NASEHAT TERBUKA Untuk Pemerintah di Tanah Airku Indonesia


بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan:

Kami sudah membaca tulisan utadz yang berjudul “Irsyadul Insan fii Ma’rifati Huquqis Sulthon“, diantara hak pemerintah adalah diberi nasehat, kalau ustadz mempunyai waktu bisa tidak memberi nasehat terbuka untuk seluruh pemerintah kita di Tanah Air!.

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory ~Hafidzohulloh~ menjawab:

بِسمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَحْمَدُهُ، وَأَسْتَعِينُهُ، وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد:

Al-Imam Al-Bukhory semoga Alloh merahmatinya berkata: Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

إِذَا اسْتَنْصَحَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيَنْصَحْ لَهُ

“Jika salah seorang diantara kalian dimintai nasehat oleh saudaranya maka hendaknya dia memberinya nasehat“.

Hadits ini adalah shohih, walaupun Al-Imam Al-Bukhory tidak menyebutkan sanad (jalur periwayatan)nya namun beliau menyebutkan dengan bentuk pemastian “telah berkata”, dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dengan menyebutkan sanadnya yaitu diriwayatkan dari hadits ‘Atho Ibnis Saib, dari Hakim bin Abi Yazid, dari bapaknya, beliau berkata: Telah menceritakan kepadaku bapakku: Rosululloh (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

فَإِذَا اسْتَنْصَحَ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فَلْيَنْصَحْ لَهُ

“Jika seseorang meminta nasehat kepada seseorang (yang lain) maka hendaknya dia memberinya nasehat”. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqy dari hadits Jabir sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Hajar di dalam “Fathul Bariy“.

Beranjak dari hadits tersebut maka kami sampaikan satu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhory dan Muslim di dalam “Ash-Shohihain” dari hadits Abdulloh bin Umar semoga Alloh meridhoinya, bahwasanya Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

«أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ».

“Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian adalah dimintai pertanggung jawaban dari kepemimpinannya”.

Seseorang yang memegang suatu kepemimpinan atau menjabat sebagai aparat negara tentu memiliki harapan untuk bisa melangkah ke depan dengan yang lebih baik, dia berharap untuk bisa membawa bangsa dan negara ke masa depan yang lebih baik, namun bila seseorang menyalahi prosedur maka tentu apa yang dia harapkan tidak akan tercapai.

Pada kesempatan ini kami akan mengingatkan mereka yang memiliki harapan yang demikian bagus itu untuk meninjau kembali kejadian yang pernah berlalu, di zaman Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) terdapat dua kerajaan besar yaitu Romawi dan Persia, apa yang menyebabkan dua negara besar tersebut runtuh?.

Kalaulah mereka mengikuti agama yang dibawa oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) atau minimalnya mereka mendukung dan membantu dakwahnya maka tentu kerajaan mereka tidak akan runtuh, Hiraqlius berkata kepada para mentri dan pembesar-pembesar di istana kerajaanya:

يَا مَعْشَرَ الرُّومِ، هَلْ لَكُمْ فِي الفَلاَحِ وَالرُّشْدِ، وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ، فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِيَّ

“Wahai seluruh penduduk Romawi, adakah pada kalian pada keberuntungan dan petunjuk, dan jika kerajaan kalian ingin kokoh (tetap jaya) maka ikutilah Nabi tersebut”.

Hiraqlius tahu bahwa kejayaan itu hanya bisa diperoleh dengan mengikuti kebaikan yang dibawa oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) namun karena dia takut bawahannya akan meninggalkannya, maka dia pun akhirnya tidak beriman kepada Nabi, tidak menerima dakwahnya dan tidak pula mendukungnya, yang pada akhirnya dia pun lengser dari jabatannya dan negaranya pun hancur lebur.

Maka kami sampaikan kepada pemerintah Indonesia untuk tidak seperti pemerintah Romawi dan Persia, akan tetapi jadilah pemerintah yang memiliki perhatian tinggi terhadap Islam.

Sungguh kami telah menyaksikan banyak rakyat kecil telah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa pendanaan dan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan jasmani dan kami sangat berterima kasih atas yang demikian itu dan kami berdoa agar Alloh memberi hidayah kepada pemerintah Indonesia dan membantu mereka dalam menjalankan kebaikan, namun bantuan dalam perkara yang berkaitan dengan rohani masih sangat minim, sekadar contoh ketika kami sempat ke salah satu kampung dekat sumber mata air di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur kami mendapati warga dalam kampung tersebut tidak mengenal agama Islam (padahal mereka mengaku sebagai pemeluk agama Islam), dan kami mendapati sebuah masjid kecil tidak ada yang sholat di dalamnya melainkan seorang, yang dia adalah imam masjid, dia azan lalu iqomah lalu sholat sendirian, ini masih di ruang lingkup di pulau Jawa yang dikenal banyak pondok pesantren dan sekolah-sekolah Islamnya lalu bagaimana kiranya dengan di luar Jawa? Dan kami dapati pula banyak perkampungan di pulau Seram-Maluku, kaum musliminnya bernasib sama dengan kampung yang kami sebutkan.

Kami menyingggung permasalahan ini karena negara kita Indonesia telah harum namanya di mata dunia, terkhusus di dunia Islam bahwa dia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, oleh karena itu, maka kami sampaikan kepada yang masih memiliki rasa peduli terhadap nasib umat Islam untuk memperbaiki dan menjaga nama baik tersebut, serta berupaya untuk membenahi segala kecacatan dan kekurangan pada umat, Alloh (تعالى) berkata:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ} [الرعد: 11]

“Sesungguhnya Alloh tidak akan berubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sampai mereka (kaum tersebut) merubah apa-apa yang ada pada diri-diri mereka’. (Ar-Ro’d: 11).

Jika kita melihat kembali kepada sejarah nasional Indonesia maka kita akan mengetahui secara jelas bahwa para pejuang kemerdekaan mayoritasnya dari tokoh-tokoh Islam, bahkan para TNI di zaman itu mendominasi dari kalangan pesantren, maka sebagai rasa bentuk penghargaan atas jasa-jasa tersebut kami sampaikan dengan penuh hormat kepada pemerintah Indonesia untuk memperhatikan nasib kaum muslimin.

Bukan suatu kerugian kalau pemerintah terkhusus bagi mereka yang beragama Islam untuk membantu memperhatikan pendidikan Islamnya rakyat yang ada di pedalaman seperti yang kami sebutkan atau bekerja sama dengan pemerintah Saudi Arobia dalam menyebarkan buku-buku agama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahkan upaya semua itu terhitung sebagai amal jariyah (yang terus menerus mengalir) bila dilakukan karena kesadaran dan penuh keikhlasan, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “

“Jika seseorang mati maka terputuslah semua amalannya melainkan dari tiga (perkara), yaitu: Sedekah jariyah (sedekah yang terus mengalir pahalanya), atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang sholih yang mendoakannya”.

Hendaknya bagi mereka yang memiliki kesadaran tentang permasalahan ini, ketika membantu menyebarkan buku-buku agama atau memulai mendidik masyarakat Islam maka hendaknya memulai dengan yang paling terprinsip yang berkaitan dengan aqidah dan keyakinan sehingga dengan itu akan menghasilkan kebaikan untuk semua, Alloh (تعالى) berkata:

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [النور: 55]

Kemudian setelah itu kami nasehatkan pula kepada pemerintah untuk tidak menjadi seperti seorang zindiq lagi kafir, ketika dia menjadi pemimpin dia berupaya untuk melegalkan paham nasionalisme agama komunis di Tanah Air, dia menghinakan Islam, mengatakan Al-Qur’an adalah ada pornonya, ikut duduk bersama para biarawati dalam menyembah salib, ikut menyembah thoghut/ratu pantai selatan, menaungi agama baru Al-Bahamiyyah Al-Babiyyah, menyembah kubur, memberi kebebasan sholat dengan bahasa daerah masing-masing, dan mencela kaum muslimin Ambon serta mempersiapkan pasukan berani matinya untuk menumpas kaum muslimin di Ambon.

Jika seorang pemimpin mengikuti jejak seperti si zindiq yang kafir tersebut maka tentu tidak akan lama kepemimpinannya akan lenyap dan sekaligus dia akan binasa, Alloh (تعالى) berkata:

{قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} [آل عمران: 26].

Demikian nasehat singkat dari kami, semoga bermanfaat untuk kita semua, dan semoga Alloh memberi hidayah kepada kita dan pemerintah kita dan membantu mereka dalam melaksanakan kebaikan.


وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: ashhabulhadits.wordpress.com re-post khusus untuk ISLAMIC ZONE https://thibbalummah.wordpress.com

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di KONSULTASI Syari'ah, Manhaj Ahlus Sunnah, Nasehat dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke NASEHAT TERBUKA Untuk Pemerintah di Tanah Airku Indonesia

  1. Ali Mustofa berkata:

    Sangat bermanfaat,,,,

Komentar ditutup.