SUNNATULLOH SEJARAH YANG BERULANG: Makar Papan Atas Terhadap Penerus & Pengemban Dakwah Salaf Yang Konsisten (Dari Al-Buwaithy ~rohimahulloh~ Sampai Al-Hajury ~hafidzhohulloh~) Tak Luput Dari Bahaya Laten

 

PENERUS & PENGEMBAN ILMU YANG KONSISTEN TAK LUPUT DARI BAHAYA LATEN

 

( NUKILAN DARI BIOGRAFI: IMAM ABU YA’QUB YUSUF BIN YAHYA AL-MISHRY, MASYHUR DIKENAL DENGAN AL-BUWAITHY ~Rahimahullohu Ta’ala~ )

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan Robbmu senatiasa Bashir (Maha melihat)”. (QS Al-Furqon 20)

salafy tsabitin

Tak hanya kedudukan yang dunia yang jadi perebutan, bahkan kedudukan ulama posisi sebagai pengayom umat menjadi sasaran target laten (tersembunyi dan terpendam tapi berpotensi untuk muncul) yang bisa saja didasari hasad, persaingan dan tujuan-tujuan lain. Ketidak-senangan itu akan semakin meningkat jika ulama tersebut semakin kokoh berpegang dengan Al-Kitab dan Sunnah di atas pemahaman salaful ummah, karena tidaklah Alloh mengangkat kedudukan seseorang di sisi-Nya dan di mata orang-orang sholih, kecuali dengan kekokohan memegang hal tersebut.

Sebagaimana perkataan Waroqoh bin Naufal Rodhiyallohu ‘Anhu kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa sallam: “Tidak akan ada seorang lelaki yang datang dengan apa yang engkau datang dengannya kecuali dia disakiti. Seandainya harimu (ketika engkau diutus) mendapatiku dan aku masih hidup, maka akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. (HR Bukhory dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha)

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa sallam mengatakan:

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين

“Sesungguhnya Alloh mengangkat -dengan Kitab ini- beberapa kaum dan merendahkan yang lain”. (HR Muslim dari ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu)

Diantara sebab pengangkatan tersebut di sisi Alloh, adalah kesabaran dalam menyampaikan kebenaran dan mempertahankannya, serta meyakini akan kebenaran apa-apa yang telah Alloh janjikan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

‘Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS As-Sajadah ayat 20)

Diantara ulama yang tak luput dari cobaan dalam menyampaikan kebenaran dan kokoh di atas kesabaran dalam mempertahankannya, adalah Imam Al-Buwaithy Rahimahullohu Ta’ala. Beliau merupakan salah seorang pemimpin para fuqoha’ di zamannya, belajar di majelis Asy-Syafi’i dan keilmuannya mengungguli rekan-rekannya. [Lihat Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz-Dzahaby, biografi Al-Buwaithy]

Ar-Robi’ bin Sulaiman[1] Rahimahullohu Ta’ala mengatakan: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih cepat berdalil dengan Kitabullah Ta’ala dari pada Abu Ya’qub Al-Buwaithy”. [Tarikh Baghdaad wa Dzuyulihi karya Al-Khotib Al-Baghdaady, Tahdziibul Kamaal fi Asmaa-ir Rijaal karya Al-Hafizh Al-Mizzy: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Beliau Rahimahullohu Ta’ala juga mengatakan: “Dahulu Abu Ya’qub Al-Buwaithy adalah orang yang memiliki kedudukan di sisi Asy-Syafi’i. Dulu jika seseorang bertanya kepada Asy-Syafi’i tentang suatu masalah, dia mengatakan: “Tanyalah Abu Ya’qub”. Apabila dia (Al-Buwaithy) telah menjawabnya, orang tersebut mengabarkan kepada Asy-Syafi’i, maka dia (Asy-Syafi’i) berkata: “Perkaranya sebagaimana yang dia katakan”. Terkadang datang kepada Asy-Syafi’i untusan dari petugas keamanan, maka Asy-Syafi-i mengarahkannya kepada Abu Ya’qub Al-Buwaithy dan mengatakan: “Dia adalah lisanku”. [Tarikh Baghdaad wa Dzuyulihi, Tahdziibul Kamaal fi Asmaa-ir Rijaal: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Disamping keilmuannya yang menonjol di kalangan murid Imam Asy-Syafi’i, Al-Buwaithy juga dikenal orang yang banyak beribadah dan berbuat baik kepada orang-orang.

Ar-Robi’ bin Sulaiman Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu Al-Buwaithy adalah orang yang gemar berpuasa, seringnya dia membaca Al-Qur’an di siang harinya dan malamnya, bersamaan dengan itu dia juga berbuat baik kepada orang-orang”. [Siyar A’lamin Nubala’: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Beliau Rahimahulloh juga mengatakan: “Dahulu Abu Ya’qub senantiasa menggerakkan kedua bibirnya dengan berdzikir kepada Alloh”. [Tarikh Baghdaad wa Dzuyulihi, Tahdziibul Kamaal fi Asmaa-ir Rijaal: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Abul Waliid bin Abil Jaarud Rahimahulloh mengatakan: “Tidaklah aku terbangun pada suatu waktu di malam hari, melainkan aku mendengarkannya membaca Al-Qur’an dan sholat”. [Tarikh Baghdaad wa Dzuyulihi, Thobaqotul Fuqohaa’ karya Asy-Syiroozy, Tahdziibul Kamaal fi Asmaa-ir Rijaal: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Beliau juga orang yang kokoh memegang dan membela sunnah. Imam Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu beliau adalah ahlud dien (orang yang konsisten mengamalkan ajaran agama) dan ahlul ilmi, pemilik pemahaman dan seorang yang tsiqoh (sangat layak ditaruh kepercayaan). Beliau adalah orang yang teguh di atas as-sunnah, membantah ahlul bid’ah serta memiliki cara pandang yang bagus”. [Tahdziibul Kamaal fi Asmaa-ir Rijaal: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Karena itulah, beliau merupakan orang yang paling pantas menggantikan Imam Asy-Syafi’i Rahimahulloh Ta’ala di majelisnya, setelah beliau meninggal. Kedudukan yang ternyata diperebutkan banyak orang.

Ibnu Khuzaimah Rahimahullohu Ta’ala mengatakan: “Dahulu aku memandang bahwa Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Hakam orang yang paling berilmu tentang mazhab Malik. Maka terjadi perselisihan antara dia dengan Al-Buwaithy di saat-saat kematian Asy-Syafi’iy. Abu Ja’far As-Sukkary berkata kepadaku: “Ibnu ‘Abdil Hakam berselisih dengan Al-Buwaithy tentang majelis (ilmu) Asy-Syafi’i. Al-Buwaithy berkata: “Aku lebih berhak atasnya dari padamu”. Yang satu juga berkata demikian. Kemudian datanglah Al-Humaidy, ketika itu dia di Mesir, dia berkata: “Asy-Syafi’iy berkata: “Tidak ada seorangpun yang lebih berhak atas majelisku daripada Yusuf (Al-Buwaithy), tidak seorangpun dari murid-muridku yang lebih berilmu darinya”. Ibnu ‘Abdil Hakam berkata: “Engkau berdusta”. Dia (Al-Humaidy berkata: “Bahkan engkau, bapakmu dan ibumu yang telah berdusta”. Maka Ibnu ‘Abdil Hakam marah. Kemudian duduklah Al-Buwaithy di posisi Asy-Syafi’iy”. [Siyar A’lamin Nubala’: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Ar-Robi’ bin Sulaiman Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu Al-Buwaithy -ketika sakitnya Asy-Syafi’iy di Mesir-, dia, Ibnu ‘Abdil Hakam dan Al-Muzany berselisih tentang halaqoh (majelis ilmu Asy-Syafi’i). Hal tersebut sampai kepada Asy-Syafi’i, maka dia mengatakan: “Halaqoh tersebut untuk Al-Buwaithy”. Karena itulah Ibnu ‘Abdil Hakam meninggalkan Asy-Syafi’i dan murid-muridnya. Dahulu halaqoh yang ditinggalkan Asy-Syafi’i adalah halaqoh terbesar di mesjid”. [Siyar A’lamin Nubala’: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Ternyata makar pun dimulai, kedudukan beliau pun digoncang dengan berbagai fitnah.

Dahulu fatwa dikembalikan kepada Al-Buwaithy baik dari panguasa maupun selainnya. Beliau berbuat kebaikan yang bermacam-macam, banyak membaca Al-Qur’an dan tak lewat -mayoritas- siang dan malamnya sampai beliau menyelesaikan Al-Qur’an. Maka orang-orang yang hasad terhadapnya memfitnahnya, dan menulis surat kepada Ibnu Abi Duad di Irak. Maka Ibnu Abi Duad mengirim surat kepada penguasa mesir untuk “mengujinya”, maka dia tidak menjawab sesuai yang diinginkan”. [Thobaqotusy Syafi’iyyatil Kubro karya As-Subky: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Ar-Robi’ bin Sulaiman Rahimahulloh mengatakan: “Maka Al-Buwaithy difitnah. Dahulu Abu Bakr Al-Ashom -bukan Ibnu Kaisan Al-Ashom- termasuk orang yang berusaha membuatnya terjebak fitnah. Abu Bakr Al-Ashom merupakan teman Ibnu Abi Duad, anak Asy-Syafi’i juga termasuk orang yang berusaha membuatnya terjebak fitnah. Sampai akhirnya Ibnu Abi Duad menulis surat kepada penguasa Mesir, maka Raja mengujinya dan dia tidak menjawab sesuai dengan yang diinginkan”.

Ar-Robi’ bin Sulaiman Rahimahulloh juga mengatakan: “Dahulu Al-Muzany termasuk orang yang berusaha membuatnya terjebak fitnah, demikian juga Harmalah”. [Siyar A’lamin Nubala’, Taarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asaakir: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Al-Muzany adalah Abu Ibrohim Isma’il bin Yahya. Seorang Imam, faqih (ahli fiqih), “bendera” ahli zuhud. Beliau adalah gurunya para imam seperti: Ibnu Khuzaimah, Abu Ja’far Ath-Thohawy dan Ibnu Abi Hatim. [Siyar A’lamin Nubala’: Biografi Imam Al-Muzany]

Harmalah bin Yahya, Abu Hafsh. Seorang Imam, faqih. Beliau termasuk salah satu dari guru Imam Muslim dan Ibnu Majah. [Siyar A’lamin Nubala’: Biografi Imam Harmalah bin Yahya]

Imam Ibnu ‘Abdil Barr Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu Ibnu Abil Laits Al-Hanafy adalah qodhi Mesir. Dia hasad dan memusuhi Al-Buwaithy. Maka pada hari-hari “ujian” tentang Al-Qur’an, dia mengeluarkannya bersama orang-orang yang dikeluarkan dari penduduk Mesir menuju Baghdad. Tidak ada seorangpun murid Asy-Syafi’i yang dikeluarkan selainnya. Beliau dibawa ke Baghdad, ditahan, dan tidak menjawab apa yang didakwahkan kepadanya dalam masalah Al-Qur’an. Beliau mengatakan: “Al-Qur’an adalah perkataan Alloh bukan makhluk”. Beliau dikurung dan meninggal di penjara pada hari Jum’at sebelum waktu sholat pada tahun dua ratus tiga puluh satu”. [Al-Intiqo’ fi Fadho’ilits Tsalatsatil Aimmatil Fuqoha’: Biografi Imam Al-Buwaathy]

Sebagaimana dimaklumi bahwasanya Ahmad bin Abi Duad adalah seorang dai yang membawa pemikiran Jahmiyyah dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Pemikiran tersebut telah merasuki para penguasa ketika itu, sehingga mereka menjadikannya sebagai bahan ujian untuk menguji para ulama ahlussunnah, barangsiapa yang menentang maka dipenjara dan atau disiksa.

Abul ‘Abbas Al-Irbily Rahimahulloh Ta’ala mengatakan: “Dahulu beliau dibawa dari Baghdad ke Mesir -zaman (kholifah) Al-Watsiq Billah- pada hari-hari “ujian”, diinginkan darinya untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah makhluk namun beliau menolak untuk memberi jawaban yang demikian. Maka beliau ditahan di Baghdad, terus menerus dipenjara dan dirantai sampai meninggal. Beliau adalah orang yang sholih, banyak beribadah dan zuhud”. [Wafiyatul A’yan. Lihat juga Tarikh Baghdaad wa Dzuyulihi: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Ar-Robi’ bin Sulaiman Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu aku bersama Asy-Syafi’i, demikian juga Al-Muzany dan Abu Ya’qub Al-Buwaithy. Maka  Asy-Syafi’i melihat kepada kami dan berkata kepadaku: “Engkau akan meninggal di (ilmu) hadits”. Kemudian berkata kepada Al-Muzany: “Orang ini, kalau syaithon mendebatnya maka dia akan mematahkannya -atau mendebatnya-“. Beliau berkata kepada Al-Buwaithy: “Engkau akan meninggal di besi”. Ar-Robi’ berkata: “Kemudian aku masuk kepada Al-Buwaithy di hari-hari “ujian” maka aku melihatnya dibelenggu sampai setengah betis, tangannya juga terbelenggu sampai ke lehernya”. [Tarikh Baghdaad wa Dzuyulihi, Siyar A’lamin Nubala’, Tahdzilbul Kamaal: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Namun beliau adalah orang yang sabar dalam mempertahankan kebenaran, penderitaannya menjadi pelajaran dan teladan bagi orang-orang setelahnya.

Ibnu Sholah Rahimahullohu Ta’ala mengatakan: “Al-Buwaithy adalah salah seorang ulama yang sabar -bersamaan dengan sedikitnya mereka- atas cobaan dalam “ujian” Al-Qur’an (makhluk). Mereka (kelompok pertama: para ulama yang sabar menanggung penyiksaan yang berat -pent) tersebut adalah: Dia (Al-Buwaithy), Ahmad bin Hanbal, Ahmad bin Nashr Al-Khuza’iy, Muhammad bin Nuh, Nu’aim bin Hammad, Al-Adzromy. Diantara ulama yang tidak mau menjawab (sesuai yang diinginkan) namun tidak sampai disiksa seberat orang-orang yang sebelumnya (kelompok pertama -pent) adalah: Abu Nu’aim Ibnu Dukain, ‘Affan, Yahya Al-Hammaany, Isma’il Ibnu Abi Uwais dan Abu Mush’ab keduanya Al-Madany, mereka dalam kelompok yang sedikit. Mayoritas ulama menjawab sesuai yang diinginkan dalam keadaan terpaksa, seperti Abu Nashr At-Tammar, Ibnul Madiny, Ibnu Ma’in dan Abu Khaitsamah, semoga Alloh mengampuni kita dan mereka”. [Thobaqohul Fuqoha’ Asy-Syafi’iyyah: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Abu ‘Amr Al-Mustamly Rahimahulloh mengatakan: “Kami menghadiri majlis Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhly. Maka dia membacakan surat Al-Buwaithy yang sampai kepadanya, pada surat tersebut terdapat: “Yang aku minta kepadamu agar engkau menyampaikan keadaanku kepada saudara-saudara kita ahlul hadits, semoga Alloh bisa membebaskanku dengan do’a mereka. Sesungguhnya aku terikat besi, dan aku lemah untuk menunaikan kewajiban berupa thoharoh dan sholat”. Maka orang-orang riuh dengan tangisan dan do’a untuknya”. [Tarikh Islam karya Imam Adz-Dzahaby: Biografi Imam Al-Buwaithy]

Ar-Robi’ bin Sulaiman Rahimahulloh mengatakan: “Aku melihat Al-Buwaithy di atas Bagal (peranakan kuda dengan keledai) di lehernya terdapat belenggu, di kedua kakinya (juga) terdapat belenggu, serta antara belenggu di leher dan di kaki terdapat rantai besi yang padanya terdapat batu yang beratnya empat puluh pound. Beliau mengatakan: “Sesungguhnya Alloh menciptakan makhluk dengan (كُنْ) (jadilah!). Apabila kata tersebut adalah makhluk maka makhluklah yang menciptakan makhluk. Demi Alloh aku akan meninggal di besiku ini, sampai datang setelahku suatu kaum yang mengetahui bahwa telah meninggal suatu kaum dalam masalah ini pada besi-besi mereka. Seandainya aku masuk kepadanya -yakni Al-Watsiq- niscaya aku membuatnya membenarkan”.

Beliau menulis surat kepadaku dari penjara: “Sesungguhnya akan datang kepadaku masa-masa aku tidak merasakan besi ada di badanku sampai tanganku menyentuhnya. Apabila engkau membaca suratku ini maka perbaikilah akhlakmu bersama orang-orang yang ikut halaqohmu, sambunglah hubungan baik dengan ghuroba’ (orang-orang asing dari kalangan penuntut ilmu) secara khusus”. [Tarikh Baghdad wa Dzuyulih, Siyar A’lamin Nubala’: Biografi Imam Al-Buwaithy]


BADAI ITU TERUS MENDERU


Lebih seribu tahun berlalu, generasi berganti namun ahlul hadits tetaplah satu. Mereka tetap sibuk berkecimpung dalam memahamkan umat akan ilmu syari’at yang murni, membantah pengikut hawa nafsu dan kesesatan, agar yang lain tidak terjerumus. Penggantian di kalangan mereka pun terus berlanjut seiring berlalunya masa.

Diantaranya, pergantian itu terjadi di tempat -yang tidak dipungkiri- yang merupakan salah satu pusat pembelajaran ilmu syari’at yang dirintis Imam Al-Wadi’iy, seseorang yang dahulunya ingin pulang ke kampungnya untuk mengasingkan diri dan mendidik keluarganya namun Alloh membukakan dakwah lewat tangannya sehingga didatangi para pencari ilmu dari penjuru dunia.

Beliau -sebagaimana kebiasaan para pendahulu- memilih orang yang tepat untuk melanjutkan perjuangannya dalam membawa umat kepada kebaikan dan memperingatkan mereka dari kejelekan. Murid yang beliau pilih adalah Yahya Al-Hajury, seseorang yang beliau akui sendiri keilmuannya, akhlaknya, dan kekokohannya dalam memerangi para penyelisih sunnah.

Namun hari ini tak beda dengan hari yang lalu. Mesti ada yang tak senang akan penggantian itu, bahkan sampai mendatangi Imam Al-Wadi’iy di masa-masa sakit menjelang kematiannya untuk mengemukakan keberatannya, kenapa Al-Hajury yang diamanahkan untuk menduduki kursi di majelis?!! Namun apa hendak dikata, sang Imam berkata lirih: “Aku lebih mengetahui kondisi muridku”.

Sepeninggal sang Imam operasi tak berhenti. Berbagai makar terus berjalan, patah tumbuh hilang berganti, walau mesti berharap dia tewas di tangan musuh Islam yang berbuat arogan, walau harus mencari bahkan memaksakan untuk menuduhnya dengan sebuah kesalahan.

Segala puji bagi hanya bagi Alloh yang telah menganugerahkan kepada beliau kesabaran dan mengkaruniakan kepadanya sikap tawakkal (pemasrahan urusan) kepada Robbul ‘Alamin. Inilah yang terpancar dari amalan dan perkataannya, Allohlah yang lebih mengetahui apa yang ada di hatinya.

 

SESUATU YANG MUNGKIN PANTAS DIJADIKAN SEBAGAI RENUNGAN


Para salaf tidak mengajarkan kita untuk menggantungkan diri pada perkataan dan pendapat seseorang, sebagian ataupun mayoritas orang. Akan tetapi kepada Al-Qur’an dan Sunnahlah kita bergantung. Penggantungan keyakinan kepada pendapat orang-orang bukanlah didikan salafus sholih, justru ciri ini tampak nyata pada perilaku ahlul bid’ah yang menyelisihi jalan mereka. Tidaklah orang-orang itu menyimpang melainkan karena mereka lebih mengedepankan pendapat tokoh panutan mereka ketimbang aturan yang ditetapkan dalam syari’at.

Selama namanya manusia -kecuali yang dirahmati Alloh-, tidak ada yang bisa selamat dari serangan hawa nafsu, entah itu awam atau ulama. Alloh telah menghikayatkan perkataan istri Al-Aziz[2]:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيم

“Aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Robbku. Sesungguhnya Robbku Ghofur (Maha Pengampun) dan Rohiim (Maha Pemberi Rahmat)”. (QS Yusuf 53)

Kebenaran dalam syari’at ini tidaklah bisa berubah. Apa yang dahulu merupakan sebuah kebenaran, akan tetap menjadi kebenaran sampai hari kiamat. Akan tetapi manusialah yang sikapnya bisa berubah-ubah.

Apabila seseorang mempertahankan hawa nafsu yang sudah terlanjur terbenam di hati, mau tidak mau dia mesti membela kesalahan yang dahulu dia ingkari dan menentang kebenaran yang terasa tak pas di hati, sadar tidak sadar dia mesti berusaha menyamarkan kebenaran menjadi sebuah kesalahan dan kesalahan menjadi kebenaran, karena kebenaran yang hakiki tidak akan menjadi penolong bagi hawa nafsunya.

Karena itulah pertentangan sikap dalam menghadapi dua kasus yang sama (misalnya: Pada amalan dan alasan yang sama, kalau teman atau pendukungnya yang melakukan dibiarkan saja bahkan dibela. Apabila yang melakukan adalah orang lain maka disalahkan) merupakan ciri bahwa orang tersebut sedang tidak bertindak di atas jalan ahlussunnah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh mengatakan: “Barangsiapa yang menempuh jalan ahlussunnah maka akan lurus perkataannya, dan dialah ahlul haq, istiqomah (kelurusan) dan i’tidal (kesetimbangan). Kalau tidak (menempuh jalan ahlussunnah) maka akan terjadi kebodohan, kedustaan, kekurangan, dan sikap yang saling bertolak belakang”. [Minhajus Sunnah 4/313]

Kebenaran itu tak terkait masalah perselisihan fiqih saja, bidang yang banyak orang menampakkan jiwa kritisnya dan sanggup berhari-hari untuk mencari jalan keluar masalahnya. Kebenaran itu mencakup segala perkara, terkait masalah peribadahan kepada Alloh ataupun interaksi sesama manusia, terkait masalah pujian ataupun celaan. Memang setiap kelompok akan menyatakan bahwasanya kebenaran ada pada pihaknya, dan setiap penuduh akan membenarkan dakwaannya, namun apakah itu menjadi patokan sebuah kebenaran???

Kalaulah diberikan peluang kepada satu orang saja untuk bebas dalam memberikan tuduhan, bebas mengeluarkan keputusan tanpa menyertakan bukti, tentulah akan terbuka pintu kezholiman dan terjadi berbagai perpecahan. Dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu –beliau menyandarkan perkataan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam-:

لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيَدَعُ غَيْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم

“Tak ada seorangpun melainkan bisa diambil pendapatnya dan ditinggalkan, kecuali Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”. (HR Ath-Thobrony, dihasankan Syaikhuna Abu ‘Amr Al-Hajury di Al-Jami’ush Shohih fi Tauhidi Robbil ‘Alamin)

Karena itulah Imam Malik Rahimahulloh mengatakan: “Setiap orang bisa diambil dan ditolak (perkataannya) kecuali pemilik kuburan ini (yakni Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam)”.

Wahai orang-orang yang mengaku berjalan di belakang para Ahlul Hadits !

Bukanlah orang yang bersabar dalam menuntut pembuktian, seenaknya bisa dicap orang yang kaku, keras dan ingin memecah belah!

Bukanlah orang yang enggan berpaku dengan timbangan mayoritas, sesukanya divonis sebagai orang yang telah lepas dari Al-Jamaah!

Bukanlah orang yang tak mau menelan mentah-mentah pendapat Syaikh Fulany, serta-merta dikatakan sebagai orang yang tak beradab dengan ulama!!

Kaidah dari mana ini??!! Hendaknya kalian takut merumuskan sesuatu yang baru di atas agama ini dari otak-otak dan perasaan kalian!!

Wahai orang-orang yang mengaku berjalan di belakang para Ahlul Hadits !

Sungguh kita sangat butuh kepada ulama yang kokoh dan sabar dalam menampakkan kebenaran, tegar dalam menghadapi ancaman pelaku kesesatan, baik dengan lisan, tulisan ataupun anggota badan. Rosululloh Shollallohu Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Umat-umat (kesesatan dan kekafiran) akan mendekat kepada kalian, mereka saling memanggil (untuk memerangi kalian) sebagaimana orang-orang yang mau makan saling memanggil kepada nampan besar mereka”.

Seseorang berkata: “Apakah karena sedikitnya kita (umat Islam) ketika itu wahai Rosululloh?”.

Beliau menjawab:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ

“Bahkan kalian (umat Islam) ketika itu banyak, akan tetapi kalian adalah buih, seperti buih yang ada di air bah. Alloh akan mencabut rasa segan terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Alloh akan menanamkan wahn di hati-hati kalian”.

Seseorang berkata: “Wahai Rosululloh, apa itu wahn?”.

Beliau menjawab:

حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Kecintaan terhadap dunia dan kebencian terhadap kematian”. (HR Abu Daud dari Tsauban Rodhiyallohu ‘Anhu, dishohihkan Syaikh Al-Albany)

Banyak yang berkoar di masa lapang, namun berapa banyak yang tegar ketika musuh menghadang? Justru banyak kita temukan -wallohul musta’aan- orang-orang berbaju keilmuan tidak membantu mengokohkan perjuangan bahkan berupaya untuk menyakiti dan melemahkan, Na’udzu billahi minal Khuzlaan.


Wahai orang-orang yang mengaku berjalan di belakang para Ahlul Hadits !


-Sebagaimana pesan Imam Al-Buwaithy di atas- Bantulah para ulama yang kokoh di atas sunnah, dengan do’a-do’a kalian. Semoga dengannya Alloh menyelamatkan mereka dari berbagai makar dan tipu daya dari orang-orang hanyut terbujuk rayuan syaithan.

 

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

 

Ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Minangkabawy Saddadahulloh

25 Jumadil Awwal 1434 H, Darul Hadits – Dammaj – Yaman


[1] Ar-Robi’ bin Sulaiman bin ‘Abdil Jabbar Al-Murody, kuniyahnya Abu Muhammad. Seorang Imam, Muhaddits, faqih kabiir (pembesar ilmu fiqh), murid Asy-Syafi’i dll. Salah satu guru Imam Abu Daud, Ibnu Majah dan An-Nasa’iy. Ar-Robi’ berkata: “Setiap muhaddits yang meriwayatkan hadits di mesir sepeninggal Ibnu Wahb, maka akulah yang mendiktekan (hadits) kepadanya”. [Siyar A’lamin Nubala’, Tahdzibul Kamaal: Biografi Imam Ar-Robi’ bin Sulaiman Al-Murody]

[2] Sebagian ahli tafsir menyandarkannya kepada Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam padahal konteks kisah dalam ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa itu bukanlah perkataan beliau. Inilah pendapat yang dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. (Lihat diantara alasannya: Majmu’ul Fatawa 10/ 298)

 

 

Sumber: ahlussunnah.web.id di re-post khusus untuk ISLAMIC ZONE https://thibbalummah.wordpress.com/

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di BIOGRAFI SALAFI, Manhaj Ahlus Sunnah, Nasehat, Realita Ummat dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.