(Audio + Teks Terjemahan) Nasehat Yang Luhur & Membangun untuk Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al-Madkhali ~hafidzhahullah~ [BAG.1]

baru4

Jawaban sekaligus nasihat serta teguran untuk Syaikh Rabi’ Al-Madkhali yang berkaitan dengan tahdzirannya yang tidak benar terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri ~hafidzahumalloh~

 

Audio Suara:

Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy

حفظه الله 

(diterjemahkan berdasarkan naskah tertulis yang telah disempurnakan langsung oleh Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh menjaga beliau-)

  

Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilalloh:

  • Abu Fairuz Abdurohman Al Jawiy Al Indonesiy 
  • Abu Umar Ahmad Rifa’iy Al Jawiy Al Indonesiy

-semoga Alloh memaafkan keduanya-

Judul Asli:

“An Nushhur Rofi’ ‘Ala Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Robi’”

(Al Juz’uts Tsani)

Judul Terjemah bebas:

“Nasihat Yang Bernilai Tinggi Untuk Fadhilatusy Syaikh Robi’ Al Madkholi”

(bagian pertama dari dua bagian insya Alloh)

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Pengantar Penerjemah

الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد:

Sesungguhnya upaya ahli batil untuk mengadu domba antar ulama dan antar kaum mukminin terus berlangsung. Dan perbuatan ini termasuk dosa besar.

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang berkata:

مر النبي صلى الله عليه وسلم على قبرين فقال: «إنهما ليعذبان وما يعذبان من كبير» ثم قال: «بلى، أما أحدهما فكان يسعى بالنميمة، وأما أحدهما فكان لا يستتر من بوله». قال: ثم أخذ عودا رطبا فكسره باثنتين ثم غرز كل واحد منهما على قبر ثم قال: «لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا».

“Nabi صلى الله عليه وسلم melewati dua kuburan yang sedang disiksa, maka beliau bersabda: “Keduanya disiksa,dan bukanlah keduanya disiksa karena perkara besar.” Lalu beliau bersabda: “Bahkan karena dosa besar. Adapun salah satunya dia itu sering berjalan menebar adu domba. Adapun yang lain tidak menghindarkan diri dari kencingnya.” Kemudian beliau mengambil sebatang dahan basah, lalu beliau membelahnya jadi dua, lalu beliau menanamnya ke masing-masing kuburan tadi, seraya bersabda: “Semoga siksaan keduanya diringankan selama kedua dahan ini belum kering.” (HR. Al Bukhoriy (1378) dan Muslim (292)).

Dan dari Hammam yang berkata: Kami pernah bersama Hudzaifah, maka dikatakan pada beliau: sesungguhnya ada seseorang yang suka melaporkan pembicaraan ke Utsman. Maka Hudzaifah berkata: Aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ ».

“Tukang adu domba tak akan masuk Jannah.” (HR. Al Bukhoriy (6056) dan Muslim (105)).

Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Ulama berkata: namimah adalah menukil ucapan orang-orang sebagiannya kepada sebagian yang lain untuk merusak hubungan di antara mereka.” (“Al Minhaj”/2/hal. 181/di bawah no. hadits (105)/cet. Dar Ihyaut Turots).

Dan ini juga kenyataan dari karakter Mar’iyyin, mereka menjilat ke para ulama seperti Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy حفظه الله , Asy Syaikh Muhammad Al Wushobiy, Asy Syaikh Ubaid Al Jabiriy untuk menjatuhkan orang yang membongkar hizbiyyah Mar’iyyah agar memungkinkan bagi mereka untuk mencerca mereka, memperburuk citra mereka. Para Salafiyyun yang adil dan objektif dan ulama mereka menjadi saksi atas kerasnya usaha Mar’iyyin dalam mengadu domba para pemeluk manhaj Salafiy.

Akhirnya dengan gigihnya semangat bathil mereka untuk memecah belah para ulama, sehingga akhirnya beberapa tahun yang lalu muncullah tuduhan-tuduhan keliru Asy Syaikh Robi’ حفظه الله terhadap Asy Syaikh Yahya حفظه الله dengan orang yang bersama beliau. Ketika tuduhan itu meruncing, akhirnya Asy Syaikh Yahya berceramah membantah tuduhan-tuduhan beliau dengan baik dan beradab, direkan dengan judul “An Nushhur Rofi’ Li Fadhilatusy Syaikh Robi’, kemudian hubungan menjadi bagus, dan setelah hancurnya makar Rofidhoh terhadap Dammaj, hubungan semakin bagus.

pada hari Senin (19 Robi’uts-tsani 1433H), Kholid Al-Ghirbani telah melakukan ziaroh khusus kepada fadhilatus-syaikh Al-Walid Al-’Allamah Robi’ bin Hadi Al-Madkholi di rumah beliau yang penuh dengan kebaikan dan sunnah. Kholid sengaja bertanya kepada beliau –hafidzohulloh- tentang apa yang telah tersebar bersumber dari beberapa provokator dan para perusak hubungan baik di antara ahli ilmu yang mereka itu merasa jengkel dengan persatuan dan kesatuan erat yang terjadi di antara para ulama. Khususnya bahwasanya beliau melemparkan tuduhan kepada fadhilatusy-Syaikh dan muhaddits kita Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri sebagai haddadi dan pada sebagian murid-murid Dammaj adalah haddadiyyah. Mereka mengatakan bahwa apa yang telah dan sedang terjadi akhir-akhir ini berupa hubungan baik di antara keduanya berupa penghentian pembahasan masalah tersebut, hanyalah demi kemashlahatan dalam rangka mendukung Dammaj untuk berperang melawan Rofidhoh.

Asy Syaikh Robi’ menjawab:

“Sebarkan dariku bahwa mereka itu adalah para pendusta. Yang mengatakan hal itu adalah pendusta!”

Kemudian beliau juga berkata:

“Katakan kepada mereka: “Syaikh Robi’ mendustakan orang yang mengatakan hal itu. Telah selesai semua permasalahan yang terjadi antara Syaikh Robi’ dengan Syaikh Yahya untuk selamanya. Biarkanlah orang-orang yang iri dengki itu merasa tidak suka.”

Selesai.

Kemudian terjadi dialog antara salah seorang murid terdekat Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh menjaga keduanya- ‘Alamuddin Fadhl Maula As Sudaniy حفظه الله dengan para ikhwah Salafiyyin dari Aljazair, dalam rekaman kaset:

Alamuddin: Iya

Si penanya:  السلام عليكم ورحمة الله وبراكاته

Alamuddin: وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Si penanya: semoga Alloh memuliakan Anda, bagaimana kabar Anda?

Alamuddin: semoga Alloh juga memuliakan Anda. Semoga Alloh memberkahi Anda.

Si penanya: kami adalah ikhwah dari Aljazair

Alamuddin: semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan

Si Penanya: kami ingin menyodorkan beberapa pertanyaan, mungkinkah?

Alamuddin: pertanyaan tersebut minta penjelasan tentang syaikh dan yang demikian, ataukah soal minta penjelasan tentang yang ini, (yaitu) engkau berdoa untuk beliau?

Si Penanya: Iya, yaitu minta penjelasan tentang apa yang terjadi di antara kedua syaikh tersebut.

Alamuddin: iya?

Si Penanya: tentang apa yang terjadi antara Asy Saikh Robi’ dan Asy Syaikh Yahya.

Alamuddin: baiklah, tentang apa yang terjadi di antara Asy Saikh Robi’ dan Asy Syaikh Yahya.

Si Penanya: dialog kita ini direkam, yaitu: akan disebarkan. Apakah tidak apa-apa?

Alamuddin: baik, baik, tidak apa-apa.

Si Penanya: soal yang pertama: di tempat kami di sini, di Aljazair sebagian ikhwah berkata bahwasanya Asy Syaikh Yahya itu masih saja haddadiy, dan tidaklah telpon Asy Syaikh Robi’ (kepada beliau) itu kecuali sekedar nasihat.

Alamuddin: baiklah, yang hendak kukatakan pada ikhwan kita adalah: bahwasanya Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh ta’ala menjaganya- menyebutkan bahwasanya masalah yang terjadi antara beliau dengan Asy Syaikh Yahya telah selesai. Alhamdulillahi ta’ala. Dan Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh ta’ala menjaganya- telah menimpali ucapan ini dengan kalimat yang aku telah memperdengarkan kalimat ini dari awal sampai akhir kepada Samahatusy Syaikh Robi –semoga Alloh ta’ala menjaganya-, dan beliau merasa gembira dengan itu. Dan beliau mengabariku agar aku menelpon Asy Syaikh Yahya dan menyampaikan syukur pada beliau atas kalimat beliau ini. Inilah dia sikap Asy Syaikh Robi’ terhadap Asy Syaikh Yahya. Sikap menghormati berlangsung di antara kedua syaikh tersebut, walillahilhamdu wal minnah. Dan hubungan lewat telpon berjalan berkali-kali silih berganti, walillahilhamdu wal minnah. Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh ta’ala menjaganya- mengabariku dua hari yang lalu bahwasanya beliau telah menelpon setelah kami keluar dari sholat Fajar. Beliau berkata: “Wahai Alam, aku telah menelpon Asy Syaikh Yahya,” yang demikian itu berkaitan dengan kisah ikhwah yang terbunuh, empat orang dari Dammaj. Seandainya kalian menyebutkan ini. Ikhwah pergi ke Sho’dah untuk memenuhi beberapa kebutuhan mereka, lalu terbunuhlah empat dari ikhwah tadi. Asy Syaikh Robi’ menelpon Asy Syaikh Yahya untuk minta penjelasan tentang kejadian mereka tersebut, agar beliau merasa tenang dengan keadaan Asy Syaikh Yahya dan dengan keadaan para pelajar di Dammaj. Sisi pendalilannya adalah bahwasanya Asy Syaikh Yahya, dan hanya milik Alloh sajalah segala pujian- dan Asy Syaikh Robi’, yaitu: hubungan mereka itu bagus dan terpuji. dan hanya milik Alloh sajalah segala pujian dan karunia. Dan telah selesai … (kalimat tidak dijelas). Dan sebagian manusia berupaya untuk mengobarkan fitnah, tapi Alloh menyelamatkan. Dan menjadi keharusan bagi para ikhwah di seluruh negri-negri Islam di Aljazair dan yang selainnya untuk menyerukan kepada kesatuan barisan, keakraban, saling bantu, dan membuang perselisihan, serta bersemangat untuk menyatu, dan meninggalkan ini tadi, serta meninggalkan orang-orang yang menyatakan bahwasanya hubungan dua syaikh tadi hanyalah hubungan perang dan begini dan begitu. Ditinggalkan saja orang yang mengucapkan ini, ditinggalkan saja dia. Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh ta’ala menjaganya- sebagaimana yang saya sebutkan padamu sering menelpon Asy Syaikh Yahya, dan Asy Syaikh Yahya telah menyebutkan dalam kalimat tadi, dan menyebutkan di situ bahwasanya beliau mempersaksikan pada Alloh bahwasanya beliau itu cinta pada Asy Syaikh Robi’, dan mengagungkannya serta memuliakan beliau, dan seterusnya. Maka hendaknya para ikhwah menyibukkan diri dengan belajar ilmu yang bermanfaat, mengambil manfaat … (ucapan tidak dipahami), dan seterusnya. Jika manusia sibuk dengan ilmu, sibuk dengan belajar, maka dalam usaha itu ada kebaikan. Jelas wahai saudaraku?

Si Penanya: mungkinkah pertanyaan yang kedua? Yaitu di sana ada yang berkata bahwasanya Kholid Al Ghirbaniy telah dikomentari oleh Asy Syaikh Robi’ bahwasanya dirinya adalah ikhwaniy yang disusupkan, dan dia itu pendusta, dan tidak ada yang dinukilkannya dari Asy Syaikh Robi’ kecuali kedustaan?

Alamuddin: wahai ikhwan, saudara kita Kholid Al Ghirbaniy itu telah mengunjungi Asy Syaikh Robi’. Dan ziaroh Al Ghirbaniy ke Asy Syaikh Robi’ dan ke para ulama itu ada di internet dan diketahui bersama, bahwasanya dia itu telah mengunjungi Asy Syaikh Robi”. Dia telah mengunjungi beliau dua kali. Kali yang pertama dan kali yang kedua. Dua kali dia mengunjungi Asy Syaikh –semoga Alloh menjaganya-. Asy Syaikh tidak membantah ucapan itu, ucapan Al Ghirbaniy. Al Ghirbaniy menyebarkan bahwasanya dirinya telah mengunjungi ulama dan demikian dan demikian, dan Asy Syaikh Robi’ tidak mendustakannya, berkata: “Pendusta”, atau membantahnya atau berkata demikian. Kholid itu telah terkenal di kalangan manusia, bahwasanya Al Ghirbaniy telah mengunjungi syaikh, dan kami duduk-duduk. Dua kali, bukan satu kali. Barangsiapa berkata bahwasanya syaikh berkata demikian bahwasanya Kholid itu susupan, atau bahwasanya dia itu demikian atau dia itu haddadiy, dia harus mendatangkan bayyinah. Sampai bahkan orang yang mengatakan bahwasanya hubungan antara Asy Syaikh Robi’ dengan Asy Syaikh Yahya adalah hubungan perang, hendaknya dia mendatangkan bayyinah. Perkara-perkara ini jelas ada di hadapanmu. Jika Asy Syaikh Robi’ menyampaikan ceramah di Dammaj, dan Asy Syaikh Yahya juga menyampaikan ceramah di rumah Asy Syaikh Robi’ dengan dihadiri seluruh murid, yakni dars Asy Syaikh Robi’ “Ma’arijul Qobul” di sela-sela dars, di penghujung dars, seandainya kalian mendengarkan kalimat tersebut, dan beliau mempersilakan untuk menyampaikan ceramah kepada para murid, dan Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh membalasi beliau dengan kebaikan- juga menyampaikan ceramah, dan terjadi penghormatan silih berganti dari dua pihak. Engkau dengar wahai saudaraku?

Si Penanya: iya, saya dengar.

Alamuddin: iya, inilah yang terjadi. Dan nanti para ikhwah, setiap orang yang berkata begini dan begitu, jangan kalian ikuti dia. Dia itu membuang waktu. Mereka membuang waktu mereka. Dakwah salafiyyah dan salafiy, atau dakwah salafiyyah dan salafiyyun, yang mensucikan mereka adalah amalan mereka di dalam dakwah, hasil ilmiyyah mereka, semangat mereka untuk menyebarkan dakwah salafiyyah, semangat mereka kepada aqidah yang selamat, dan penyebaran aqidah, inilah yang mensucikan seseorang,yaitu: hasil ilmiyyah dia dan amalannya dalam dakwah. Kita mohon pada Alloh عز وجل , ini pondasinya adalah keikhlasan, keikhlasan dalam dakwah ke jalan Alloh عز وجل . Masyayikh kita, kita mengira mereka demikian, dan Allohlah yang menghisab mereka: Asy Syaikh Muqbil, Asy Syaikh Al Albaniy, dan yang lainnya. Asy Syaikh Muqbil –semoga Alloh merohmati beliau- berkata: “Ini bukan karena kerja keras kita, bukan pula karena ilmu kita, tapi ini adalah sesuatu yang Alloh inginkan.” Karena Alloh عز وجل tahu akan keikhlasan mereka, terbukalah untuk mereka pintu-pintu ilmu, dan mereka adalah para pembaharu. Dan ikhwan إن شاء الله giat untuk menuntut ilmu. Ini lebih utama إن شاء الله عز وجل . semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan.

Si Penanya: Semoga Alloh mencurahkan kebaikan pada Anda, dan semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.

Dan saudara kita yang mulia Walid bin Fadhl Al Mauliy Al Kholidiy حفظه الله dalam risalah beliau “Shoddu ‘Udwani Nizar Hasyim” menukil dari Fadhilatusy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy حفظه الله . Saudara kita yang mulia Walid bin Fadhl Al Mauliy Al Kholidiy حفظه الله berkata:

“Dan masuk dalam bab menyebutkan nikmat Alloh ta’ala kepadaku, Robbku telah memberiku taufiq juga, maka aku setelah menunaikan umroh pada hari Kamis tanggal sebelas Dzul Qo’dah tahun seribu empat ratus tiga puluh tiga (1433 H) aku mengunjungi syaikh kami dan orang tua kami Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi حفظه الله . Maka pertama kali aku berjumpa dengan beliau di masjid, lalu aku menyalami beliau dan beliaupun menjawab salamku. Maka Alamuddin berkata pada beliau: “ini Walid.” Maka beliau berkata padaku: “Semoga Alloh menghormatimu.” Lallu beliau menyambutku, kemudian beliau حفظه الله mendahuluiku dengan undangan makan malam. Maka Alamuddin mengemukakan udzur. Maka Asy Syaikh berkata padanya: “Undangannya untuk Walid jika engkau sibuk.”

Lalu aku mendatangi beliau حفظه الله sesuai dengan janji dan aku duduk bersama beliau dalam majelis yang menyenangkan. Beliau berbicara tentang Sudan, dan keadaan dakwah di Sudan dan Yaman, dan keadaan dakwah di Yaman. Dan datanglah penyebutan Asy Syaikh Yahya Al Hajuriy حفظه الله . Maka Asy Syaikh Robi’ حفظه الله تعالى berkata: “Asy Syaikh Yahya itu salafiy, dan termasuk dari para salafiyyin yang kuat.”

Beliau juga berkata tentang Asy Syaikh Yahya: “Asy Syaikh Yahya adalah orang yang baik.”

Dan Asy Syaikh mewasiatkan padaku dengan sekian wasiat. Semoga Alloh membalas beliau dengan kebaikan.

Kemudian kami bangkit menuju makan malam. Dan setelah kami makan malam, Asy Syaikh masuk dan datang dengan membawa minyak wangi seraya memberiku wewangian. Semoga Alloh mewangikannya di dunia dan Akhirat. Kemudian beliau memberiku kumpulan kitab, risalah dan fatwa beliau yang berjumlah lima belas jilid, semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan. Kemudian beliau berkata padaku: “Kami akan melihatmu lagi insya Alloh.” Kemudian beliau mengucapkan kata perpisahan denganku lalu pergi.

Tapi ternyata para tentara setan tidak puas dengan itu. Dan jangan heran jika sebagian dari salafiyyin mendengar sebagian dari mereka berkata: “Aku akan mengadu domba Asy Syaikh Yahya dengan para ulama.”

Dari Jabir رضي الله عنه yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «إن إبليس يضع عرشه على الماء ثم يبعث سراياه فأدناهم منه منزلة أعظمهم فتنة يجئ أحدهم فيقول فعلت كذا وكذا فيقول ما صنعت شيئا قال ثم يجئ أحدهم فيقول ما تركته حتى فرقت بينه وبين امرأته قال فيدنيه منه ويقول نعم أنت» . (أخرجه مسلم (2813)).

“Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian dia mengirim pasukan-pasukannya. Maka yang paling dekat kedudukannya di sisinya adalah setan yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata: “Saya telah mengerjakan ini dan itu.” Maka Iblis menjawab: “Engkau belum mengerjakan apapun.” Kemudian salah seorang dari mereka datang dan berkata: “Tidaklah saya tinggalkan dia sampai saya bisa memisahkan antara dirinya dengan istrinya.” Maka Iblis mendekatkan diri setan itu pada dirinya seraya berkata: “Bagus sekali engkau.” (HR. Muslim (2813)).

Disebabkan oleh fitnah adu domba para tentara setan itulah muncul tuduhan-tuduhan keliru Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh menjaga beliau- terhadap Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh melindungi beliau-, sebagaimana telah tersebar di berbagai antero dunia. Maka Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh melindungi beliau- mengadakan ceramah untuk menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, dan kemudian ceramah itu ditulis dan diperiksa ulang oleh beliau dan diperbaiki sebagian kalimatnya dan ditambahi dengan beberapa penambahan.

Kami berusaha untuk menerjamahkan sesanggup kami untuk mencocoki lafazh dan maknanya. Adapun jika terjadi kekeliruan dalam penerjemahan, maka kami mohon ampun pada Alloh.

Semoga Alloh memberikan taufiq pada kita semua.

Dammaj, 15 Jumadal Ula 1434 H

line

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ الله وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ الله إِنَّ الله عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾ [التوبة: 71].

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dan sisi pendalilan dari ayat ini adalah: sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴾ [المائدة: 54]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”

Dan diriwayatkan oleh Al Bukhoriy dan Muslim dalam “Shohih” keduanya dari hadits An Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

“Permisalan kaum Mukminin dalam sikap saling cinta, saling mengasihi dan saling menolong di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota badan mengeluh sakit, seluruh jasadpun akan ikut tidak bisa tidur dan menjadi demam.” (HR. Al Bukhoriy (6011) dan Muslim (2586)).

Dan dalam hadits Abu Musa Al Asy’ariy رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

“Mukminin dalam ibarat satu bangunan, sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” Dan beliau menyela-nyela di antara jari jemari beliau. Dan hadits ini dalam “Shohihain”.

Dan dari hadits Anas رضي الله عنه Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:

«لا يؤمن أحدكم، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه»

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al Bukhoriy (13) dan Muslim (45)).

Dan hadits ini mencakup rasa senang akan adanya kebaikan untuk kaum mukminin dan menasihati untuk mereka, dan meluruskan mereka serta taufiq untuk mereka dan jauh dari kesulitan dan kejelekan. Dan termasuk dari bab ini, yaitu kebaikan untuk kaum mukminin dan menasihati untuk mereka adalah jalan para nabi عليهم الصلاة والسلام maka dalam surat Al A’rof, sejumlah Nabi semuanya disifati Alloh عز وجل dengan sifat nasihat bagi umat-umat mereka.

وأنصح لكم وأعلم من الله ما لا تعلمون

“Dan aku menasihati kalian, dan aku mengetahui dari Alloh perkara yang tidak kalian ketahui.”

Dan:

وأنا لكم ناصح أمين

“Dan aku adalah penasihat yang terpercaya bagi kalian.”

Dan demikianlah, semoga Alloh memberkahi kalian. Saling menasihati adalah termasuk bagian dari agama yang agung ini. Sebagaimana dalam shohih Muslim (55) dari Tamim Ad Dariy رضي الله عنه:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لله وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».

“Bahwasanya Nabi -shalallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Agama ini adalah nasihat.” Maka kami bertanya,”Buat siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Alloh, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, untuk pemimpin muslimin dan orang awamnya.”

Diriwayatkan secara mu’allaq oleh Al Bukhoriy.

Dan dalam “Shohihain” dari Jarir bin Abdillah Al Bajaliy رضي الله عنه :

بايعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على إقام الصلاة وإيتاء الزكاة والنصح لكل مسلم

“Aku berbai’at pada Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk menegakkan sholat, membayar zakat dan menasihati untuk setiap muslim.”

Dan ini mencakup nasihat untuk setiap muslim, sama saja apakah dia itu besar ataukah kecil, rakyat ataukah pemimpin, alim atau jahil, pria atau wanita. Dia dinasihati karena itu adalah bagian dari agama.

Ini. Dan termasuk perkara yang kami memuji Alloh سبحانه وتعالى tentangnya adalah bahwasanya Alloh سبحانه وتعالى menghilangkan dari kita makar Rofidhoh terhadap kita dan terhadap Darul Hadits ini, setelah mereka menzholimi kita dengan perbuatan yang telah diketahui oleh para ulama dan orang awam, berupa kezholiman yang keras, terhadap para pria dan wanita, anak kecil dan orang tua, dan para bayi, mereka menghalangi masuknya makanan pokok selama tujuh puluh hari di bawah pengepungan. Kemudian cemburulah kaum muslimin terhadap kebaikan (Darul Hadits) ini , semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan, sama saja dari dalam negri Yaman atau dari luar negri. Dan termasuk dari orang yang terbaik yang cemburu terhadap kebaikan ini , dalam bab hak muslim terhadap muslim yang lain, kaum muslimin, Dan termasuk dari orang yang terbaik yang cemburu terhadap kebaikan ini adalah Ahlussunnah, semoga Alloh mensyukuri untuk mereka, dan semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan atas amalan yang telah mereka laksanakan, dan atas amalan yang tengah mereka laksanakan, dalam kondisi tersebut, sebelum ini dan setelahnya. Dihasilkan kebaikan yang banyak, dan Alloh menolak kejelekan.

وما بكم من نعمة فمن الله

“Dan kenikmatan apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

Dan Darul Hadits ini merupakan Darul Muslimin, Darul Ilmi, demi Alloh, Darul Khoir, di dalamnya ada pengajaran-pengajaran, diketahui oleh orang yang hadir, dan terkadang diketahui juga oleh orang yang tidak hadir, sepanjang siang dan malam. Banyak dari mereka yang hapal Al Qur’an, dan segala puji hanya bagi Alloh. Kebanyakan dari mereka, terutama orang yang telah tinggal di sini selama suatu jangka waktu yang bisa memenuhi makna ini (untuk menghapal Al Qur’an). Dan menghapal sunnah. Dan patokan mereka dalam hal ini –segala puji bagi Alloh- adalah Kitabulloh, mereka punya perhatian yang telah diketahui bagi orang yang hadir dan yang tidak hadir, dari kalangan orang yang mengikuti perkembangan Darul Hadits ini, kita mohon pada Alloh agar menjadikan di dalamnya ada barokah.

Shohih Al Bukhoriy, dan Shohih Muslim, kami masih terus mengajarkannya, sejak zaman Syaikh kami رحمه الله dan setelahnya. Dan keduanya adalah kitab yang paling shohih yang pernah dikarang. Dan di dalamnya ada kebaikan yang banyak, dan para pelajar menghapalnya, banyak pelajar yang menghapal hadits-haditsnya dan membacanya. Kemudian kita mengambil dars yang lain. Dan demikian pula sebagian dari mereka menghapalnya sendiri, menghapal “Shohih Al Bukhoriy” dan “Shohih Muslim”, dan juga “Riyadhush Sholihin”, termasuk dari bahan hapalan yang bagus. Dan “Al Arba’inun Nawawiyyah”, dan banyak kitab, dalam aqidah, “Kitabut Tauhid”, tidaklah selesai suatu dars kecuali telah dimulai dars itu lagi. “Kitabut Tauhid” karya Al Mujaddid An Najdiy رحمه الله عليه , Al Imam Muhammad bin Abdil Wahhab An Najiy رحمة الله عليه . Tidaklah selesai dars tentang itu kecuali telah dimulai dars itu lagi. Sepanjang tahun. Demikian pula “Al Ushuluts Tsalatsah”, “Al Wasithiyyah”, kitab-kitab ini tidaklah berhenti dars-dars tentangnya, begitu pula pengajaran khoth, baca baca dan menulis, tajwidul Qur’an. Nahwu juga, shorf, dan berbagai jenis kitab dari ilmu-ilmu ini dan yang lainnya yang kami sebut dan yang tidak kami sebutkan. Kami sebutkan ini dalam bab mengenal kebaikan:

وما بكم من نعمة فمن الله

“Dan kenikmatan apapun yang ada pada kalian, maka itu adalah dari Alloh.”

Utsman رضي الله عنه menyebutkan seperti itu dalam haditsnya. Iya, untuk mengenal kebaikan, agar kebaikan itu tidak diremehkan, karena meremehkan kebaikan itu keliru. Demi Alloh, itu tidak boleh, dan menjadi membesarlah kejelekan jika kebaikan itu diremehkan di kalangan manusia, dan manusia merasa tidak butuh pada kebaikan, membesarlah kejelekan. Dan negri Yaman dan kebanyakan negri muslimin sebagaimana yang kalian lihat, kejelekan itu merayap untuk menyerangnya. Rofidhoh dari satu sisi di berbagai wilayah Yaman. Dan pemikiran-pemikiran perusak yang lain dan berbagai jenisnya. Demikian pula -semoga Alloh memberkahi kalian- pengelompokan, dan kebid’ahan-kebid’ahan dengan berbagai jenisnya, dan kesyirikan.

Dan termasuk yang menyenangkan adalah –dan segala puji hanya bagi Alloh- bahwasanya dakwah ini telah mendatangkan buah. Demi Alloh, sesungguhnya hasil ini, termasuk dari buahnya dari sisi bahwasanya orang-orang mengarah kepadanya dan mencintainya, disebabkan karena di dalamnya ada kebaikan dan ilmu, ayat, hadits, nasihat dan pengarahan, dan kebencian terhadap fitnah. Tiada pemberontakan, tiada penggulingan kekuasaan, tiada fitnah. Tidaklah datang fitnah kecuali kami membencinya, demi Alloh. Dan kami memperingatkan manusia sesuai dengan kemampuan kami. Dan ini kitab-kitab kami, dan ini risalah-risalah kami, dan ini kaset-kaset kami, dan ini dakwah kami, dan mereka itu adalah para saudara kami. Mereka semua. Dan Alloh sebagai saksi sebelum segala sesuatu, semuanya saksi terhadap manfaat ini. Dan tiada keraguan wahai saudara, bahwasanya kebaikan jika diremehkan, akan datang di belakang itu bahaya. Bisa jadi bahaya demi bahaya berdatangan. Dan telah diketahui dari kejadian Utsman ketika diremehkan oleh khowarij dan mereka melampaui batas terhadap beliau, dan terjadilah pada beliau apa yang terjadi itu, bahwasanya di belakang yang demikian itu ada fitnah yang besar. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن لهذا الخير أبوابا ولتلك الأبواب مفاتيح. فطوتى لمن كان مفتاحا للخير مغلاقا للشر، وويل لمن كان مغلاقا للخير مفتاحا للشر

 “Sesungguhnya kebaikan ini punya pintu-pintu, dan pintu-pintu tadi punya kunci-kunci. Maka keberuntunganlah bagi orang yang menjadi kunci bagi kebaikan dan penutup bagi kejelekan. Dan celakalah orang yang menjadi penutup bagi kebaikan dan pembuka bagi kejelekan.”

Ketika mereka membunuh beliau secara zholim, melampaui batas dan permusuhan, terbukalah dengan sebab kezholiman itu kejelekan yang banyak terhadap muslimin. Itu telah dikenal di dalam sejarah. Maka mukmin itu diharapkan kebaikannya dan diamankan dari kejelekannya, sebagaimana telah tetap dari Nabi عليه الصلاة والسلام dari hadits Abi Huroiroh رضي الله عنه :

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم وقف على أناس جلوس فقال: ألا أخبركم بخيركم من شركم ؟ قال فسكتوا. فقال ذلك ثلاث مرات. فقال رجل: بلى يا رسول الله أخبرنا بخيرنا من شرنا. قال: خيركم من يرجى خيره ويؤمن شره وشركم من لا يرجى خيره ولا يؤمن شره. (أخرجه الترمذي (2263/صحيح)).

“Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم berdiri di hadapan orang-orang yang sedang duduk-duduk seraya bersabda: “Maukah kalian aku kabari tentang orang yang terbaik dari kalian dari orang yang terjelek dari kalian?” Maka mereka diam. Beliau mengucapkan itu tiga kali. Maka seseorang berkata: “Iya wahai Rosululloh, kabarilah kami tentang orang yang terbaik dari kami dari orang yang terjelek dari kami.” Beliau bersabda: “Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan diamankan kejelekannya. Dan sejelek-jelek dari kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak diamankan kejelekannya.”

Maka mukmin itu diharapkan kebaikannya. Iya, dan diamankan dari kejelekannya. Sementara orang yang jahat kebalikan dari itu. Dan dakwah ini meyakini hadits-hadits ini sebelum ini dan setelah ini. Dan para pelajarnya, dan Syaikh kami رحمه الله dan kami juga. Demi Alloh. Kami meyakini harusnya berakhlaq yang bagus dan kami beribadah pada Alloh dengan itu. Dan tidaklah kami berkeyakinan bahwa kami itu ma’shum, sama saja berupa akhlaq yang buruk, atau perkara yang lain. Akan tetapi:

سددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة. القصد القصد تبلغوا

“Bersikap luruslah dan dekatilah kelurusan, dan pergunakanlah waktu pagi, waktu sore dan sedikit dari awal waktu malam. Bersikaplah pertengahan, bersikaplah pertengahan, nanti kalian akan sampai pada tujuan.” (HR. Al Bukhoriy (6463) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه).

Inilah dia, semoga Alloh memberkahi kalian.

Ini adalah pembukaan bagi perkara yang akan dijelaskan, karena sesungguhnya keluar selembar atau dua lembar kertas dari Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi Al Madkholiy, semoga Alloh memberi beliau taufiq dan meluruskan beliau, dan menolak dari kami dan beliau teman-teman duduk yang jahat dan membikin fitnah yang berupaya membikin kerusakan di antara Ahlussunnah, ulama, pelajar dan para dai.

Dan demi Alloh kami yakin beliau tahu betul akan hal itu, akan tetapi setiap kuda balap itu pasti pernah terpeleset, dan setiap pedang tajam itu juga bisa rompal. Dan tiada keraguan bahwasanya tidaklah bisa diamankan terhadap beliau ataupun terhadap diriku ataupun terhadap orang yang  lebih tinggi daripada kita bencana dari teman-teman duduk yang jelek, yang suka mengadu domba di antara ahlussunnah, yang berupaya membikin fitnah, kejelekan, membikin kebencian, permusuhan menambahi ucapan, membikin kegoncangan dan membesar-besarkan perkara, iya dan yang selain itu yang berupa peremehan terhadap kebaikan (yaitu: dakwah Darul Hadits ini) dan pembesaran kejelekan dan perkara yang Alloh mengetahuinya.

Dan sebagaimana yang kalian ketahui hadits dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan:

إذا أراد الله بالأمير خيرا جعل له وزير صدق ]إن نسي ذكره وإن ذكر أعانه وإذا أراد الله به غير ذلك جعل له وزير سوء إن نسي لم يذكره وإن ذكر لم يعنه[. (أخرجه أبو داود (2939) عن عائشة/صحيح).

“Jika Alloh menginginkan kebaikan pada si pemimpin, Dia menjadikan untuknya mentri yang jujur, [kelengkapannya: jika dia lupa, menterinya mengingatkannya, jika dia ingat, mentrinya membantunya, dan jika Alloh menginginkan kejelekkan pada si pemimpin, Dia menjadikan untuknya mentri yang  buruk, jika dia lupa, menterinya tidak mengingatkannya, jika dia ingat, mentrinya tidak membantunya].”

Sampai bahkan terhadap orang yang lebih baik daripada kita, hadits telah kalian ketahui.

Penukilan-penukilan yang muncul dari Fadhilatusy Syaikh di dalamnya ada kesalahan yang jelas, demi Alloh dan ucapan yang berlebihan. Aku tidak tahu apakah itu dari beliau ataukah orang yang menukilkan dari beliau kita benar-benar perlu untuk  menjelaskannya agar tidak terjadi buruk sangka terhadap kebaikan (dakwah ini) dan para pembawa kebaikan (dakwah ini). Dan bab bantahan terhadap kesalahan itu adalah termasuk dari aqidah kita dan dakwah kita dan termasuk dari kitab-kitab ilmu. Ini tidak diingkari oleh orang besar ataupun orang kecil. Dulu ataupun sekarang. Bantahan yang bersifat membangun, bantahan ilmiyyah, sambil komitmen dengan akhlaq yang baik, sambil komitmen dengan menunjukkan orang yang salah pada kesalahannya. Dan bahwasanya yang demikian itu lebih baik baginya dan bagi muslimin. Iya, dan juga sambil komitmen pada nasihat dan semangat untuk keselamatan isi dada. Dan berapa banyaknyakah manfaat yang dihasilkan untuk muslimin dan agama mereka dengan sebab saling menasihati dan membantah kesalahan, karena kesalahan itu bisa jadi jika tidak dibantah akan tersebar di kalangan banyak orang. Bisa tersebar pada orang yang bodoh yang tak bisa membedakan, atau orang yang dendam yang menanti-nanti kesalahan yang muncul itu, atau orang yang tidak diketahui kecuali oleh Alloh.

Dan lembaran ini di hadapan kita, saudara kita silakan mulai untuk membacanya sampai bahkan di pembukaannya yang tersebut dan kita akan memberikan komentar insya Alloh dengan komentar yang maksudnya adalah demi Alloh nasihat untuk diriku dan untuk saudara-saudaraku dan untuk Al ‘Allamah Robi’, semoga Alloh menjaganya dan menjaga dakwah salafiyyah ini dan para tokohnya dan seluruh orang yang menegakkan kebaikan ini.

Silakan semoga Alloh memberkahimu.

line

بسم الله الرحمن الرحيم

            Sang pembaca lembaran: sang penulis berkata: “Diambil dari majelis sunnah bersama Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy Pada tanggal 13 bulan Maret, bertepatan dengan malam Rabu

Syaikh Yahya –semoga Alloh meninggikan beliau di dua negri-: sampai bahkan judul ini “bulan Maret”, kalimat “Bulan Maret” seharusnya diberi penanggalan dengan penanggalan Hijriy. Nasihat untuk sang penulis ini. Semoga Alloh memberinya taufiq, karena sesungguhnya penanggalan dengan Hijriy itu adalah pendapat hampir keseluruhan ulama, mayoritas dari mereka. Umar mengumpulkan orang-orang dalam rangka itu. Penanggalan ini, bulan Maret dan seterusnya jika dibutuhkan bisa disebutkan. Tapi jika tidak dibutuhkan seperti dalam lembaran-lembaran yang beredar berpindah dari tangan ke tangan di kalangan Ahlussunnah yang senang dengan penanggalan hijriyyah, segala pujian hanya bagi Alloh, iya, hendaknya diberi penanggalan dengan Hijriy, kita tidak butuh dengan bulan Maret, April, Februari dan yang lainnya. kita tidak butuh.

Sang pembaca lembaran: bertepatan dengan malam Rabu tanggal satu bulan Jumadal Ula 1434 H. Kami ikhwah dari masjid Darus Sunnah mengunjungi Asy Syaikh Robi’ mengunjungi Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy di tempat tinggal beliau di Makkah di Kerajaan Arab Saudi. Sebagaimana kalian ketahui bahwasanya Asy Syaikh sakit sebentar di selang beberapa hari yang lalu.

Asy Syaikh kami –semoga Alloh meninggikan kedudukan beliau-: kita mohon pada Alloh agar menyembuhkan beliau. Iya. Demi Alloh kita senang untuk beliau kesembuhan dan kesehatan, dan kita senang untuk dijauhkan dari fitnah-fitnah, kami dan beliau. Beliau sudah tua, dan orang tua itu biasanya sering terkena penyakit-penyakit. Dan kami senang, demi Alloh, bahwasanya seperti ini dan seperti yang lainnya, umur beliau panjang di atas ketaatan pada Alloh subhanahu wata’ala, yaitu dari kalangan Ahlussunnah, panjang umur di atas ketaatan pada Alloh, menolong dan ditolong, mencintai dan dicintai, karena Alloh ‘azza wajalla.

Dan panjangnya umur di atas ketaatan pada Alloh itu bagus, sebagaimana telah tetap dari hadits Abdulloh bin Busr رضي الله عنه bahwasanya Rosululloh  bersabda:

خير الناس: من طال عمره وحسن عمله. (أخرجه الترمذي (2329)/صحيح).

“Sebaik-baik orang: orang yang panjang umurnya dan bagus amalannya.”

Dari Suroij رضي الله عنه yang berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إذا أراد الله عز و جل بعبد خيرا عسله. قيل: وما عسله؟ قال: يفتح الله عز و جل له عملا صالحا قبل موته ثم يقبضه عليه. (أخرجه أحمد (17819)/صحيح لغيره).

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jika Alloh عز وجل menginginkan kebaikan pada seorang hamba, memberinya ‘asal (pujian yang baik).” Ditanyakan: “Apa itu memberinya ‘asal ?” Beliau menjawab: ” Alloh عز وجل membukakan untuknya amal sholih sebelum matinya, kemudian Alloh mewafatkannya di atas amalan tadi.”

Al Baghowiy رحمه الله dalam “Syarhus Sunnah” (14/hal. 291): “Dan ‘asal adalah pujian yang baik.” Selesai.

Pembaca lembaran: Semoga Alloh menyembuhkan beliau dan memanjangkan umur beliau di atas ketaatan pada Alloh. Kami curahkan puncak kerja keras kami, dan kami berangan-angan untuk bisa menyambut Asy Syaikh di masjid yang berdekatan dengan rumah beliau agar kami bisa menyampaikan pada beliau penghormatan dan mengucapkan salam pada beliau sebelum kami kembali ke London. Dengan karunia dari Alloh Asy Syaikh hadir dalam keadaan kesehatan beliau bagus semoga Alloh menjaga beliau. Asy Syaikh menyambut kami bersama sekelompok dari salafiyyin dari seluruh penjuru alam. Kemudian beliau mengundang kami semua ke rumah beliau untuk duduk-duduk di samping beliau di antara maghrib dan isya. Ketika kami tengah menunggu, turunlah Asy Syaikh ke perpustakaan beliau di mana kami duduk. Beliau meminta seorang pekerja di samping beliau untuk menyuguhkan teh pada kami, lalu beliau bertanya tentang keadaan para pelajar dan ketentraman mereka. Di situ ada sekitar lima belas orang, dari Irak, Libia, Malaisia, dan dua pelajar dari Dammaj di Yaman.

Asy Syaikh duduk, lalu menyalami semuanya dan bertanya tentang tinggalnya mereka, kemudian mendoakan mereka. lalu beliau menanyai ikhwah tentang masjid As Sunnah jika mereka butuh pada suatu apapun. Maka kami mengabari beliau bahwa kami cuma datang untuk menyampaikan penghormatan dan salam saja serta menziarohi beliau di jalan Alloh.

Lalu Syaikh memberikan kalimat pada akh Abu Aisyah Ahmad Jum’ah dari masjid “Darus Sunnah” dan menanyainya:

Asy Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy: “Dari manakah kalian?”

Abu Aisyah Ahmad: “Dari Brithonia wahai Syaikh.”

Tanpa menanyakan soal apapun Asy Syaikh berkata: “Demi Alloh aku punya perkara yang banyak bersamaku.” Asy Syaikh menggoyangkan kepalanya dan memegangnya. “Demi Alloh aku punya perkara yang banyak bersamaku. Demi Alloh tidak didapatkan seorangpun pada hari ini di atas salafiyyah. Seluruh salafiyyun adalah mubtadi’ah. Demi Alloh pada hari ini tidak tersisa seorangpun di atas salafiyyah. Seluruh salafiyyun adalah mubtadi’ah sekarang ini kecuali Yahya. Mereka semua adalah mubtadi’ah. Para dai, para masyayikh, semuanya ada di bawah telapak kakinya.”

Jawab Asy Syaikh Yahya: segala puji bagi Alloh. Kemudian daripada itu: ucapan ini, yang dilemparkan ke dalam hati Asy Syaikh Robi’ -semoga Alloh memberi beliau taufiq- aku tidak tahu dari mana datangnya untuk mengatakan: “Tidak didapatkan seorangpun di atas salafiyyah dan seluruh salafiyyin adalah mubtadi’ah.” Aku tidak meyakini itu dan aku tidak mengucapkan itu. Dulu ataupun sekarang. Dan aku tidak mengetahui salafiy yang hakiki mengucapkan perkataan ini. Maka aku tidak mengetahui darimana datangnya ucapan ini? Lihatlah pada salafiyyin di alam ini. Sama saja dari kerajaan Saudi, atau dari Dammaj, Yaman dan seluruh Yaman dan dari negri-negri di alam semesta. Mereka semua, kami bersyukur pada mereka atas kerja keras mereka dan apa yang mereka laksanakan, berupa ilmu dan nasihat, dalam keadaan jauh dari tahazzub, jauh dari bida’ dan khurofat, jauh dari kesyirikan-kesyirikan. Maka ucapan ini tadi, yang beliau berkata: “Demi Alloh tidak didapatkan pada hari ini seorangpun di atas salafiyyah, dan salafiyyin adalah mubtadi’ah,” ini aku tidak mengetahui darimanakah datangnya. Aku tak pernah mengucapkan ini dalam satu haripun dari hari-hari yang berlalu. Dan aku tidak mengetahui ada seorang pelajar, lebih-lebih dai ke jalan Alloh untuk mengucapkan itu satu haripun di sepanjang masa. Atau meyakini itu. Dan keyakinan itu adalah keyakinan yang aneh sekali, jelas diingkari oleh seluruh Ahlussunnah. Dan dalil-dalil yang lalu, yang telah lewat penyebutannya adalah penjelasan bahwasanya seorang mukmin itu gembira dengan mukmin yang lain dan mendukungnya dan menolongnya. Tidak tersisa di atas salafiyyah kecuali aku? Tidak tersisa di atas salafiyyah kecuali saudara-saudaraku? Darimana datang ucapan ini? Siapakah yang mengucapkan ini dari Ahlussunnah. Jika itu adalah dari para murid kami, kami akan menasihatinya dan akan kami katakan padanya bahwasanya ucapan ini adalah salah dan berlebihan. Tapi Jika itu bukan dari para murid kami, maka Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا﴾ [الأنعام: 164]

“Dan tidaklah setiap jiwa berbuat  kecuali akan menimpa dirinya sendiri.”

Kami tidak mengetahui ucapan ini “Semuanya mubtadi’ah kecuali Yahya, semuanya mubtadi’ah, para duat dan masyayikh semuanya di bawah telapak kakinya.” Kami berlindung pada Alloh. Para duat dan masyayikh, demi Alloh aku memuliakan mereka karena Alloh, aku mencintai mereka karena Alloh. Dan ini kitab-kitab mereka dipelajari di tempat kami  kitab para dai, kitab para masyayikh dan kitab para ulama yang dulu ataupun sekarang. Aku tidak tahu ucapan ini, bagaimana ucapan ini bisa Asy Syaikh mengucapkan itu. Aku tak tahu bagaimana Asy Syaikh bisa mengucapkan itu dan menuduh kami dengan itu? Allohul musta’an.

Ucapan ini, tiada keraguan wahai saudara-saudaraku muncul saat marah dan reaktif. Dan engkau tahu bahwasanya sebagian orang punya rekaman yang dicampur-campur, dan taktik. yang ini menelpon dari sini: “Dakwah dalam keadaan baik, dakwah dalam keadaan baik, wahai Syaikh, akan tetapi si fulan berbuat demikian dan demikian.” yang itu menelpon dari sana dan berkata: “Dakwah dalam keadaan baik, wahai Syaikh, akan tetapi si fulan berbuat demikian dan demikian.” Demikianlah. Beliau mengira bahwasanya langit jatuh ke bumi, bahwasanya ya sudah, tidak tersisa kecuali para pengeluh tersebut yang ada di lapangan, dan yang selain dari mereka tiada yang tersisa di atas salafiyyah selain mereka, mereka itu merasa kesakitan terhadap apa yang terjadi, dan tidak diketahui siapa mereka itu dan bagaimana kondisi mereka dan apa tujuan mereka, dan apa maksud mereka.”

Pembaca lembaran: [Dia] dan pengikutnya.

Jawab Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh memelihara beliau dan memberi beliau taufiq-: “Yang kita banyak tahu, dan terkenal, dan paling banyak dan diketahui di dalam kitab-kitab biografi, mereka berkata: “Para sabahatnya”, “Para muridnya” “Para pelajarnya.” Adapun kalimat “pengikutnya”, kita semua mengikuti Rosululloh صلى الله عليه وسلم .

Alloh azza wajalla berfirman:

﴿ اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ ﴾ [الأعراف: 3]

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).”

Iya. Kita semua adalah para pengikut Kitabulloh. Yang kumaksudkan adalah salafiyyin. Ikut Kitabulloh dan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم . beliau itulah teladan kita. Beliau itulah panutan kita. Berdasarkan pemahaman salaf رضوان الله عليهم.

Pembaca lembaran: dan pengikutnya melancarkan perang terhadap salafiyyin dan salafiyyah. Dan ahlul bida’ senang dan menonton. Apakah ini termasuk akhlaq yang baik?!

Jawaban Asy Syaikh Yahya: ini tidak benar, bahwasanya kami melancarkan perang terhadap salafiyyin dan salafiyyah. Bahkan saudara-saudara kita itu disakiti karena membela salafiyyin dan salafiyyah, demi Alloh, menyerukan kepadanya, melarang dari penentangannya. Maka siapakah mereka, para salafiyyin yang kita lancarkan peperangan terhadap mereka? Dan barangkali Asy Syaikh -semoga Alloh memberinya taufiq- memaksudkan bahwasanya salafiyyin hanya terbatas pada Al Adaniy dan orang-orang yang dulu di sini dari kalangan pelajar dan orang-orang yang loyal pada mereka dan fanatik terhadap mereka, seperti Ubaid.

Dan ini tidak benar. Ini berlebihan. Sekelompok orang belajar di tempat kami dan di markiz ini, dan sebelum itu belajar ke Asy Syaikh رحمه الله , kemudian setelah wafatnya Syaikh, mereka tetap tinggal di markiz ini dalam kondisi seperti itu, lalu terjadi dari mereka perkara-perkara, yang diingkari terhadap mereka oleh setiap orang yang hadir dan mendengar sekarang ini, dan diingkari oleh orang yang sekarang tidak hadir di sini tapi menyaksikan dan mendengar kejadian itu. Datang ke sini seorang pelajar dari negri yang jauh dalam keadaan cinta pada kebaikan ini (dakwah dan dars di markiz ini), memikul beban kesulitan dan rasa capek, ketika dia sampai ke tempat ini, dikarenakan kerasnya kezholiman mereka terhadapku dan terhadap kebaikan ini dan fitnah mereka terhadapku, mereka berkali-kali mengisi dan menjejali hatinya dan memfitnahnya sampai dia pergi alasan dan demikian pula tanpa adab yang baik, dalam keadaan dia mencaci, memaki dan menyakiti. Apakah Asy Syaikh Robi’ ridho diri beliau mengalami ini?!

Ataukah ulama yang lain ridho diri mereka mengalami ini?!

Padahal telah diketahui dalil-dalil tentang disyariatkannya menghormati pengajar. Dan telah diketahui dalil-dalil tentang disyariatkannya saudara menghormati saudaranya.

Dan telah diketahui dalil-dalil tentang disyariatkannya semangat untuk mengambil manfaat, dan di dalam batasan-batasan syariat, tanpa berbuat pengkultusan.

Mereka bangkit mendaftar di halqohku siapakah yang ingin pindah ke Fuyusy, tempat di gurun. Aku mengkritik mereka dan menasihati mereka. aku katakan: “Pendaftaran ini keliru wahai saudara-saudaraku, kalian sekarang di halqoh ilmu. Silakan kalian pergi berdakwah ke jalan Alloh عز وجل , dan barangsiapa ingin pindah ke tempat kalian, semoga dia berada dalam perlindungan Alloh, dan seluruh markiz sunnah di Yaman, maka kami itu mendukungnya dan membantunya semampu kerja keras kami dan kelemahan kami. Seluruh markiz tadi tidak berdiri di atas pendaftaran macam ini. Barangsiapa datang pada kalian, semoga dia berada dalam perlindungan Alloh.”

Manakala aku menasihati mereka, mereka melancarkan serangan yang keras dan pergolakan terhadapku dan terhadap markiz ini dan terhadap para saudara mereka. dan keadaan di antara pelajar jadi buruk. Maka aku terpaksa untuk berkata: “Wahai saudaraku, kalian bisa memilih untuk tetap tinggal di sini di atas kebaikan dan kebagusan selamanya dan setelah mendaftaran ini. Adapun yang tidak ingin tetap tinggal bersama kami dalam kebaikan ini, maka bumi Alloh itu luas.”

Dan demikianlah dulu Asy Syaikh Robi’ -kita bersyukur pada beliau- memberikan dukungan, yang mana beliau berkata pada Abul Khoththob ketika itu seingatku agar dia jangan membikin fitnah di Dammaj. Silakan dia memilih diam atau pergi. Silakan dia membikin fitnah di negrinya.

Dan aku dipilih Asy Syaikh –Muqbil- رحمه الله sebagai pengganti beliau untuk mengelola markiz ini dan aku mencurahkan nasihat untuk markiz ini dan yang ada di dalamnya. Aku tidak mengucapkan ini dalam rangka berbangga-bangga. Akan tetapi inilah kenyataannya.

Berapa banyaknyakah negri-negri yang dimasuki oleh orang-orang yang berhasrat buruk dengan nama “kebaikan” lalu mereka merusaknya. Negri-negri yang dimasuki oleh orang-orang yang berhasrat buruk, dan mereka punya hawa nafsu, punya hasrat dan tujuan-tujuan.

Aku katakan pada kebanyakan dari mereka, dan bahkan ketika para pengunjung mengunjungi kita mereka mendengar ucapan ini: “Barangsiapa ingin tetap tinggal di tempat ini, aku adalah saudaranya dan dia adalah saudaraku, di atas kebaikan dan di atas sunnah dan di atas pencarian ilmu, semoga Alloh menghormatinya.”

Adapun lemparan macam tadi, dan tertinggalnya kebanyakan dari mereka dari dars-dars. Yang satu berkata: “Al Hajuriy tak punya keagamaan” yang lain berkata: “Al Hajuriy demikian dan demikian” dari lafazh-lafazh cacian dan makian, maka ini tak ada seorangpun yang ridho dengan itu, baik itu Asy Syaikh Robi’ ataupun yang lainnya. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه

“Dan hendaknya dia mendatangi manusia dengan apa yang dia sendiri senang untuk didatangi dengan itu.”

Mereka itu membikin fitnah di tempat kami dari awal hari, ditetapkan di risalah-risalah dan dalam kitab-kitab. Kami memvonis mereka dengan itu dan kami jelaskan kesalahan-kesalahan mereka dengan itu, dan pergolakan yang mereka bikin, dan tahazzub (pengelompokan) mereka terhadap kami dan terhadap kebaikan ini, dan fitnah mereka, dengan perkara yang –demi Alloh- tidak dihasilkan oleh para pengikut Jam’iyyatul Hikmah yang Asy Syaikh Muqbil menghukumi mereka dengan hukum ini, mengusir mereka. dan juga dari para pengikut Jam’iyyatul Ihsan dari kalangan orang-orang yang dulu ada di sisi beliau di sini. Mereka membikin fitnah terhadap beliau dan beliau mengusir mereka. dan demikianlah. Maka manakala perkaranya adalah seperti itu, mereka memancangkan permusuhan terhadap kami dan membikin fitnah, dan ada orang yang menggerakkan mereka dengan keras, ada orang yang mendorong mereka. Sekelompok orang, kebanyakan dari mereka adalah pengangguran, mobil mereka aktif dan pergi berkeliling ke para ulama, dari satu alim ke alim yang lain untuk mengadu domba dan fitnah. Dan telah muncul dari Asy Syaikh Ubaid ketika itu suatu perkataan yang aku ingatkan dia tentang masalah ini. Kami katakan: “Wahai Syaikh, mereka itu membikin fitnah, berbuat ini, berbuat itu.” Ada di lembaran-lembaran. Rujuklah kalian ke situ. Dia tersebar, antara aku dan Asy Syaikh Ubaid, tukar menukar risalah, di permulaan duduknya mereka di sisinya, dan mereka datang dengan bentuk menjilat dan menempel, sampai mereka mempengaruhi orang alim dengan perkara yang demi Alloh tidak terjadi dari para tukang sihir, sebagaimana datang dalam kisah namimah, bahwasanya namimah itu terkadang berbuat apa yang tidak diperbuat oleh tukang sihir, dengan apa yang tidak dihasilkan oleh para tukang sihir.

Maka mereka itu membikin fitnah dalam dakwah.

Kemudian setelah itu kami katakan: “Barangkali mereka akan terpengaruh dengan sebagian masyayikh, aku akan mengundang para masyayikh itu, insya Alloh.” Maka para masyayikh datang, kita bersyukur pada mereka. mereka duduk bersama mereka di ruang Dewan, dan mereka mengingkari orang-orang tadi atas perbuatan pendaftaran tadi, dan para masyayikh tadi menghukumi: “Pendaftaran harus dihentikan.” Tapi Adaniy tidak mengerjakan itu. Dan mereka menulis di lembaran bahwasanya markiz Fuyusy ada di bawah pengawasan masyayikh, di antaranya adalah fulan, fulan, dan mereka menyebut diriku. Dan para masyayikh tadi memvonis bahwasanya Adaniy telah membikin fitnah dan dia dituntut untuk mengemukakan udzur pada waktu itu, dari sebagian perkara yang terjadi dari dirinya, yaitu pendaftaran. Dan kami bubar.

Tapi mereka bekerja lagi, demi Alloh, mengadu domba dan fitnah antara diriku dengan orang-orang. Dan perkara yang terjadi dari Asy Syaikh Robi’ sekarang ini, yang berupa serangan gencar dan ucapan keras yang kita merasa heran dari beliau, adalah bagian dari adu domba tadi, nggak lebih.

Dakwah salafiyyah baik-baik saja, akan tetapi para pengadu domba, muncul dari mereka perkara ini. Keadaan mereka itu harus dijelaskan agar orang-orang waspada dari mereka. demi Alloh, fitnah ini dan kejelekan ini tidak boleh terjadi.

Dan aku sekarang tidak bisa membatasi fitnah yang terjadi dari mereka, akan tetapi faktanya ada di malzamah-malzamah dan risalah-risalah, tertulis dengan judul “Mukhtashorul Bayan” dalam penjelasan fitnah mereka dan pergolakan mereka serta gangguan mereka. silakan dirujuk. Dan hendaknya kejelekan dan fitnah ini diketahui, yang itulah mereka lakukan terhadap kita sejak hari itu. Inilah orang yang dimaksudkan oleh Asy Syaikh Robi’ bahwasanya kami mengkritik salafiyyin, sementara yang selain mereka itu tidak sama sekali. Demi Alloh.

Adapun mereka, maka memang mereka itu membikin pergolakan terhadap kami, membikin fitnah terhadap kami. Kami mengingkari mereka dan kami jelaskan hizbiyyah mereka, kami jelaskan kejahatan yang ada pada mereka. Inilah dia. Dan kami itu terzholimi, dan mereka itulah yang membikin fitnah. Aku dulu adalah pengajar bagi mayoritas dari mereka, aku memberikan kata pengantar dan penyemangat untuk sebagian risalah-risalah mereka, dan gembiranya aku dengan kebanyakan dari mereka. Sekarang kebanyakan dari mereka telantar, demi Alloh. Dan sebagian masjid tidak mereka urus sebagaimana Ahlussunnah mengurusi masjid-masjid mereka. ini telah banyak diketahui di kalangan salafiyyin. Sebagian dari mereka tersibukkan dari ilmu, dan jadilah beban dakwah itu ada di pundak orang yang Alloh beri taufiq untuk bersabar dan jauh dari fitnah itu. Ini adalah kenyataan, aku menyebutkannya dan diketahui oleh para hadirin dan yang tidak hadir.

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi وفقه الله berkata: “Dan ahli bida’ merasa senang.”

Jawab asy Syaikh Yahya حفظه الله تعالى: “Mereka merasa senang bukan dari aku. Jika mereka merasa senang, jika mereka merasa senang, mereka itu dalam urusan mereka sendiri. Dan kita mengingkari mereka. ini bukan dariku dan bukan dari para muridku. Dan engkau mengetahui apa yang terjadi dari mereka terhadap kami, yang terjadi dari ahli bida’ dari rowafidh dan selain mereka. Demi Alloh tidaklah mereka itu menyakiti kami karena kami yang membikin mereka senang. Akan tetapi mereka menyakiti kami karena kami mengingkari mereka. Dan terkadang membikin mereka senang kesibukan-kesibukan kami dengan kebatilan, agar terbentuk peluang kosong untuk mereka.”

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi berkata: “Dan ahli bida’ merasa senang dan mereka menonton. Apakah ini termasuk akhlaq yang baik???”

Jawab Asy Yahya semoga Alloh memberi beliau taufiq: “Demi Alloh, kami tidak senang itu. Dan aku demi Alloh telah sabar selama bertahun-tahun. Demi Alloh aku telah sabar selama bertahun-tahun terhadap apa yang aku alami, yang berupa sikap keras dan tekanan-tekanan. Demi Alloh, aku memikul di jalan salafiyyah dengan pemikulan yang berat demi menolong dakwah. Dan Alloh sebagai saksi. Dan setiap mukmin yang hadir, dari kalangan orang yang punya kalimatul haq dan keadilan hadir mendengar bahwasanya aku memikul di jalan pertolongan untuk dakwah karena Alloh. Bukan dalam rangka menzholimi ataupun permusuhan, ataupun sum’ah ataupun riya, bukan pula untuk meninggi di bumi ataupun membikin kerusakan. Kemudian kami dituduh seperti ini???

Ini keliru, ini keliru. Demi alloh andaikata ucapan tadi muncul dari Al Imam Ahmad pastilah para ulama mengkritik beliau karena itu, lebih-lebih Asy Syaikh Robi’ –semoga Alloh menjaga beliau-.

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Datang kepada kami keluhan-keluhan dari seluruh penjuru alam.”

Syaikh kami Yahya –semoga Alloh ta’ala menyelamatkannya- menjawab: “Wahai Syaikh, semoga Alloh memberi Anda taufiq, keluhan-keluhan tadi itu adalah bikin-bikinan belaka. Sekelompok orang membikin fitnah terhadap kami di sini, semoga Alloh memberkahi Anda. Mereka membikin fitnah terhadap dakwah. Dakwah ini adalah dakwah alam Islamiy. Dia bukan dakwah Yahya, dan bukanlah dia dakwah Asy Syaikh Muqbil رحمه الله semata. Dakwah alam Islamiy. Manfaatnya itu adalah untuk alam Islamiy, tercurah pada curahan agama Alloh yang benar. Maka tidak boleh bergampang-gampang untuk menyakitinya dan menimbulkan fitnah terhadapnya, baik dari orang yang dekat ataupun jauh. Dan datang keluhan-keluhan dari sekelompok orang yang membikin fitnah. Dan aku kira bahwasanya orang-orang yang menelpon aku dan Anda serta seluruh ulama itu adalah berbagai jenis orang dan aliran yang bermacam-macam, di antara mereka ada orang yang tidak memahami sebagian perkara, dan sebagian mereka ada yang pendusta, dan sebagian dari mereka ada yang menebarkan fitnah, mengobarkannya dan aktif bergerak di sekitarnya, dan dia tidak peduli akan terjadinya tabrakan antara Asy Syaikh Robi’ dan Asy Syaikh Yahya atau Asy Syaikh Fulan dengan Asy Syaikh Fulan, dan lestarilah pergesekan antar ulama, dan dia menonton. Dan apa beban dia???

Mungkin engkau dapati satu orang menulis diinternet dan dia punya dua puluh nama. Dia menulis satu perkataan, lalu menurunkan di bawah tulisan tadi perkataan: “Jazakallohu khoiro wahai Aba Fulan.” Lalu dia menurunkan di bawah tulisan tadi perkataan: “Masya Alloh ‘alaik wahai Aba Fulan,” dengan nama lain dan julukan lain. Dan mereka menyalakan fitnah dan mengobarkannya. Ini telah dikenal. Maka orang-orang yang menelpon tadi itu, tidak diketahui bagaimana keadaan mereka.

Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang punya hasrat dan dengki terhadapku, dan terhadap dakwah ini. Tiada satu kebaikanpun, sedikit ataupun banyak kecuali didapati adanya orang yang mendengkinya. Ditambah lagi bahwasanya bisa jadi mereka itu adalah para pengobar fitnah dan didorong untuk membikin fitnah di dalam dakwah, dan keinginan-keinginan yang selain itu. Wallohua’lam.

Dan pada asalnya, seseorang itu berjalan di atas jalur yang benar. Darul Hadits di Dammaj itu merupakan mata air kebaikan, telah dikenal demikian dulu dan sekarang. Kenapa beliau membenarkan seorang penelpon dari negri Fulani? Sebagian dari mereka adalah a’jamiy, sebagian yang lain tidak diketahui bagaimana keadaannya, dan bahwasanya dia itu demikian dan demikian, menakut-nakuti dengan yang demikian itu, dan membesar-besarkan nilai mereka. Dan mereka memancangkan diri menentang dakwah salafiyyah. Ini tidak benar, ini adalah kekeliruan yang parah.

Pembaca lembaran melanjutkan: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Demi Alloh Yang tidak berhak diibadahi kecuali Dia, ada orang yang pergi ke Dammaj selama dua hari atau tiga hari atau sebulan atau dua bulan, lalu pergi ke tempat yang terjauh seperti Rusia dan berkata: “Ubaid, Ubaid, Yahya, Yahya”

Syaikh kita Yahya وفقه الله menjawab: “Aku katakan: semoga Alloh memberkahi kalian. Yang yang datang dari Rusia misalkan, ke tempat ini, cinta pada kebaikan, kita menghukuminya sesuai dengan apa yang nampak. Anggaplah dia itu tinggal di sini sehari atau dua hari, dan dia pergi dalam keadaan bodoh, tidak pergi di atas ilmu, maka yang seperti ini berhak untuk diberi pengertian, berhak untuk diberi nasihat. Jika dia keliru, dikatakan padanya: “Tinggalkan kekeliruan itu, dan setialah pada kebenaran.” Jika dia benar, dikatakan padanya: “Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan, dan tambahilah dalam belajar.

من يرد الله به خيرا يفقه في الدين، الحديث

“Barangsiapa dikehendaki Alloh kebaikan untuknya, Alloh akan memahamkannya dalam agama.”

Dan:

خيركم من تعلم القرآن وعلّمه، الحديث

“Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”

Alloh berfirman:

﴿ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ﴾ [العلق: 3-4]

“Bacalah dan Robbmu Yang Mahamulia, Yang mengajarkan dengan pena.”

Meskipun aku itu tidak tahu siapakah orang yang tinggal sehari dan dua hari lalu pergi untuk berdakwah. Kesalahan itu tidaklah dinisbatkan kepadaku.

﴿وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ﴾ [الأنعام: 164]

“Dan tidaklah setiap jiwa berbuat  kecuali akan menimpa dirinya sendiri. Dan tidaklah seseorang yang berdosa itu memikul dosa orang lain.”

Adapun kasus Ubaid, Ubaid ta’ashshub (fanatik), menzholimi kami. Dan dia itu yang mulai menyerang kami, bukan kami yang mulai menyerang dia, Alloh tahu itu. Ini ada sejarah alur perkataanku bersama dia sejak dari permulaannya, tersebar di situs-situs dalam bagian risalah-risalah. Ubaid keluar ke Yaman, dan para pengadu domba –semoga Alloh menyikapi mereka dengan apa yang mereka berhak mendapatkannya- mendorong dirinya. Mereka mendorong dirinya dan bergerombol di sekeliling dia: “Wahai Syaikh kami, wahai Syaikh kami, wahai Syaikh kami.” Sampai dirinya bereaksi kebih keras daripada reaksi yang ini. Di depan kalian ada bencana dan kekerasan terhadap kami.

Kami terpaksa untuk membela diri kami dan membela kebaikan (markiz) ini :

﴿ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ ﴾ [البقرة: 194]

“Maka barangsiapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian. bertakwalah kepada Alloh dan ketahuilah, bahwa Alloh beserta orang-orang yang bertakwa.”

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله أرأيت إن جاء رجل يريد أخذ مالي ؟ قال فلا تعطه مالك قال أرأيت إن قاتلني ؟ قال قاتله قال أرأيت إن قتلني ؟ قال فأنت شهيد قال أرأيت إن قتلته ؟ قال هو في النار. (أخرجه مسلم (140))

Datang seseorang kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Wahai Rosululloh, kabarilah saya bagaimana jika ada orang yang ingin mengambil harta saya?” Beliau menjawab: “Jangan engkau beri dia hartamu.” Dia bertanya: “Kabarilah saya bagaimana jika dia memerangi saya?” Beliau menjawab: “Perangilah dia.” Dia bertanya: “Kabarilah saya bagaimana jika dia membunuh saya?” Beliau menjawab: “Maka engkau syahid.” Dia bertanya: “Kabarilah saya bagaimana jika saya membunuh dia?” Beliau menjawab: “Maka dia di dalam neraka.”

Dan pemilik kebenaran itu punya hak bicara. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

فإن لصاحب الحق مقالا

“Karena sesungguhnya pemilik kebenaran itu berhak bicara.”

Seorang badui menuntut haknya, maka para Shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم ingin memukulnya, maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

دعوه، فإن لصاحب الحق مقالا

“Biarkanlah dia, karena sesungguhnya pemilik kebenaran itu berhak bicara.”

Manakala kami melihat bahwasanya kami punya hak bicara, dan kami terzholimi, kami dijahati, dan dia (Ubaid) fanatik bersama Al Adaniy dan hizbnya dan bersama mereka, firqoh yang memfitnah ini dan menghamburkan caci-makian dan permusuhan, sampai bahkan dia berbuat jelek pada Syu’bah dalam rangka menyerang diriku. Dan sampai pada tingkat dia berkata: “Orang-orang asing jangan datang ke Dammaj!! Dan yang di dalam Dammaj harus pergi!! Dan para penduduk Dammaj harus berbuat demikian-demikian terhadap Al Hajuriy, mintalah tolongan pada pemerintah untuk menangani Al Hajuriy!!” dan ucapan-ucapan jahat dan kosong yang lainnya, tersebar di situs. Perbuatan ini tidak boleh.

Tidak berhak dia ataupun yang lainnya mengucapkan itu, berdasarkan hadits:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Termasuk dari bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak menjadi kepentingannya.”

Lihatlah bantahanku terhadap ucapannya dan serangannya tentang kasus “Kelompok yang paling dekat kepada kebenaran” dalam risalah “Luthfulloh Bil Kholq Min Mujazafatisy Syaikh Ubaid Al Jabiriy Bi Romyihi Bil ‘Azhoim Liman Qola Aqrobuth Thowaifi Ilal Haq” Ubaid menyerang ulama banyak sekali, di antaranya adalah Al Imam Ibnu Baz رحمه الله bersama Lajnah Daimah حفظهم الله , Ubaid berbicara tentang mereka dengan ucapan yang paling buruk.

Baik, aku sekarang menuntut ditegakkannya nasihat yang mana nasihat itu adalah timbangan manhaj salafiy, dan agar jangan sampai di barisan kita ada penerapan kaidah Al Banna: “Kita saling menolong dalam perkara yang kita sepakati, dan sebagian dari kita memberikan udzur pada sebagian yang lain dalam perkara yang kita perselisihkan.”

Ubaid dengan perkataan tadi telah berbuat jelek pada para ulama, Lajnah Daimah -yang termasuk di dalamnya adalah Al ‘Allamah Ibnu Baz رحمه الله termasuk dari orang yang kita sebutkan di sana- dengan ucapan yang keras, dalam keadaan dia mengira bahwasanya dia akan melempari aku, tapi ternyata dia melempari semuanya. Kenapa dia tidak dinasihati sampai dia meninggalkan ucapan itu? Dan ucapan yang lain yang disitu dia menyelisihi kebenaran.

Ubaid telah berbuat jelek pada Ka’b bin Malik رضي الله عنه , dan berkata: “Jika Ka’b mati dalam keadaan seperti itu niscaya dia mati dalam keadaan sesat dan menyesatkan.”

Ubaid Al Jabiriy berkata tentang Al Maktabatus Salafiyyah yang dikelola oleh sebagian orang-orang bodoh dan ahli taqlid di Birmingham dari Negara Inggris di tengah gereja-gereja dan tempat-tempat minuman keras dan keburukan yang lainnya, bahwasanya tempat itu adalah negri untuk hijroh, sementara berkebalikan dengan itu dia menasihati orang-orang untuk keluar dari Dammaj.

Dan sikap-sikap liar yang lain.

Kemudian Asy Syaikh Robi’ diam terhadap Asy Syaikh Ubaid dan terhadap fitnah yang terjadi dari mereka. Dan mereka menumpuknya di atas kepalaku dan di atas kepala saudara-saudaraku. Kami ingin adanya nasihat. Ini adalah manhaj salafiy. Agama Alloh wajib ditegakkan tanpa sikap condong ke Ubaid ataupun kepada yang lainnya.

Ketika Ubaid melampaui batas terhadap kami dan menzholimi kami, dan terjadi apa yang terjadi dari perkara-perkara tersebut, demi Alloh, kami membela diri kami dan membela kebaikan (dakwah) ini dengan benar. Dan kami jelaskan pada orang-orang sebagian dari apa yang ada pada Ubaid. Dan:

كلكم لآدم وآدم من تراب

“Kalian semua adalah anak Adam, dan Adam itu dari tanah.”

Dan:

إن لصاحب الحق مقالا

“Sesungguhnya pemilik kebenaran itu berhak bicara.”

Maka banyak orang yang menerima kebenaran yang ada pada kami, dan segala puji bagi Alloh dan mereka tak mau menerima ucapannya yang tanpa hujjah.

Dan manusia itu diagungkan oleh kebenaran dan dihinakan oleh kebatilan. Maka jika seorang pelajar pergi, tidaklah kebiasaannya itu mengulang-ulang ini. Tidak, demi Alloh. Akan tetapi jika mereka menanyainya dan dia berkata: “Fulan keliru dan menzholimi dakwah salafiyyah dalam masalah demikian, dan berbuat demikian,” ini bukanlah maknanya bahwasanya si pelajar ini dendangannya adalah itu (selalu menyebutkan kejelekan Ubaid). Dan orang yang tak punya perhatian pada ilmu, kami tidak peduli dengannya. Kami bersemangat kepada orang yang bersemangat pada ilmu, kepada sunnah, dan kepada kebaikan:

﴿وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا﴾ [الأنعام: 164]

“Dan tidaklah setiap jiwa berbuat  kecuali akan menimpa dirinya sendiri.”

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Ubaid, Ubaid, Yahya, Yahya, Yahya di langit, dan Ubaid mubtadi’. Ini adalah dakwah mereka.”

Asy Syaikh Yahya menjawab: “Apakah Anda meyakini ini wahai Syaikh? Bahwasanya ini adalah dakwah kami? Apa makna “Kecuali Ubaid dan Yahya”? Mereka itu tidak pergi berdakwah kepada tauhid? Dan Mereka itu tidak pergi berdakwah kepada sunnah? Dan Mereka itu tidak mengajarkan kitab-kitab ilmiyyah di cabang-cabang ilmu yang bermacam-macam? Mereka tak punya dakwah kecuali “Ubaid dan Yahya”? Ini tidak benar.

Demi Alloh, orang-orang yang keluar untuk berdakwah ke berbagai tempat di dunia, bertanyalah tentang mereka, tentang orang-orang yang turun ke tempat mereka. Jangan kalian bertanya pada orang-orang yang punya hasrat dan pendengki dan bertentangan dengan mereka, dari kalangan orang-orang yang mengobarkan fitnah macam ini. Hendaknya kalian bertanya pada orang yang para dai tadi turun ke tempat mereka. engkau akan dapati satu orang tinggal di tempat mereka sebulan dan menyelesaikan dars-dars untuk mereka, kitab-kitab ringkas tentang tauhid, bisa jadi kitab “At Tauhid”, bisa jadi “Al Ushuluts Tsalatsah”, bisa jadi “Al Wasithiyyah”. Sekian kitab mereka tekuni bersama para murid mereka sampai selesai dari dars itu, disertai dengan ceramah-ceramah dan disertai nasihat, lalu pulang kembali. Maka bagaimana dikatakan bahwasanya ini adalah dakwah mereka?

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Brithonia, Sudan, Mesir, Turki, Kenya, Libia, dan seluruh negara semua dipenuhi dengan kebencian menentang salafiyyin dan salafiyyah.”

Jawab Asy Syaikh Yahya: “Aku berlindung pada Alloh. Tidak demikian, demi Alloh. jika negara-negara dipenuhi dengan hizbiyyin, dipenuhi dengan ‘ilmaniyyin (sekuler), dipenuhi dengan Yahudi dan Nashoro, mereka berusaha membikin orang-orang benci pada salafiyyin dan salafiyyah. Maka ini tidak dituntutkan kepada kami. Adapun tuduhan bahwasanya kami berusaha membikin orang-orang benci pada salafiyyah, maka ini tidak benar.

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴾ [الأحزاب: 70]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar”

Hanyalah yang terjadi: anggaplah misalkan dia ditanya tentang suatu kasus (lalu dia menjawab): “Fulan inilah yang zholim, inilah yang berbuat demikian,” mereka diingatkan tentang orang itu, dan pintu bantahan itu terbuka. Berapa banyaknyakah Anda membantah orang-orang? Kami tidak berkata: “Sesungguhnya Anda membantah salafiyyah semuanya” kami katakan: “Anda berbicara tentang Fulan, tentang orang yang keliru dalam kekeliruan fulaniy” dan menjelaskan demikian dan menerangkan keadaan fulan. Dan kami tidak menjadikan yang demikian itu bahwasanya beliau membantah salafiyyah semuanya. Apa ini?!

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “ Tidak didapatkan perang semisal ini!”

Asy Syaikh Yahya menjawab: “Demi Alloh, tidak didapatkan sikap keras terhadap kami macam ini. Adapun peperang, itu tidak didapatkan dari kami, yaitu dari orang-orang salafiyyin yang kita harapkan kebaikan mereka. Dan kami demi Alloh membutuhkan bantuan mereka dan pertolongan mereka, dan kami bersyukur pada mereka dan kepada setiap orang yang mencurahkan kerja keras bersama kami. Adapun beliau memikulkan pada kebaikan (dakwah) ini bahwa ini adalah peperangan, dan bahwasanya tidak didapatkan perang semisal ini, apakah kita ini memerangi Islam wahai saudara-saudaraku? Mahasuci Engkau wahai Robb.

Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi’ berkata: “Kita telah sabar selama tujuh tahun, sampai pada kita surat-surat dan keluhan-keluhan.”

Asy Syaikh Yahya menjawab: “Demi Alloh, kesabaranku lebih banyak. Demi Alloh, kesabaranku lebih banyak. Hadir di sisi Anda wahai Syaikh, -semoga Alloh memberi Anda taufiq-, orang-orang yang cinta pada Anda dari kalangan pelajar Dammaj dan yang selainnya, Anda menyambut mereka dengan hasungan untuk menyerang saya: “Perbuatlah terhadap Yahya, ratakanlah Yahya,” Anda membikan mereka bergolak, dan Anda berhujjah dengan pergolakan mereka. dan akan datang bukti tentang itu dalam risalah ini. Pembatasannya sulit, dan contohnya akan datang. Perbuatan ini tidaklah membikin diri Anda senang menimpa diri Anda sendiri. Dan Anda tidak rela hal itu untuk diri Anda sendiri, dan tidak pula untuk diriku. Perbuatan tadi menyebabkan perpecahan dalam dakwah, menyebabkan bahaya terhadap dakwah. Dan mukmin itu berupaya memperbaiki hubungan antar sesama.

Anggaplah bahwasanya mereka menerima ucapan Anda tadi dan misalkan sejumlah pelajar di sini bangkit. Mereka ribuan, hanya milik Alloh sajalah pujian. Yang satu berkata dengan ucapan Anda ini: “Bangkitlah kalian untuk menghadapi Yahya, berbuatlah demikian dan demikian.” Dan sekelompok orang berkata: “Ini keliru, kami tidak melihat adanya kejelekan. kami tidak melihat adanya keburukan.”

Anda akan melihat mereka saling memukul wahai Syaikh. Anda akan melihat mereka saling bertengkar wahai Syaikh. Anda akan melihat mereka saling mencaci wahai Syaikh. Apakah Anda ridho dengan ini? Akan terjadi fitnah di antara salafiyyin, fitnah, pertengkaran, saling boikot, dan kejelekan di dalam dakwah di markiz yang sama. Dan orang-orang yang ada di atas kebaikan, di atas ilmu, dan di atas dakwah menjadi tumbal upaya penggolakan dan hasungan tadi!

Tujuh tahun. Dalam tujuh tahun ini semua aku dizholimi dan aku sabar. Demi Alloh. Dan termasuk dari kezholiman tersebut –jika memang benar beritanya- adalah apa yang dinukilkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy, bahwasanya dia duduk bersama Asy Syaikh Robi’, dan Alloh sebagai saksi. Dan para masyayikh waktu itu hadir dan merasa sakit hati, karena dia menukilkan dari Asy Syaikh Robi’ yang berkata: “Seretlah Al Hajuriy dari atas kursinya, dan hendaknya penggantinya telah ada.”

Mahasuci Alloh, wahai saudaraku, aku itu ada di atas wasiat dari pemegang urusan ini. Dan Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

﴿ فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ﴾ [البقرة: 181]

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya.”

Ini adalah dakwah. Ini bukan kursi kepemimpinan: “Pergilah engkau, pergilah engkau (teriakan para demonstran terhadap mantan presiden Yaman Ali Abdulloh Sholeh).”

Benar, ini adalah dakwah, ini adalah agama. Ini apa sih wahai saudaraku? :

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Termasuk dari bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak menjadi kepentingannya.”

(sampai di sini dulu dan insya Alloh akan dilanjutkan bagian kedua (tamat) dalam beberapa hari mendatang. Walhamdulillah robbil ‘alamin).

 

  Nasehat untuk Syaikh Robi’ – 7 Jumadil Ula 1434H (MP3 – 9.3 MiB)

 

 

BERSAMBUNG disini bagian ke-2 (Selesai) Insya Allah !

 

Sumber : ashhabulhadits di re-post khusus untuk ISLAMIC ZONE https://thibbalummah.wordpress.com/

 

 

Baca Juga Artikel Terkait:

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Berita Dunia Islam, Nasehat, PROBLEMATIKA UMMAT, Realita Ummat, Tahdzir & Bantahan dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.