Sejarah & Perkembangan Syi’ah Hautsiy di Yaman

بسم الله الرحمن الرحيم

Yaman adalah salah satu daerah yang masyarakatnya beriman dan masuk ajaran Islam ketika zaman Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam. Dan masyarakat Yaman juga memiliki andil besar dalam setiap Futuhul Islamiyyah. Tidak hanya itu saja, Yaman adalah salah tempat yang menjadi gudang ilmu bagi kebanyakan pelajar, hingga banyak dari mereka yang belajar kesana, seperti Imam Ahmad bin Hanbal rohimahulloh.

Pada tahun 199 Hijriah, yaitu pada zaman Khalifah Al-Ma’mun, ada seorang Syiah Zaidiyah, Muhammad bin Ibrohim Thobathiba dari Kufah, Irak, yang mengutus anak pamannya, Ibrohim bin Muhammad ke Yaman agar ajaran mereka tersebar luas.

Dan kita sudah tidak asing lagi dengan ajaran Syiah Zaidiyah, yang didirikan oleh Zaid bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Hanya golongan inilah yang tidak melenceng aqidahnya satupun dari ahli sunnah (ketika itu). Mereka berpedoman kepada Al-Qur’an dan hadist dalam sehari-harinya, hanya saja, mereka memiliki pandangan berbeda dalam keutamaan Khalifah. Karena menurut mereka Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu yang lebih pantas atas khilafah daripada Abu Bakar As-Sidiq, Umar bin Khatab, dan Ustman bin Affan rodhiyallohu ‘anhum. Tetapi mereka tetap menghormati ketiga sahabat Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam. Begitu pula kelompok Syiah Zaidiyah tetap solat berjamaah dengan ummat muslim lainnya, dan tetap menghormati semua sahabat Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, dan mereka tidak mengikuti satupun dari mazhab Syiah Itsna ‘Asyar.

Kita kembali kepada cerita Kholifah Al-Ma’mun (ketika itu masih zaman Daulah Abbasiyah) yang berhasil melumpuhkan kekuatan revolusi Syiah Zaidiyah di Kufah (atas prakasa Muhammad bin Ibrohim Thobathiba), tetapi Kholifah Al-Ma’mun belum berhasil melumpuhkan Syiah Zaidiyah di Yaman (yang ketika itu diketuai oleh Ibrohim bin Muhammad). Maka Kholifah Al-Ma’mun melakukan diplomasi dengan Ibrohim bin Muhammad, untuk membolehkan Syiah Zaidiyah di Yaman, dengan syarat tetap berada di bawah naungan Daulah Abbasiyah.

Pada tahun 284 Hijriah, Yahya bin Husein Ar-Rusi bisa mendirikan daulah Zaidiyah di Yaman dikenal dengan “Daulah Bani Ar-Rusi” (Daulah A’immah), karena ketika itu lemahnya pengaruh dan kekuasaan daulah Abbasiyah atas daerah kekuasaannya.

Seiring berjalannya waktu, pengaruh Syiah Ismailiyah yang dahulu tidak ada di Yaman, mulai tersebar dikit demi sedikit, yaitu di daerah Selatan Yaman. Kita sudah mengenal bahwa ajaran Syiah Islamiliyah adalah ajaran yang sangat menyimpang dari ajaran Islam. Penyebaran ini terjadi pada tahun 290 Hijriah, dan ajaran mereka hilang begitu saja dengan cepat pada tahun 304 Hijriah.

Pada abad ke-5 Hijriah, jatuh pula Daulah Al-Ya’fariyah (daulah aliran sunni yang berpisah dari daulah Abbasiyah di Yaman sebelum daulah Bani Ar-Rosi). Dan pada abad itu juga makin lemahnya pengaruh daulah Zaidiyah. Dari sinilah dilanjuti oleh daulah An-Najahiyyin (dari tahun 403 Hijriah hingga 555 Hijriah). Begitu pula muncul beberapa daulah Ismailiyah yang berbahaya, yaitu daulah Bani Solih (dari tahun 439 Hijriah hingga 532 Hijriah). Dan daulah Bani Zari’ (dari tahun 467 Hijriah hingga 569 Hijriah). Dan juga daulah Bani Hatim (dari tahun 533 Hijriah hingga 569 Hijriah). Dari kesemua daulah Ismailiyah di Yaman berada dibawah naungan Daulah Abidiyah (Daulah Fathimiyah) di Mesir dan Syam, hingga jatuhnya Daulah Fathimiyah oleh Solahuddin Al-Ayyubi (pada tahun 567 Hijriah).

Pada abad ke-10 Hijriah, Yaman terpecah menjadi dua pemerintahan, yaitu Pemerintahan Ustmaniyyun (pengaruh dari Turki Ustmani), dan pemerintahan Zaidiyyun. Ternyata di Yaman tidak hanya Syiah Zaidiyah dan Ismailiyah saja yang berkembang, di sana juga terdapat Kelompok Syiah Hautsiyyin.

Kelompok ini bermula pada tahun 1986 M, tepatnya Timur kota Son’a, Yaman. Di sana terdapat kelompok besar Syiah Zaidiyah, di bawah kepemimpinan Badruddin Al-Hautsi. Dia adalah seorang alim ulama Syiah Zaidiyah.
Pada tahun 1990 M, terjadi peristiwa besar di Yaman, yakni penyatuan seluruh wilayah Yaman. Di sinilah Husein Badruddin Al-Hautsi (anak Badruddin Al-Hautsi) memiliki andil dalam kepentingan Syiah Zaidiyah, yaitu menjabat sebagai salah satu anggota parlemen pemerintah Yaman, dari tahun 1993 sampai dengan 1997.

Dan seiring berjalannya zaman, terjadi perselisihan antara Badruddin Al-Hautsi dengan ulama-ulama Syiah Zaidiyah mengenai fatwa imamah Syiah Zaidiyah di Yaman. Menurut Mujiddin Al-Mu’ayyadi (ketua ulama-ulama Syiah Zaidiyah yang menentang pandangan Badruddin) bahwa siapa saja berhak atas menjadi imam Syiah Zaidiyah di Yaman, tanpa harus dari keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib, maupun Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Maka pendapat ulama-ulama tersebut ditentang keras oleh Badruddin Al-Hautsi, terlebih Badruddin adalah penganut kelompok “Al-Jawardiyah” (salah satu kelompok Syiah Zaidiyah, yang memiliki pola pikir serupa dengan Syiah Itsna ‘Asyar. Oleh karena itu, dia membikin buku yang berjudul “Az-Zaidiyah fi-l-Yaman”. Buku itu mengulas adanya hubungan dekat antara Syiah Zaidiyah dan Syiah Itsna ‘Asyar, padahal seharusnya tidak demikian. Akibat perdebatan sengit ini antara dia dengan ulama-ulama Syiah Zaidiyah Yaman lainnya, dia terdesak dan hijrah menuju Teheran, Iran, dan tinggal di sana dalam beberapa tahun.

Seiring berjalannya waktu, hingga tahun 1997, ternyata ajaran dan pemikiran Syiah Itsna ‘Asyar mulai menyebar. Dan di tahun yang sama, Husein Badruddin Al-Hautsi memisahkan diri dari Partai Al-Haqq, lalu bergabung dengan kelompok “tsaqofiyah diniyah fikriyah” dari aliran sunni (Partai “At-Tajammu’ Al-Yumna Li-l-Ishlah”). Tetapi dia akhirnya memisahkan diri lagi pada tahun 2002 dengan membawa pengikutnya.

Pada tahun tersebut pula, alim ulama Yaman sepakat untuk memulangkan Badruddin Al-Hautsi dari pengasingan. Maka akhirnya dia kembali dari Teheran, Iran.

Pada tahun 2004, terjadi pemberontakan kelompok Syiah Al-Hautsi, atas perintah Husein Badruddin Al-Hautsi, mereka menguasai jalan-jalan di Yaman, dengan satu tuntutan agar ekspansi Amerika terhadap Irak dihentikan. Bahkan ketika itu pulalah Husein Badruddin Al-Hautsi mengaku bahwa dialah Imam Mahdi, serta menganggap dirinya sebagai Nabi. Maka terjadilah peperangan antara kelompok Syiah Al-Hutsiyah dengan pemerintah Yaman. Pemerintah Yaman ketika itu mengerahkan 30,000 tentara dan pesawat-pesawat tempur, hingga terbunuhnya pemimpin mereka, Husein Badruddin Al-Hautsi.

Dari sini kita mengetahui, betapa dahsyatnya kekuatan Syiah Al-Hautsi, hingga pemerintah Yaman mengeluarkan tentara sedemikan banyak untuk menahan pemberontakan mereka. Pertanyaan yang patut kita ajukan adalah, darimanakah kekuatan senjata Syiah Al-Hautsi?

Berikut ini ada beberapa sebab kenapa Syiah Al-Hautsi memiliki kekuatan persenjataan dan militer yang kuat:

  1. Tidaklah mungkin kelompok sekecil Syiah Al-Hautsi, yang berada di Negara Yaman (Negara kecil), memiliki sedemikian persiapan persenjataan, melainkan mereka mendapat bantuan dari luar Yaman, yakni Iran sebagai sekutu Syiah mereka. Karena Iran, yang notabene sudah menjadi Daulah Syiah, menginginkan Yaman sebagai daulah Syiah Itsna ‘Asyar. Dan jika ini terjadi, maka sudah tidak terelakkan lagi Yaman menjadi basis Syiah, selanjutnya Irak, dan Lebanon. Yang pastinya nanti Iran akan memiliki hasrat untuk menduduki Saudi Arabia, Kuwait, dan Bahrain. Maka lengkaplah Semenanjung Arab dibawah naungan Syiah jika itu semua terjadi.
  2. Adanya percampuran politik (Husein Badruddin Al-Hautsi bersama kawan-kawan Syiahnya) di dalam pemerintahan Yaman.
  3. Syiah Al-Hautsiyah mendapat bantuan dari beberapa kelompok/ suku Yaman. Sudah kita ketahui bahwa Yaman terdiri dari beberapa suku yang masih ada dan tidak hilang hingga sekarang. Bantuan mereka terhadap Syiah Al-Hautsiyah tidak lain karena cerdasnya Syiah Al-Hautsiyah memerankan permainannya, dengan janji mereka akan bersatu untuk menjatuhkan pemerintahan Yaman.
  4. Ketika itu terjadinya konflik antara masyarakat Lebanon yang menginginkan Yaman terpisah menjadi dua, Yaman Utara, dan Yaman Selatan.
  5. Adanya campur tangan Amerika terhadap permasalahan Yaman. Amerika menginginkan Yaman agar terpecah-belah, sama seperti halnya Amerika berhasil mengekspansi Irak, Afganistan, dan Pakistan.

wallohu a’lam…

sumber : di nukil dari sini di repost khusus untuk ISLAMIC ZONE https://thibbalummah.wordpress.com/

Baca Juga Postingan Terkait :

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Firqoh - Firqoh, Sejarah, Syi'ah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.