(Audio + Teks Terjemahan) Nasehat Yang Luhur & Membangun untuk Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al-Madkhali ~hafidzhahullah~ [BAG.2 -selesai-]

baru4

Jawaban sekaligus nasihat serta teguran untuk Syaikh Rabi’ Al-Madkhali yang berkaitan dengan tahdzirannya yang tidak benar terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri ~hafidzahumalloh~

 

Audio Suara:

Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظه الله 

(diterjemahkan berdasarkan naskah tertulis yang telah disempurnakan langsung oleh Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh menjaga beliau-)

  

Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilalloh:

  • Abu Fairuz Abdurohman Al Jawiy Al Indonesiy 
  • Abu Umar Ahmad Rifa’iy Al Jawiy Al Indonesiy

-semoga Alloh memaafkan keduanya-

Judul Asli:

“An Nushhur Rofi’ ‘Ala Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Robi’”

(Al Juz’uts Tsani)

Judul Terjemah bebas:

“Nasihat Yang Bernilai Tinggi Untuk Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al Madkholi”

(bagian kedua dari dua bagian -selesai-)

line

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Penerjemah

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد

Sesungguhnya segala puji bagi Alloh ta’ala yang memberkahi usaha kami untuk menyelesaikan terjemah “An Nushhur Rofi’ ‘Ala Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Robi’” (Al Juz’uts Tsani), dan ini adalah bagian kedua/akhir dari rangkaian terjemah tersebut.

kami menerjemahkan ini bukan dalam rangka persaingan akan tetapi menjalankan niat sejak awal untuk menyebarkan kebaikan dan memenuhi permintaan yang ditujukan kepada kami untuk membantah para ahli ahwa yang memakai ketergelinciran para ulama untuk menghantam dakwah salafiyyah. Selanjutnya kami persilakan para pembaca apakah memilih untuk membaca terjemahan kami ataukah terjamahan saudara-saudara yang lain.

Jika ada yang bertanya: “An Nushhur Rofi’” juz pertama itu kapan?

Jawabnya: itu adalah ceramah Asy Syaikh Yahya حفظه الله pada malam Jum’at, 10 Syawwal 1432.

Adapun untuk yang juz dua adalah yang kami terjemahkan sekarang ini, ceramah pada malam senin, 6 Jumadal Ula 1434 H

Selamat menyimak, semoga Alloh memberkahi dan memberikan taufiq pada kita semua.

line

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dan sekarang dia harus dipaksa untuk mengganti uslub (metode, langkah)nya.”

Syaikh Yahya menjawab: “Semoga Alloh memberi Anda taufiq wahai Syaikh. Perkataan Anda ini tidak benar. Demi Alloh, Anda tidak bisa memaksaku dan sayapun tidak bisa memaksa Anda. Dan demikian itu bukanlah jalan dari para nabi, tidak pula jalan para ulama yang kita menimba ilmu dari mereka. Bahkan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman kepada nabi-Nya:

﴿فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ﴾[الغاشية21- 22:]

“Maka berilah peringatan, tidaklah engkau melainkan seorang pemberi peringatan.  Engkau tidak bisa untuk memaksakan kehendak terhadap mereka.” (QS. Al Ghosyiah:21-22)

Nasehat lebih baik daripada pemaksaan, Anda memberi nasehat dan sayapun memberi nasehat, saling menyayangi dan menjalin ukhuwah, lebih baik daripada memaksa dengan kekuatan.

Wahai syaikh, banyak negara tidak bisa memaksa orang sesuai yang mereka kehendaki. Wahai Syaikh, menurut saya Anda sendiri tidak bisa memaksa anak Anda bila dia tidak patuh kepada Anda. Dan saya, –demi Alloh–  tidak bisa memaksa anak saya apabila dia tidak patuh. Saya ini adalah pemegang dakwah yang tidak mungkin Anda ingkari itu, tidak pula selain Anda. Bagaimana Anda memaksa saya, sedangkan di belakang saya beribu-ribu orang mengikuti, yang mereka semua –segala puji hanya untuk Alloh– berada di atas sunnah. Bila Anda mengucapkan satu kata saja, niscaya mereka membalas dengan lebih banyak. Demi Alloh, saya sekarang menahan bantahan-bantahan di dada-dada mereka .

Bagaimana bisa Anda memaksaku? Ini tidak benar. Semoga Alloh memberi barokah dan taufiq kepada Anda

﴿فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ﴾[الغاشية21- 22:]

“Maka berilah peringatan, tidaklah engkau melainkan seorang pemberi peringatan.  Engkau tidak bisa untuk memaksakan kehendak terhadap mereka.” (QS. Al Ghosyiah:21-22).

{ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ} [العصر: 3]

“Dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.”

[Adapun perkataan:] “Harus dipaksa!, harus begini!,” ini tidak benar.

Anggaplah Anda –semoga Alloh memberi keselamatan kepada  kami dan kepada Anda– telah mendorong beberapa orang dari saudara-saudaraku untuk memberontak terhadap saya, baik dari orang-orang yang dulu belajar di sini, ataupun orang-orang yang terpengaruh mereka, inipun juga sesuatu yang tidak benar, bila Anda menginginkan dengan mereka supaya bisa menekan saya dengan Syaikh Fulan dan Syaikh Fulan, agar saya berkata demikian dan demikian, tidak benar, demi Alloh. Ini hanya akan menambah mereka semakin jauh tersesat.

Kita tidak belajar demikian dari para ulama kita, demi Alloh,  memaksa fulan untuk berbuat demikian, dan memaksa yang lain untuk berbuat demikian! Bahkan sebaliknya kita belajar berlemah lembut;

«فإنه لم يكن في شيء إلا  زانه ولم ينزع من شيء إلا شانه »

“Sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada sesuatu kecuali membaguskannya, dan tidak tercabut dari sesuatu kecuali menjelekkannya.” Al hadits

Dan Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَن﴾ [الإسراء:53]

“Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu supaya mereka berkata dengan kata-kata yang paling baik.”

Adapun kata “paksa” itu tidak lain keluar dari beliau dalam keadaan emosi, semoga Alloh memaafkan Anda wahai Syaikh.”

Kata pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Apabila terus-menerus dalam melakukan uslubnya ini, niscaya akan menimbulkan suatu fitnah yang tidak ada bandingannya.”

Syaikh Yahya menjawab: “Wahai saudaraku, uslubku dan dakwahku semuanya -demi Alloh- berdasarkan kitab dan sunnah. Inilah yang saya yakini dan saya ketahui, dan saya tidak terlepas dari kesalahan.  

Lalu apa yang Anda maksud dengan uslub yang salah yang Anda ingin memaksa saya untuk meninggalkannya, menurut persangkaan Anda. Apakah maksudnya supaya saya tidak membantah ‘Ubaid? Saya akan membantah. Apakah yang Anda maksud supaya saya tidak membantah Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy, yang muqoddimah kitabnya “Al Qoulul Mufid” masih menampilkan para sufiyyah dan mu’tazilah, dan yang menuduh kami sebagai ahlul bid’ah, dan bahwasanya kami menyelisihi sekian ayat, dan Islam berlepas diri dari kami, dan kami berlepas diri dari Islam, dan perkataan-perkataan yang lain yang menjurus kepada pengkafiran.

Saya tegaskan kepada Anda, jangan memakai kaidah Al Banna (Hasan Al Banna, pent) wahai Syaikh, “Kita saling menolong pada pada apa-apa yang kita bersepakat padanya, dan kita saling memaklumi terhadap apa-apa yang kita berselisih padanya“.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah melakukan kejahatan terhadap kami, mendholimi dakwah, ta’ashshub (fanatik buta) terhadap orang yang telah saya sebutkan, dan sebagainya. Semua itu telah mengakibatkan bergejolaknya kemarahan Anda. Mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan kejahatan. Dan sungguh –demi Alloh–  sebagian dari mereka mengatakan, sebagaimana saya dengar dari seseorang yang mengabarkan kepadaku: “Benar-benar aku akan mengadu domba antara Al Hajuri dengan para ulama”. Saya –demi Alloh– tidak suka dengan seperti ini, bahkan saya ingin supaya para ulama menjadi saudara-saudaraku, para pembelaku, para penolongku dan menjadi orang-orang yang saya tuakan, berdakwah kepada Alloh, mereka membantu saya dan saya membantu mereka.

﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ﴾ [المائدة: 2]

“Dan saling membantulah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian bantu membantu dalam dosa dan permusuhan”.

Tetapi fitnah datang dari orang-orang tersebut. Merekalah yang menyebabkan timbulnya fitnah dan juga disebabkan oleh orang-orang yang ingin menyalakan fitnah, bukan saya sama sekali. Mereka itu hendaknya diberi nasehat. Dan semua hendaknya menghadap kepada urusannya masing-masing. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

{وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ} [التوبة: 105]

“Niscaya Alloh dan rosul-Nya akan melihat amalan kalian.” (QS. At Taubah:105)

﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ﴾ [الأنبياء: 94]

“Maka barangsiapa beramal dengan kebaikan-kebaikan sedangkan dia beriman, tidak akan diingkari jerih payahnya. Dan kami akan mencatatnya.” (QS. Al-Anbiya:94)

Adapun serangan yang membabi buta ini terhadap kami, dan dikatakan itu akan menyebabkan terjadinya fitnah. Tidak, saya bukan penyebab fitnah, saya berlepas diri kepada Alloh dari fitnah, akan tetapi saya akan membela diri dan membela dakwah ini semampu saya. Dan saya berlindung kepada Alloh dari semua fitnah, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi. Kemudian bila kita diuji dengan fitnah apa saja yang melanda kita, maksudnya seperti tuduhan ini, wajib bagi kita untuk menjelaskan kesalahannya.

Fitnah ini tidak berasal dari saya, yang menanggung dosanya adalah orang yang berusaha untuk menyalakan fitnah tersebut di antara manusia.

Yang kedua: hendaknya dia diberi nasehat atas kesalahan-kesalahan yang dituduhkan kepadanya, karena sekarang kesalahannya telah tertulis dalam satu jilid, dan dijelaskan oleh orang banyak tentang kesalahan-kesalahan dia, dengan berbagai macam bentuknya. Hendaknya dijelaskan kesalahan-kesalahan dia itu.

Bagaimana kalian mencari-cari kesalahan saya? Dikumpulkan oleh murid-murid kalian, dari sejak fitnah Abul Hasan, kemudian diambil oleh yang setelah mereka, demikian seterusnya. Juga sejak jaman situs Al Atsariy, menelusuri kesalahan dari risalah ke risalah yang lain, dari kitab ke kitab dan dari kaset ke kaset, barangkali bisa menemukan suatu kalimat yang bisa dijadikan senjata untuk menyerangku dengan kalimat tersebut.

Dan kalian tidak mengajak mereka diskusi dan tidak menasehati mereka dalam kesalahan-kesalahan yang jelas dan terang yang akan mendatangkan bahaya bagi dakwah salafiyyah. Muqoddimah Al ‘Amroni masih terpampang di kitabnya (kitab Muhammad Al Wushobiy), sedangkan dia seorang mu’tazili, tidak berpendapat bahwa Al Quran itu makhluq atau bukan makhluq, dan mengambil pendapat Mu’tazilah dalam masalah ru’yah; yaitu melihatnya orang-orang yang beriman, Robb mereka pada hari kiamat. Juga muqoddimah sebagian sufiyah yaitu Ath Thussiy, siapakah itu Ath Thussiy, sehingga muqoddimahnya masih ada di kitabnya? Kemudian dia (Wushobiy) menuduh dan menyerang kita wahai ahlussunnah, sementara keadaan mereka (yang jelas ahlul bid’ah, pent) tak terusik sama sekali. Memberikan muhadhoroh di depan orang-orang hizbi dan melukai wajah kita. Usahanya dalam mengadu domba antara sesama ahlussunnah sangat jelas, dan fitnahnya amat besar.

Ya, dia juga menuduh beberapa ulama sebagai intel, kemudian setelah melakukan ini semua wahai ikhwan, setelah dia menuduh ulama sebagai mata-mata, tiba-tiba dia mengadakan perjanjian damai untuk bekerjasama menyerang kita.

Kita tidak pernah mengenal yang seperti ini, yang kita kenal adalah kita menasehati setiap muslim. Apakah engkau diam dari kesalahan orang ini supaya dia mau untuk menyerang orang lain?

Berilah kritikan bagi siapa saja yang kamu lihat melakukan kesalahan demi untuk menolong agama Alloh.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Aku sudah menasehatinya berulang kali, Terkadang aku menasehatinya selama dua setengah jam.”

Syaikh Yahya menjawab: “Demi Alloh, memang pernah suatu ketika beliau menelpon,menelpon dan terputus, yaitu apa, menelpon lama sekali, demi membicarakan masalah Al Adaniy. Al Adaniy telah membuat lelah dakwah dan menimbulkan fitnah. Beliau berpendapat bahwa dia bukan hizbi, sedangkan saya berpendapat dia hizbi dan kebenaran ada bersamaku dalam masalah ini, karena saya telah menjelaskan dan menyebarkan penjelasan tersebut. Dan orang yang hadir melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir. Dan perpecahan dakwah kalian karena sebab dia adalah sebesar-besar ghuluw terhadap seseorang.

Beliau berusaha untuk meyakinkanku, namun saya tidak bisa untuk menerimanya. Hubungan lewat telepon ini memang berlangsung sekitar dua jam, tapi hanya membicarakan masalah ini saja. Adapun Syaikh Robi’, tidak ada permasalahan antara saya dengan beliau sama sekali kecuali permasalahan Al Adani saja. Permasalahan ini semua adalah serangan demi Al Adani dan orang-orang yang bersamanya. Mereka melancarkan pukulan dalam dakwah salafiyyah dengan dalih mengapa saya mengatakan dia hizbi!!

Pembaca lembaran berkata: Syaikh Robi’ berkata: “Sedangkan dia tidak mendengarkan. Berjanji dan tidak menepati janji-janjinya.”

            Syaikh Yahya menjawab: ”Tak pernah –demi Alloh– sekalipun saya tidak pernah tahu bahwa saya berjanji dan tidak menepati janjiku, karena menepati janji adalah perkara yang diperintahkan dalam syariat. Maka perkataan, “Berjanji dan tidak menepati janji-janjinya” ini saya tidak pernah tahu dan tidak benar.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dan murid-muridnya ghuluw (berlebih-lebihan, ekstrim) tidak ada bandingannya.”

Syaikh Yahya menjawab: “Dan ini demi Alloh adalah suatu kesalahan. Saya mengingatkan beliau untuk bertakwa kepada Alloh azza wa jalla. perkataan seperti ini tidak bisa di terima di kalangan orang-orang sholeh, bahkan perkataan ini adalah suatu kesalahan yang akan mendatangkan bahaya bagi yang mengucapkannya.

﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾ [الإسراء: 53]

“Dan katakanlah kepada hamba-hambaku supaya mereka berkata dengan kata-kata yang paling baik.” (QS. Al Isro:53)

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾ [الأحزاب: 70]

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. Al Ahzab:70)

Murid-muridku kebanyakan adalah murid Syaikh (Muqbil) –rohimahulloh– yang masih tetap belajar di sini, sebagian ada yang tinggal selama sepuluh tahun, sebagian lagi kurang dari itu dan sebagian yang lain lebih dari itu. Dan murid-muridku juga, Anda sekalian mengetahui –dan segala puji hanya untuk Alloh– kebaikan yang ada pada mereka, dan kebencian mereka semua terhadap sikap ghuluw dan terhadap kemungkaran yang lain. Dan apabila terjadi dari salah seorang mereka sikap ghuluw, serampangan atau penyelisihan, maka saya, Anda dan seluruh orang-orang sholeh menasehatinya, baik orang tersebut ada di tempatku atau di tempat lain. Dan tidak bisa sesuatu yang baik dinisbatkan kepadanya kesalahan tersebut.

Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang berbuat kesalahan. Akan tetapi tuduhan seperti ini terhadap thullab, baik laki-laki, perempuan, masyayikh, dakwah beserta ribuan orang di Dammaj dan ribuan di luar Dammaj, baik dari murid-murid saya atau murid-murid Syaikh Muqbil yang terdahulu, mereka semuanya berbuat ghuluw??!!

Bahkan sebenarnya tuduhan inilah yang ghuluw. Perkataan yang benar harus disampaikan. Demi Alloh tuduhan semacam ini terhadap orang-orang yang sedemikian halnya itulah ghuluw yang keterlaluan, yang maknanya adalah membid’ahkan secara keseluruhan. Karena salah satu bid’ah yang teramat sangat adalah ghuluw.

Kita berlepas diri kepada Alloh dari sikap ghuluw –demi Alloh– tapi kemudian kita dituduh dengan itu??!!

Dan Syaikh (Robi’) sendiri ketika Abul Hasan Al Mishriy menuduh kita dengan ghuluw dan haddadiyah, beliau berkata: “Mana hujjah (alasan)mu bahwa mereka adalah kaum yang begini dan begitu?” Bahkan beliau memuji kita dengan benar. Namun tatkala para pengadu domba itu menukil dari kita kepada beliau sesuai dengan yang mereka inginkan, berbalik untuk mereka  pembelaan yang dulu beliau dengannya membela kita dari tuduhan Abul Hasan. Demi Alloh, perkataan beliau tersebut adalah ghuluw, yaitu membid’ahkan suatu ummat salafiyyah tanpa bukti.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Yaitu, imam ats tsaqolain (imam jin dan manusia)… imam ats tsaqolain… An Nashihul Amin (pemberi nasehat yang terpercaya)… An Nashihul Amin”

            Syaikh Yahya menjawab: “Saya katakan kepada Anda, bahwa kata-kata ini –barokalloh fikum– tidak bisa dinisbatkan kepada saya. Imam ats tsaqolain!!, dan saya tidak pernah meyakininya, tidak pernah pula menganggap itu benar, tidak dulu dan tidak pula sekarang. Orang-orang yang hadir semuanya mendengar.

Terjadi ketergelinciran dari seorang penyair kemudian dia bertaubat darinya, dan taubat diterima walaupun dari khowarij, apalagi dari selain mereka. Meskipun demikian mereka masih saja mengulang-ulangnya, imam ats tsaqolain. Saya tidak pernah membenarkannya dan bahkan saya punya penjelasan khusus tentang ini, tersebar di internet menjelaskan bahwa itu adalah salah. Dan saya tidak senang dengan ghuluw baik terhadap saya atau terhadap selain saya.

Saya memohon perlindungan kepada Alloh. Kami meyakini perkataan Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam– :

»لا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ الله ورَسُوْلُهُ فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ«

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menyanjungku sebagaimana nashoro berlebih lebihan dalam menyanjung ‘Isa bin Maryam, karena sesungguhnya aku adalah hamba Alloh dan rosulNya, maka katakanlah, “Hamba Alloh dan Rosul-Nya”.

Dan ketika sebagian ada yang mengatakan kepada beliau:

«يا سَيِّدَنا، وابْنَ سيِّدِنا، وخَيْرَنا، وابْنَ خَيْرِنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا أيها الناس، قُولَوا بِقَوْلِكُمُ الأَوَّلِ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكم الشَيْطانُ«

“Wahai tuan kami dan anak tuan kami, wahai yang paling baik di antara kami dan anak orang yang paling baik di antara kami. Maka Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– berkata: “Wahai sekalian manusia, berkatalah dengan perkataan kalian yang pertama, jangan sampai syaithon mencelakakan kalian.”

Dan dalil-dalil yang lain.

Ya, maka perkataan seperti ini –demi Alloh– bukan dari perkataanku dan saya tidak membenarkannya, tidak pula dahulu.

Terkadang mungkin pikiran saya sedang sibuk dari mendengarkan qoshoid (syi’ir), sehingga seorang penyair membaca syi’irnya di depanku kemudian pergi begitu saja, maka apabila setelahnya saya diingatkan tentang adanya kesalahan,  baru saya ingatkan dia. Dan saya telah mengingatkan penyair itu bahwa perkataan seperti ini salah, kemudian dia menghapusnya dan ruju’ darinya.

Mengapa kalian masih mengungkit-ungkit masalah ini?

Maksud mereka adalah mencari-cari sesuatu yang dengannya bisa membuktikan adanya ghuluw. Demikianlah, carilah untuk mereka sesuatu yang dengannya bisa membuktikan adanya ghuluw. Tidak ada, tidak ada.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “An Nashihul Amin, ghuluw…ghuluw…ghuluw”

Syaikh Yahya menjawab: “Adapun kalimat An Nashihul Amin, demi Alloh ini adalah kalimat yang diucapkan oleh Syaikh (Muqbil) –rohimahulloh– karena husnudzon beliau terhadap saya. Dan segala puji hanya untuk Alloh. Semoga Alloh memberi taufiq kepada saya untuk memberikan nasehat kepada kaum muslimin, dan saya memohon kepada Alloh agar menjadi seorang yang bisa dipercaya dalam memikul amanah.

Dan saya demi Alloh tidak menyukai sikap berlebih-lebihan. Saya sudah mengatakan kepada banyak orang, “Wahai saudaraku, hapuslah tulisan ini, saya tidak mau dengan perkataan seperti ini, singkirkanlah karena saya tidak menyukainya.”

Kalimat An Nashihul Amin ada asalnya, karena amanah ada pada orang-orang sholeh, demikian juga nasehat ada pada orang-orang sholeh. Ini poin yang pertama.

Sisi yang kedua, bahwa kalimat tersebut ada asalnya, adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelum hadits yang paling akhir dari “shohih Al Bukhoriy” kitab At Ta’bir, Al Hafidz berkata, “Dan dari hadits tersebut (disimpulkan) bahwa tidak boleh untuk menakwil mimpi kecuali seorang yang ‘alim, nashihun amin, dan dicintai”, demikian disebutkan dalam syarah hadits.

Juga At Tustari, disebutkan dalam biografinya di kitab “Hilyah” milik Abu Nu’aim: “Beliau adalah seorang yang nashih (pemberi nashehat) amin (yang terpercaya).”

Dan Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– berkata tentang Abu Ubaidah: “Dia adalah orang yang paling dipercaya dari ummat ini.” Dan sebagainya.

Demikian bila masalah ini dikembalikan ke asal muasalnya. Adapun tentang apakah saya senang dengan seperti ini, demi Alloh saya tidak menyukainya, saya suka untuk menjadi seorang yang tawadhu’, tenang dan tidak membuat ribut.

Anda sendiri, barangkali Anda disanjung dengan sebutan-sebutan yang lebih dari itu, maka mengapa serangan itu diarahkan kepada saya?

Manusia menyenangi siapa saja yang mengajarkan kebaikan kepada mereka. Terkadang sebagian dari mereka berlebihan dan sebagian yang lain mengurangi. Dan kesalahan bisa dirujuk kembali. Semoga Alloh memberi taufiq kepada kita semua.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dakwah Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al Albani tidak seperti itu.”

Syaikh Yahya –semoga  Alloh memuliakannya–: “Dan dakwah ini pun tidak seperti yang Anda bayangkan sekarang berbeda dengan apa yang anda kenal dahulu. Tidak dulu dan tidak pula sekarang, dakwah ini tidak seperti itu. Dan kesalahan yang dilakukan oleh seorang dua orang kemudian bertaubat darinya, tidak seharusnya diungkit-ungkit seperti itu, tidak boleh untuk diungkit-ungkit.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Pergilah kalian, nasehatilah dia, jangan kalian memukul genderang untuknya (maksudnya memberi semangat, pent), jangan bertepuk tangan untuknya,  bersikaplah yang jantan kepadanya!”

Syaikh Yahya menjawab: “Bukankah ini artinya beliau mendorong untuk memberontak, wahai ikhwan? Siapakah yang ridho dengan seperti ini? Siapakah yang ridho dengan seperti ini? Demi Alloh Syaikh (Robi’) sendiri tidak mungkin ridho untuk diperlakukan seperti ini, tidak pula seorang alim ridho bila dirinya diperlakukan seperti ini. Sampai bahkan seorang tentara, tidak ridho bila diperlakukan dalam kesatuannya dan pribadinya, apalagi sebuah dakwah.

Sekarang Anda ridho mereka yang banyak itu memberontak kepada saya. Saya mengeluhkan usaha untuk menyalakan pemberontakan ini sejak tujuh tahun yang lalu. Dan –demi Alloh– ini tidak boleh, wahai Syaikh. Dan saya pasti akan menuntut Anda di hadapan Alloh dengan permasalahan ini dan permasalahan yang lain. Saya ini berdakwah kepada sunnah –demi Alloh–. Saya disakiti karenanya, dan saya bersabar untuknya, saya menanggung beban yang banyak. Dan saya kira Anda sekalian mengetahui itu. Tidak –demi Alloh– tidak karena dunia dan tidak karena apa-apa. Dan saya tidak ingin untuk meninggikan diri di dunia, tidak pula untuk membuat kerusakan. Akan tetapi karena Dakwah ini. Tapi kemudian dikatakan: “Bangkitlah kalian memberontak kepadanya!! Jangan memukul genderang untuknya!” Siapa yang memukul genderang?

Mereka itu adalah dai-dai yang menyeru ke jalan Alloh azza wa jalla, apakah mereka disifati dengan sifat seperti ini!!? Mereka berani membantah syaikh Robi’, apalagi membantah Yahya. Mereka membuat bantahan untuk Syaikh Robi’. Sekarang ini di rumahku sudah bertumpuk beberapa risalah, dan mereka mengatakan: “Kami akan membantah (Syaikh Robi’) karena ini adalah sesuatu yang salah,” apalagi (membantah) Yahya. Ya, membangkitkan pemberontakan atas saya tidak boleh –barokalloh fikum–.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dia adalah orang yang paling berbahaya bagi dakwah salafiyyah, tidak ada seorangpun yang lebih berbahaya daripada Yahya.”

Syaikh Yahya: “La ilaha illalloh, wahai ikhwan sekalian, bukankah di sana ada Yahudi, ada Nashoro, ada Rofidhoh, ada bencana yang lain, semuanya melancarkan peperangannya terhadap dakwah salafiyyah. Saya paling berbahaya dibanding mereka semua??!! Bukankah sudah saya katakan bahwa ini adalah ghuluw, wahai ikhwan, ya, demi Alloh itu adalah ghuluw yang membuat kulit merinding??

Sekarang Syaikh mengingkari ghuluw, dengan dalih bahwa beliau membenci ghuluw dan ingin untuk menyatukan kalimat. Apakah seperti ini wahai syaikh merupakan penyatuan kalimat dan upaya untuk itu? Apakah yang seperti ini wahai Syaikh adalah pengingkaran terhadap ghuluw?

Demikian juga Al Adani mengatakan bahwa dia (Al Hajuri) adalah orang yang paling fajir, tidak ada yang lebih fajir dan lebih dusta (darinya). Ini demi Alloh adalah ghuluw.

Demikian pula ‘Ubaid berteriak dari sana sini sambil mengatakan, “Orang ini (Al Hajuri) kalau tidak bertaubat, penggal saja lehernya.”

Memang tadinya ada fatwa yang saya sampaikan, kemudian setelah itu saya menganggap pendapat yang lain lebih, masih di jilid yang sama selang beberapa halaman. Fatwa tersebut beberapa tahun yang lalu, isinya hampir sama dengan fatwa Syaikh Al Imam –semoga Alloh memberi beliau taufiq–. Meskipun demikian, mereka tidak menyalahkan Syaikh Al Imam, karena tujuan mereka bukan untuk sekedar mengkritik, yang mereka inginkan adalah Yahya, itulah sasaran mereka!!.

(Dia mengatakan:) “Orang ini kalau tidak bertaubat dari perkataan ini: bahwa diperbolehkan sholat di belakang rofidhoh, dan bahwasanya mereka bukan kafir, atau semakna dengan itu, kalau tidak, maka dipenggal lehernya.” Maknanya bahwa dia telah murtad seperti Hallaj, murtad dengan kalimat ini.

Baiklah, sekarang Syaikh Al Imam, mengatakan seperti itu juga, kenapa kalian tidak mengkritik dia? Bukankah sudah saya katakan tadi bahwa kalian memakai kaidah: “Saling membantu dalam hal-hal yang kita sepakat padanya dan saling memaafkan terhadap apa-apa yang kita berselisih padanya”??! kita seharusnya mengambil pelajaran dari firman Alloh ta’ala tentang Bani Isroil:

﴿كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة: 79]

“Mereka tidak saling melarang dari kemungkaran, amat buruklah apa yang mereka perbuat.” (QS. Al Maidah:79)

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Pokoknya Dammaj harus ditinggalkan, dan markiz-markiz (ma’had) yang lain di bawah kaki-kaki mereka”

            Syaikh Yahya: “Naudzu billah, ini Aden, ini Lahj, ini Hadhromaut, ini Maharoh, ini bagian selatan Yaman dan juga bagian utara, ini Tanzania, ini Ethiopia dan di banyak negara ada murid-muridku, mengajak kepada Alloh, untuk  mentauhidkan-Nya dan mengajak kepada Kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya. Bagaimana mungkin semuanya itu ditinggalkan, sedangkan di dalamnya ada kebaikan yang banyak seperti ini??!! Selain mereka juga dari orang-orang yang menegakkan kebaikan di negera yang bermacam-macam. Dan bila ada orang yang mengabarkan kepada kami bahwa dia berada dalam kebaikan maka saya puji dan saya sebut dengan sebutan yang baik. Dan saya tidak membicarakan seseorang –demi Alloh– kecuali apabila dia berbuat kejelekan, kedholiman dan berdusta terhadap dakwah ini, maka saya berhak untuk membela kebaikan ini. Dan semua muslim berhak untuk membelanya, karena ini adalah kebaikan bagi semua kaum muslimin, Anda juga wahai Syaikh dan selain Anda –demi Alloh–.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Semua markiz yang lain di bawah kaki, tidak ada artinya sama sekali kecuali Dammaj. Wahai ikhwan, kita mempunyai madrasah semuanya menyebarkan manhaj salaf, mengajak kepadanya dan membelanya, semuanya di bawah kaki (maksud beliau adalah Yahya). Tidak ada yang mengatakan kepadanya, “Kamu salah!” mereka hanya menyanjungnya dengan “An Nashihul Amin… An Nashihul Amin…”. Ini bukan akhlaq seorang salafi, tidak pula dari manhaj salafi. Dia tidak meninggalkan seorangpun. Dan sekarang tidak tersisa kecuali sedikit saja dari salafiyyin.”

Syaikh Yahya menjawab: “Negeri Yaman di dalamnya terdapat banyak salafiyyin –demi Robbku– ya, –demi Alloh– pergilah ke satu desa dari desa-desa yang ada atau kota dari kota-kota, niscaya Anda akan mendapatkan masjid salafi dakwah salafiyyah baik banyak atau sedikit. Tidak ada satu daerahpun kecuali di situ ada kebaikan (dakwah salafiyyah). Ini adalah suatu hal yang baik –demi Alloh–, jangan direndahkan wahai Syaikh –semoga Alloh memberi Anda taufiq–, ini merupakan suatu kenikmatan. Dan keutamaan hanya untuk Alloh, kemudian untuk ahlussunnah semua, termasuk Anda di antara mereka.  Ulama yang sebelum Anda atau setelahnya, Ibnu Baz, Al Albani, Al Utsaimin, Al Afauzan, Al Abbad, syaikh kami –rohimahulloh– dan seluruh ahlul ilmi dan seluruh ahlussunnah yang mengajak kepada paham salafiyyah. Ini adalah buah dari dakwah mereka. Tidak boleh di hinakan kebaikan ini, dikatakan tidak ada kecuali ini dan itu, hanya dengan sebab adu domba.

Semua ini saya katakan bahwa Syaikh –waffaqohulloh– tidak bisa memastikan sesuatupun darinya lebih dari bahwa semua pembicaraan beliau ini porosnya adalah fitnah Al Adani. Oleh karena itu salafiyyun adalah Al Adani beserta para pengikutnya dan yang terpengaruh dengannya, semua orang yang mendholimi kita adalah salafi dan setiap orang yang bersama kita dia adalah yang ghuluw.

La ilaha illalloh… La ilaha illalloh…

kami mengingatkan untuk bertaqwa kepada Alloh azza wa jalla,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾ [الحشر: 18]

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang dipersiapkan untuk hari esok. Dan bertqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan” (QS. Al Hasyr:18)

Ini salah wahai Syaikh, akan mendatangkan bahaya, demi Alloh. Membahayakan dakwah salafiyyah, membahayakan saya, membahayakan Anda, di dunia dan di akhirat, akan mengantarkan kepada akibat yang kurang baik. Orang-orang saling bertengkar, siapa yang akan menanggung? Ini tidak ada landasannya sama sekali dan tidak ada yang mengharuskan.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Sejumlah salafiyyin di ujung negeri dan sebagian dari thullab Dammaj di ujung yang lain, tidak ada salafiyyun kecuali mereka? Ini adalah ghuluw, tinggalkanlah ghuluw ini, tinggalkan!Syaikh Yahya: “Saya meninggalkannya jika memang ada pada saya dan Anda juga hendaknya meninggalkannya. Demi Alloh, kalau memang saya melakukan hal-hal yang ghuluw, wajib atas saya untuk meninggalkannya.

Adapun pembid’ahan massal yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab, dan juga dari Anda terhadap dakwah salafiyyah di Yaman dan permusuhan dengannya, maka hendaklah Anda tinggalkan.

Wahai akhi, jika perkataan anda ini untuk melemahkan kekuatan Dammaj, lalu dakwah salafiyyah yang manakah yang anda bela di Yaman, kalau bukan dakwah mar’iyyah. Kalau perkataan Anda untuk melemahkan pusat dakwah salafiyyah yang mereka itu  dahulunya belajar di sana dan selain mereka dari negara-negara Islam, maka dakwah salafiyyah apa yang Anda bela dengan dalih kecemburuan terhadapnya? semoga Alloh memberi Anda taufiq.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Syaikh Robi’ berkata: “Pergilah, katakanlah kepadanya: Bertakwalah kepada Alloh, katakanlah kepadanya: Kamu bukan imam manusia dan jin!”

Syaikh Yahya: “Demi Alloh, saya bukan imam manusia bukan pula imam jin.. Saya hanyalah pengajar bagi saudara-saudaraku. Dan Apa yang Alloh kehendaki pasti terjadi. Saya diberi cobaan dengan seperti ini, dan saya memohon kepada Alloh untuk memberi manfaat kepadaku, dan menjadikan saudaraku sekalian bermanfaat dan menjauhkan dari saya dan Anda semua fitnah dan mara bahaya. Semoga Alloh memberkahi Anda.

Tidak perlu untuk mendatangkan serangan-serangan kepadaku. Sudahlah, saya dari dulu sampai sekarang seperti yang ditunjukkan oleh hadits:

»إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ«

“Sesungguhnya Alloh mewahyukan kepadaku (memerintahkan) supaya kalian tawadhu’, sehingga tidak ada seorangpun yang membanggakan diri terhadap yang lain, dan tidak seorangpun berbuat jahat terhadap yang lain.”

Saya menyadari kadar diri saya dan segala puji hanya untuk Alloh. Dan bila ada seseorang yang mengatakan seperti ini tentu akan saya ingkari dan saya menganggapnya sebagai seorang yang salah.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Kamu bukan imam manusia dan jin, seperti yang didakwakan oleh pengikut-pengikutmu.”

Syaikh Yahya menjawab: “Kata “pengikut-pengikutmu” saya tidak menyukainya. Sebutlah dengan kata: saudara-saudaramu atau thullabmu atau murid-muridmu misalnya dan sebagainya. Adapun kata “pengikut-pengikutmu”, kita semua pengikut Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam–. Dan yang seperti ini tidak pernah didakwakan oleh saudara-saudaraku. Itu hanyalah kesalahan dari seorang penyair yang kemudian dia ruju’ darinya. Maka upaya membesar-besarkan permasalahan tersebut adalah sesuatu yang memang ada padanya maksud tertentu.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Setiap kali kami mendengar tentangmu selalu dikatakan: “Dia adalah imam Ats Tsaqolain… imam Ats Tsaqolain”

Syaikh Yahya menjawab: “Ini menunjukkan wahai Syaikh Anda hanya mendengarkan apa yang dinukil tentangku berupa kedustaan dan pencampurbauran  saja dan tidak mendengarkan sedikitpun tentang kebaikanku. Apabila semua yang Anda dengar hanya dari orang yang datang kepada Anda saja, maka ketahuilah bahwa –demi Alloh– mereka ini tidak menukil tentangku kecuali kejelekan saja. Tidak menukilkan tentang kebaikan, tidak pula tentang ilmu yang ada di sini. Dan apabila yang anda dengarkan hanya seperti ini saja, maka ini membuktikan bahwa orang-orang itu tidak menukilkan kepada Anda kecuali apa yang menyebabkan adu domba dan fitnah. Ini adalah kedholiman dan Alloh azza wa jalla berkata:

﴿ وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ﴾ [هود: 113]

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang dholim sehingga kalian akan terkena api neraka, dan tidak ada bagi kalian wali-wali selain Alloh, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Huud:113)

Pembaca lembaran: Kata penulis: Berkata Thullab dari Dammaj: “Wahai Syaikh, ini bukan dari Syaikh Yahya Al Hajuri, beliau tidak senang dengan ini, sesungguhnya yang mengucapkan itu dari thullab, itu dari penyair.”

Syaikh Yahya: “Dari penyair dan telah bertaubat. Dan kami katakan bahwa khowarij, khowarij diterima taubat mereka –demi Alloh– dan Alloh berkata:

﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾ [الشورى: 25]

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan dari kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy Syuro:25).

Maka mengungkit-ungkit hal itu adalah suatu penentangan terhadap kebenaran dan merupakan sikap ghuluw. Dan kisah Musa dan Adam ‘alaihimas salam telah kita ketahui bersama, yang di dalamnya disebutkan: “Maka Adam mematahkan hujjah Musa, maka Adam mematahkan hujjah Musa.”

Penyair tersebut salah dan telah ruju’ dari kalimat tersebut. Terjadi darinya ghuluw, dan memang sebagian penyair mengatakan bahwa syi’ir itu mengandung keangkuhan, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa syi’ir itu yang paling enak di dengar adalah yang paling dusta. Adapun kita mengatakan bahwa syi’ir yang paling enak didengar adalah yang paling benar. Kita meyakini kebenaran –demi Alloh– dan memperlakukan orang lain dengannya, (maka kita katakan terhadap yang salah) ini salah.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy: “Apakah dia menghardiknya atas perbuatannya itu?”

Syaikh Yahya menjawab: “Saya telah menasehatinya. Tidak diharuskan bagi setiap yang salah untuk dihardik. Manusia itu kalau engkau raupkan harta untuknya dengan gantang, tapi engkau menghinakannya, ingin untuk menekan dan memaksanya –demi Alloh– dia tidak akan senang dengan seperti itu, tidak pula mau untuk menerima dakwahmu. Akan tetapi apabila dinasehati dengan lemah lembut, inilah yang yang sesuai dengan petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.  Dan tujuan kita adalah menjauhkan kesalahan, bukan untuk memaksa manusia atau menghardiknya, “Diam kamu, lakukan seperti ini!!” Wahai akhi, yang seperti ini tidak benar, tidak benar wahai akhi.

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam didatangi oleh seorang badui, kemudian mencengkeram baju beliau seperti ini sambil berkata: “Wahai Rosululloh, berilah aku sebagian dari harta Alloh bukan dari harta bapakmu.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alai wasallam memerintahkan untuk memberinya pemberian.

            (Datang orang lain kepada beliau sambil berteriak:) “Penghianat…penghianat..” maka para shahabat berkata: “Semoga Alloh memerangimu, Apakah mungkin Rosululloh berhianat?!” Maka beliau berkata: “Biarkanlah dia.” Kemudian mereka pergi dan mengambilkan apa yang menjadi haknya dan disertai tambahan atasnya. Kemudian orang itu berkata: “Anda telah memenuhi hakku, semoga Alloh menjadikan Anda sebagai orang yang memenuhi hak.”

Ada orang lain datang meminta izin kepada beliau untuk berzina: “Wahai Rosululloh, izinkanlah aku untuk berzina!” Maka orang-orang menghadap kepadanya dan menghardiknya, “Tinggalkan, tinggalkan!” Beliau berkata:  “Mendekatlah” Maka dia mendekat kepada beliau, kemudian duduk. Beliau berkata: “Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap ibumu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap  anak perempuanmu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap anak perempuan mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap saudarimu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, wahai Rosululloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap saudari mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap saudari ayahmu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap saudari ayah mereka.  Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap saudari ibumu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap saudari ibu mereka.” Kemudian beliau meletakkan tangan beliau padanya lalu berkata: “Ya Alloh, ampunilah dosa-dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya.” Maka setelah itu pemuda itu tidak menoleh ke arah keinginannya itu sama sekali.

Orang tersebut pergi dalam keadaan baik tanpa perlu untuk dihardik. “Hardiklah mereka?” Saya tidak memperlakukan  saudara-saudaraku dengan hardik menghardik, saya memperlakukan mereka dengan perlakuan yang baik. Kecuali siapa yang saya lihat dia membuat fitnah dalam dakwah, barangkali saya hardik, saya berbicara tentang dia sesuai haknya dan dengan ucapan yang keras, karena ini adalah dakwah Alloh, membicarakannya dengan perkataan yang jelek akan mendatangkan bahaya bagi Islam dan muslimin. Ini adalah dakwah yang haq, demi Alloh.

Demikian juga kisah tentang orang yang berbicara ketika sholat: “Aduh, betapa sedihnya ibuku, apa urusan kalian sehingga memandangku?” Maka mereka menepuk paha-paha mereka. (orang itu berkata:) seketika itu aku melihat mereka berusaha membuatku diam, tapi akupun diam. Maka setelah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam usai dari sholatnya, –bapak dan ibuku sebagai tebusannya– belum pernah aku melihat seorang pengajarpun sebelum dan sesudah beliau yang lebih bagus dalam memberi pelajaran. Demi Alloh, beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak pula mencelaku. Beliau hanya berkata: “Sesungguhnya sholat ini tidak diperbolehkan padanya perkataan manusia, yang diperbolehkan hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.

Demikian juga orang yang kencing di sebagian tempat dari masjid, sehingga para shahabat ingin menegurnya. Beliau tidak menghardiknya dan tidak pula beliau mengatakan: “Lakukan padanya begini!” tidak pula beliau mengusirnya, tidak mengusirnya. Bahkan berkata: “Biarkanlah dia, jangan kalian ganggu!” setelah selesai, beliau meminta satu timba air dan disiramkan pada air kencingnya. Inilah petunjuk beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya ada teladan bagi kita.

Ada seorang perempuan berkata: “Dan di antara kita ada utusan Alloh yang mengetahui apa yang terjadi besok.” Beliau tidak menghardiknya akan tetapi mengingatkan kesalahannya.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Apakah dia berlepas diri (dari kalimat itu) terang-terangan? Tidak, tetapi kalian bertepuk tangan untuknya sehingga dia sampai kepada ghuluw seperti ini. ”

Syaikh Yahya menjawab: “Wahai akhi, tepuk tangan itu tidak boleh, tepuk tangan diperbolehkan untuk wanita, dan tasbih untuk pria. Mana mungkin kami bertepuk tangan?!! Apakah ada di antara kalian yang bertepuk tangan? Tidak ada seorangpun.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Kami telah duduk bersamanya, kami ajak bicara tapi dia tidak mendengarkannya. ”

Syaikh Yahya: “Mereka telah duduk bersama saya, dan ini telah diketahui bersama. Yaitu ketika kami pergi haji dan berkunjung kepada beliau, beliaupun menjamu kami, terimakasih bagi beliau. Dan beliau –demi Alloh– wahai saudaraku sekalian mencintai ahlussunnah. Saya mengatakan kalimat yang haq, dengan izin Alloh azza wa jalla, tentang beliau dan selain beliau. Demi Alloh beliau –syaikh Robi’– mencintai ahlussunnah, dan Allohlah yang menjadi mengetahuinya.

Baiklah, setelah beliau menjamu kami, beliau cenderung untuk tidak menghizbikan Al Adaniy, sedangkan saya menyatakan kehizbiannya dan kehizbian beberapa orang yang dahulu di sini dari murid-murid saya, saya lebih mengenal mereka daripada selain saya. Mereka itu hanyalah pergi mengadu kepada beliau, “Wahai Syaikh, Anda –yakni– perlu untuk mengatur Al Hajuri. Al Hajuri tidak akan berhenti kecuali dengan Anda,” dan sebagainya dari perkataan seperti ini.

Kemudian beliau berkata kepada para masyayikh: “Anda berpendapat dia hizbi? Anda berpendapat dia hizbi? Anda berpendapat dia hizbi?” Dan saya hanya diam. Kemudian para masyayikh tidak ada yang membantuku dalam majlis itu, padahal mereka telah menyalahkannya (Adaniy). Tetapi mereka waktu itu tidak mau mengatakan: “Wahai Syaikh, walaupun tidak kami tidak berpendapat tentang kehizbiannya, kami berpendapat bahwa dia salah,” dan saya melihat beban di pundakku berat sekali karena itu, karena beberapa masyayikh di antaranya Syaikh Robi’ ada di atas pundakku. Maka setelah itu saya diam hanya mengucapkan “Hayyakumulloh” mana mungkin saya melawan semua yang hadir, maka saya pun diam. Dan saya tidak pernah mengatakan kepada mereka bahwa dia tidak hizbi.

Bahkan saya katakan, Wahai Syaikh, apakah dia melakukan kesalahan atau tidak?

Syaikh Al Buro’i mengatakan dalam majlis itu: “Kalau seandainya beliau tidak mengakui kesalahannya, tidak mungkin beliau mencium jenggotmu supaya kamu memaafkannya.”

Kemudian kita berpisah dalam keadaan seperti itu, dan demikianlah yang terjadi di majlis beliau. mungkin ada tambahan atau pengurangan, tapi demikianlah setahu saya.

Pembaca lembaran: Beliau berkata: “Dia meyakini bahwa serangan rofidhoh suatu kenikmatan”

            Demi Alloh, saya tidak meyakini seperti itu, sedangkan saudaraku telah terbunuh, saudaraku seayah dan seibu. Bagaimana mungkin saya meyakini serangan itu nikmat, sedangkan rumah saya hancur karena serangan Hawn (mortir) dan saya waktu itu di dalam rumah, jarak antara saya dengan tempat jatuhnya hanya beberapa hasta. demi Alloh, dan banyak murid-muridku yang terbunuh dan terluka. tujuh puluh orang syahid di Barroqoh, akibat  kedholiman dan permusuhan rofidhoh. Dan Anda dulu merasa sedih karenanya, siapakah yang merubah sikap Anda? Tidak lain -demi Alloh- yang merubah Anda adalah para pengadu domba itu. Anda menelpon saya mengungkapkan kesedihan dengan penuh kehangatan dan rasa sayang, demikian juga saya. Dan antara kami dan Anda terjalin ukhuwah, tapi kemudian dirusakkan oleh orang-orang itu.

Bertaqwalah kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar. Di sana masih banyak korban yang terluka kami kirimkan ke banyak negara di dunia. Apakah mungkin saya merasa senang dengan seperti itu dan menganggapnya nikmat, bahkan saya menganggapnya cobaan dan fitnah.

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالخَيْرِ فِتْنَة وَإلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Dan kami coba kalian dengan kesedihan dan kesenangan, dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: ).

kesenangan dan kesedihan semua itu adalah fitnah.

يبتلى المرأ على قدر دينه الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فإن كان في دينه رقة خفف عنه وإن كان في دينه قوة شدد عنه

semua orang diuji sesuai dengan kadar agamanya, bila agamanya lemah, diringankan ujiannya dan bila agamanya kuat diberatkan ujiannya.”

Anggaplah saja kami berdosa, karena kita memang tidak bisa selamat dari dosa. Nabi shollallohu ‘alai wasallam berkata,bahwa  Alloh azza wa jalla berkata:

»إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا«

“Sesungguhnya kalian bersalah siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa semuanya”

Kita memohon kepada Alloh semoga ini merupakan penghapus bagi dosa-dosa kita. Sebagaimana disebutkan di shohihain, dan sebagian lafadznya ada di salah satu dari shohihain, bahwa nabi shollallohu ‘alai wasallam berkata:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، وفي لفظ: المؤمن،  مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ«

“Tidaklah menimpa seorang muslim –dan dalam lafadz yang lain: mukmin– suatu kelelahan, penyakit, kesusaha, kesedihan,  gangguan atau beban pikiran, sampaipun duriyang mengenainya, kecuali dengannya Alloh menggugurkan sebagian dosanya.”

 

»مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ«

“Barangsiapa Alloh menginginkan baginya kebaikan dikenakan padanya cobaan.”

Saya merasa sakit –demi Alloh– atas apa yang terjadi dari orang tua kita Robi’ semoga Alloh menjaga dan memberi taufiq kepada beliau, karena beliau berbalik dari kepala ke kaki, padaha beberapa hari yang lalu, beliau merasa bersedih (atas apa yang menimpa kita), memberi nasehat, mengarahkan, mencintai, selalu menghubungi, sampai-sampai beliau berkata, “Telah terjadi mengunjungiku Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad” dan perkataan yang lain yang menyebabkan kami senang mendengarnya, demi tegaknya dakwah dan saling mencintai sesama ahlussunnah. Tapi mereka tidak rela dengan seperti itu, lalu berusaha bertahan di rumah kediaman beliau, demi untuk membuat fitnah. Yakni bismillah memanas-manasi beliau, dan sebagian mereka mengatakan: “Benar-benar akan aku adu domba antara Al Hajuri dengan ahlul ilmi”

Dan pernah Syaikhuna (Muqbil) rohimahulloh –saya mengingatkan Anda dengan kejadian ini wahai Syaikh– Anda menelpon Syaikhuna rohimahulloh: “Wahai Syaikh, Anda mengatakan bahwa di tempatku ada hizbiyyun?” Syaikh Muqbil menjawab: “Tidak mustahil kalau di tempat Anda ada hizbiyyun?” kata Syaikh Robi’: “Wahai Syaikh, ada seseorang yang berkata, “Sungguh akan aku adu domba antara Anda dan Syaikh Muqbil,” dan dia bilang bahwa dia bersikeras akan melakukannya, oleh karena itu saya memperingatkan Anda dari mereka”. Maka Syaikh Muqbil berkata: “Wahai Syaikh, kalau seandainya dua gunung saling bertumbukan, tidak akan membahayakan kita, tidak akan mengadu domba kita”.

Kemudian setelah Syaikh (Robi’) mengingatkan saya dengan kejadian ini, beliau berkata: “Saya mengingatkanmu dengan kejadian ini”, dan saya selalu mengingat itu –demi Alloh– . Dan tidak dihasilkan dari saya sesuatu yang buruk ke arah Asy Syaikh Robi’ sama sekali.

Dan orang-orang itu mengadu domba antara saya dengan Anda, bertakwalah kepada Alloh, tidak boleh terpengaruh dengan mereka.  Mereka telah mendholimi dakwah salafiyyah, melakukan ini dan itu, dan sebagainya, semuanya dimuat di banyak tulisan di internet yang ramai dengan mereka. Maka demikianlah, semuanya karena pengaruh mereka, termasuk beberapa perkataan beliau ini. Sedangkan beliau telah berkata kepada kita waktu itu, memuji dan bekata, “Kalian diuji dan Alloh akan menolong kalian!” Tapi kemudian beliau terpengaruh dengan perkataan mereka yang dahulu pernah kami dengar dari mereka di sini, ketika mereka menelantarkan kami dalam di depan musuh-musuh Alloh, bahkan mereka mengatakan, “Ini semua disebabkan dosa-dosa mereka.” Tidak boleh bagi Syaikh mati-matian membela mereka dalam perkara tersebut.

المؤمن للمؤمن كالبنيان

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan”.

Merasa sakit karena sakitnya saudaranya, merasa sedih dengan kesedihan saudaranya, dan merasa senang karena dengan kesenangannya.

Adapun bila dikatakan saya senang bahwa (serangan rofidhoh) ini nikmat, dari sisi mana itu bisa dikatakan nikmat? Bagaimana bisa dikatakan nikmat??

Banyak dari saudara-saudara kita yang kita cintai, kita hormati dan sebagian mereka para penghafal, mereka terbunuh di jalan Alloh, dalam rangka membela kebaikan ini. Dan bukankah kalianpun dahulu berterimakasih terhadap ahlussunnah karena membela kebaikan ini, maka skiapakah yang telah menyebabkan perubahan ini? Tidak lain mereka adalah orang-orang yang fitnah mereka patut menjadi pelajaran bagi masyarakat.

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Akan tetapi demi Alloh itu adalah hukuman dari Alloh.”

Syaikh Yahya menjawab: “Saya katakan: Kalau memang itu adalah hukuman dari Alloh, semoga saja itu menjadi penghapus bagi dosa-dosa kami, sebagaimana dalam hadits-hadits yang telah berlalu penyebutannya. Meskipun demikian, demi Alloh, Alloh maha tahu bahwa saya tidak suka untuk bersengaja melakukan satu dosapun. Akan tetapi saya tidak mungkin selamat dari dosa. Maka apabila Alloh subhanahu wata’ala mensucikanku dari dosa-dosa dengan ujian seperti cobaan ini yang terjadi antara kami dengan para masyayikh dan sebagainya, semoga itu merupakan penyucian dosa.

{وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ } [آل عمران: 141]

“Dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.”

Dan telah tetap hadits dari Abu Huroiroh رضي الله عنه: bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إن الرجل ليكون له عند الله المنزلة، فما يبلغها بعمل فما يزال الله يبتليه يعني في أهله في ماله في نفسه بما يكرهه- بما يكره، حتى يبلغه».

“Sesungguhnya ada seseorang yang dia itu punya kedudukan di sisi Alloh tapi dia tidak mencapainya dengan amalannya, maka Alloh terus-menerus mengujinya –yaitu di dalam keluarganya, di dalam hartanya, di dalam dirinya dengan apa yang tidak disukainya- dengan apa yang dibencinya hingga Dia menyampaikannya ke kedudukan tadi.” (HR. Abu Ya’la (no. 6095)/Darul Ma’mun Lit turots dan yang lainnya. Sanadnya hasan).

Semoga Alloh menjadikan aku seperti itu.

Adapun jika dikatakan bahwasanya itu adalah hukuman untuk kami, dari jenis hukuman orang-orang kafir:

{سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (44) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ } [القلم: 44، 45]

“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh.”

Ini tidak demikian. Hanya saja semoga Alloh menghapus dosa-dosa kita.

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Akan tetapi demi Alloh, sungguh itu adalah hukuman dari Alloh atas kedustaannya terhadap Ahlussunnah sepanjang tujuh tahun.”

Asy Syaikh Yahya menjawab: “Tidak, saya tidak membikin kedustaan sama sekali. Akan tetapi saya membela saudara-saudara saya dan membela kebaikan (dakwah) ini. Dan saya diperlakukan dengan zholim, saya dizholimi. Dan ini adalah hakikat saya. Dan ini adalah bukti-bukti saya. Dan yang selain itu banyak, dariku dan dari saudara-saudaraku.

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Fitnah yang dia sebabkan di seluruh penjuru alam, dengan ghuluwnya dia di seluruh negri.”

Asy Syaikh Yahya menjawab: “Bukan, bukan, fitnah yang terjadi adalah disebabkan karena pengobaran –wahai Syaikh, semoga Alloh memberi Anda taufiq-, bukan keghuluwan diriku sama sekali. fitnah yang terjadi adalah disebabkan karena pengobaran terhadap orang yang datang misalkan sebagai pengunjung dan sekelompok orang, sebagian dari mereka datang untuk berkunjung dalam keadaan dia ingin pengobaran tadi. Dan sebagian dari mereka datang untuk berkunjung dan dia tidak ingin pengobaran tadi. Pengobaran macam ini: “Bangkitlah kalian untuk menghadapi si fulan, berbuatlah terhadap si fulan, bangkitlah seperti bangkitnya orang-orang jantan.” Ini terjadi fitnah terhadapku.

Baiklah, para muridku di banyak tempat, saudaraku dan sahabatku di banyak tempat melarang dari kejelekan ini. Mereka menasehatkan untuk menjauhi itu, memperingatkan dari siapa saja yang mengobarkan fitnah terhadap kami. Itulah tadi sebab munculnya finah. Adapun bila dikatakan fitnah itu karena sebab ghuluw dariku, tidak, tidak ada padaku ghuluw, dan saya tidak pernah meyakininya, tidak pula saya beribadah kepada Alloh dengannya. Dan saya minta perlindungan kepada Alloh darinya.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Di setiap negeri, yang saya sebutkan tadi, demi Alloh, itu adalah hukuman dari Alloh ketika dia meyakini bahwa itu adalah suatu nikmat. Dia memang meyakini ini, tapi sebenarnya itu adalah hukuman dari Alloh atas apa yang dia lakukan.”

Syaikh Yahya menjawab: “Saya tidak meyakini ini, saya tidak meyakini ini, saya lebih tahu tentang hati saya sendiri dari pada Anda.”

Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Buah dari perbuatannya dan perbuatan murid-muridnya. Demi Alloh, belum pernah disaksikan keghuluwan semacam ini dari ahlul bida’ sepengetahuan kita, pada murid-muridnya.”

Syaikh Yahya: “Wahai ikhwan, bertaqwalah kepada Alloh, bagaimana bisa demikian?? Jadi Rofidhoh menurut perkataan ini tidak mempunyai sikap ghuluw seperti yang ada pada kita, sedangkan mereka mengucapkan: “Waahsenaah lesy matjiinaah (Wahai Husain kenapa Anda tidak datang kepada kami).”  Dan menusuk-nusuk badan mereka dengan pisau.

Kelompok Sufiyah yang  yang merangkak (ke arah imam mereka) demikian dan merayap sampai ke lututnya kemudian menciumnya, setelah itu kembali dengan berjalan mundur, apakah mereka tidak memiliki ghuluw seperti ghuluw kami?

Saya katakan kepada kalian: perkataan ini keluar dari beliau dalamkeadaan beliau marah dan emosi. Sampai-sampai ada yang mengabarkan kepadaku dari orang yang hadir waktu itu, bahwa beliau berbicara sambil gemetar. Dan suatu perkataan apabila diucapkan dalam keadaan marah terkadang muncul padanya penambahan dan pengurangan. Dan yang beliau ungkapkan ini merupakan sebagian dari tambahan dalam perkataan beliau, dan ini tidak mungkin untuk diingkari oleh seorangpun.

Syaikh Yahya: Demikian tadi nasehat, dan saya memohon kesediaan dari Syaikh dan para pendengar apabila terjadi salah ucap dan kekeliruan sedangkan saya tidak menginginkannya –demi Alloh– keluar dari mulut saya, saya mohon untuk   dimaafkan.

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ]هود: 88[

“Aku tidak menginginkan kecuali untuk memperbaiki sesuai dengan kemampuanku. Dan tidak ada bagiku petunjuk kecuali dengan kehendak Alloh, hanya kepadaNyalah aku bertawakkal dan hanya kepadaNyalah aku kembali.” (QS. Hud:88)

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت سبحانك وأتوب إليك

Malam senin, 6 Jumadal Ula 1434 H

Kata penerjemah: dengan ini selesailah penerjemahan bagian kedua/akhir dari “An Nushhur Rofi’” semoga bermanfaat dan bisa meluruskan persepsi yang keliru.

والحمد لله رب العالمين

  Nasehat untuk Syaikh Robi’ – 7 Jumadil Ula 1434H (MP3 – 9.3 MiB)

Sumber: ashhabulhadits di re-post khusus untuk ISLAMIC ZONE https://thibbalummah.wordpress.com/

Baca Juga Artikel Terkait:

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Berita Dunia Islam, Manhaj Ahlus Sunnah, Nasehat, PROBLEMATIKA UMMAT, Realita Ummat, Tahdzir & Bantahan dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.