفر 1453هـ .

 

line

# Pembahasan Pertama #

HUKUM MENYEMBELIH ORANG SYI’AH

Pertanyaan

بسم الله الرحمن الرحيم

Apakah boleh menyembelih orang kafir yang sudah mati, karena kami dengar di Dammaj ada yang menyembelih jenazah orang Syi’ah, apakah itu dibenarkan?.

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وبعد:

Tidak dibenarkan bagi seorang muslim untuk merusak jenazah orang kafir dalam keadaan bukan karena darurat, baik berupa disembelih, dipotong anggota tubuhnya atau dibakar.Adapun kalau orang kafir itu masih didapati hidup maka boleh dibunuh, baik dengan disembelih atau dipotong salah satu anggota tubuhnya sebagai hukuman terhadap perbuatannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang membunuh pengembala yang baik hati, beliau memerintahkan untuk dipotong kaki tangan mereka secara bersilang lalu dibiarkan diterik matahari, hal demikian itu sebagai balasan atas kekafiran mereka terhadap Alloh dan Rosul-Nya.

Adapun yang berkaitan dengan pertanyaan masalah ini maka ketika kaum Syi’ah menyerang pertahanan Dammaj di Alu Manna’, salah satu komandan mereka tidak bisa mundur karena terkena tembakan dari para penjaga, kemudian sakarat, maka Al-Akh Hamzah ketika melihatnya sakarat, dia langsung menarik badannya, setelah terseret maka seorang kawan asal Yaman menyembelihnya, kemudian kepala itu dikirimkan ke markiz Dammaj, Alhamdulillah Syaikhuna Yahya mengingkari perbuatan itu, dan kemudian beliau perintahkan untuk dikembalikan ke Alu Manna’ lalu ditimbun bersama jasadnya.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah berkata:

“فإذا قتلتم فأحسن القتلة“.

“Jika kalian membunuh maka berbaiklah dalam membunuh”.

Tidak ada riwayat yang kami ketahui bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam pertempuran menyembelih musuh yang sedang sakarat, dan tidak pula beliau meminta didatangkan kepala-kepala pembesar orang kafir:

“وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم“.

“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”.

Ketika disampaikan kepada kami bahwa salah seorang kawan menyembelih Syi’ah yang sedang sakarat maka kami mengingkari hal demikian itu, dan kami katakan bahwa Syaikhuna Yahya pernah memfatwakan tentang tidak bolehnya memotong kepala musuh untuk dikirimkan ke suatu tempat.

Wallohu A’lam.

Ditulis Oleh Saudara Kami Yang Mulia : Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al Limbory ~hafizhahulloh~

Sumber :Dammaj Harosahulloh di re-post khusus untuk http://thibbslummsh.wordpress.com/

Baca Juga Postingan Terkait :

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Adab dan Akhlak, Artikel Islam, Fatawa Ulama, Hukum Syari'at, KONSULTASI Syari'ah, Manhaj Ahlus Sunnah, soal-jawab, Sunnah VS Bid'ah dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.