Kitab THIBBUN NABAWIY Bab. 1 s/d 4

Judul Kitab Thibbun Nabawi (Juga dieja Thibb An-Nabawiy).
Kali ini, ana akan mencoba tampilkan beberapa uraian sebagaimana yang terdapat dalam kitab tersebut yang terdiri lebih 67 judul besar.

Ini kesinambungan dari uraian kitab Zaadul Maad

dan Kitab Ad-Daa Wa Ad Dawaa

oleh Muhammad bin Abi Bakr (محمد بن أبي بکر), bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i bin Hariz az-Zar’i ad-Dimasyqi, atau dikenal dengan sebutan Ibnu Qoyyim Al-Jauziah.

Di dalam kitab ini mencakup judul tentang perawatan penyakit fisik (sebagai Thobib), bekam, sifat dan perbuatan nabi, pengobatan penyakit hati dan pengobatan penyakit akibat gangguan sihir dan jin (sebagai Muallij). Maka penggunaan thobibi haruslah sejalan dengan kemampuan kita merawati penyakit fisik, sedangkan istilah Muallij haruslah sejalan dengan kemampuan kita merawat sihir. Singkatnya:

a. Seorang thobib tidak semestinya seorang Muallij tetapi thobib bisa juga menyembuhkan sihir. Thobib memiliki resep tips bahan alamiah dan menggabungkan zikir dan doa.

b. Seorang Muallij tidak semestinya seorang thobib dan ia mengkhususkan dirinya dengan perawat sihir. Muallij hanya menggunakan ayat quran dan doa untuk kesembuhan.

c. Jika seorang itu bisa mengobati keduanya tadi, maka ia harus menyatakan dirinya dengan satu nama julukan yang merujuk kepada kemampuan dan keahliannya. Jika ia lebih pakar hal sihir, maka ia harus menggunakan gelar Muallij sedangkan jika ia pakar dengan pengobatan penyakit fisik, ia harus menyatakan dirinya sebagai thobib. Ini sesuai dengan hadist rasulullah yang hanya menggunakan layanan thobib yang ahli saja ketika merawat diri dan sahabat akibat cedera perang maupun penyakit.

Bab 1-4 merupakan judul identifikasi untuk kitab Thibbun Nabawi ini. Terjemahan ini adalah ditulis daftar isi penting seringkasnya karena kitab ini terlalu tebal


BAB 1: PENDAHULUAN

Pembagian Penyakit
a. Penyakit hati (Dijelaskan lebih rinci dalam Kitab Ad-Daa wa Ad-Dawaa ‘oleh Ibnu Qayyim)
i. Penyakit syubhat disertai was-was
Dijelaskan dalam surat An-Nur ayat: 50
أفي قلوبهم مرض أم ارتابوا أم يخافون أن يحيف الله عليهم ورسوله بل أولئك هم الظالمون
Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang lalim.

ii. Penyakit cinta disertai kesesatan
dijelaskan dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 10:
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

b. Penyakit jasmani
Allah berfirman dalam surah An-Nur ayat 61:
ليس على الأعمى حرج ولا على الأعرج حرج
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit ..

Allah menyebut tentang penyakit jasmani dalam ibadah haji, puasa, wudhu dan lain-lain lagi. Karena itu Allah dan rasulNya telah menetapkan perlunya:

a. Menjaga kesehatan
b.Menjaga tubuh dari unsur bahaya (racun, basi, tajam, bisa, binatang buas, dll)
c. Mengeluarkan zat bahaya dalam tubuh (darah, kencing, kentut, muntah, bersih, lapar, mengantuk, haus, dll).
d. Berpuasa


BAB 2: PERAWATAN PENYAKIT JASMANI

1. Peranan empat unsur berperan di dalam tubuh manusia yaitu tanah, api, air dan angin. Kompilasinya adalah panas, dingin, lembab dan kering. Kemudian di ikuti panas dan lembap, panas dan kering, dingin dan lembab, dingin dan kering. Maka medis harus memiliki kaitan antaranya.

2. Cara merawatnya:
a. Seperti yang diilhamkan (sunnatullah dan fitrah) seperti bila lapar, maka harus makan, bila haus harus minum, bila letih harus istirahat, bila mengantuk harus tidur.
b. Membutuhkan analisa dan diagnosa seperti tubuh tak stabil, suhu badan naik, sakit di bagian tubuh dsb. Maka itu dibagi lagi menjadi dua jenis:

i. Penyakit fisik – penyakit alami seperti flu, demam, kanker, jantung dll
ii. Penyakit konduktif – yaitu penyakit infeksi atau penyakit wabah.


BAB 3: CARA RASULULLAH MENGOBATI DIRI SENDIRI

1. Beliau tidak menggunakan obat kimia seperti yang dipelopori bangsa romawi dan yunani yang mana medis itu juga telah diaplikasikan oleh Ibnu Sina dalam thesisnya.

2. Bahaya obat kimia (Eqrobadjin) adalah ketagihan atau kerusakan badan. Jika sembuh terlalu cepat, berarti dosa kifarah hanya dapat terhapus sedikit atau belum sempat terhapus. Ini mengurangi dekatnya diri kita pada Allah.

3. Rasulullah hanya memilih makanan khasiat tinggi di Tanah Hijaz berdasarkan wahyu dan ucapan Jibril terus kepadanya. Orang bukan islam menafsirkan itu ilmu kedokteran fitrah, sebagaimana hewan mengobati dirinya misalnya kucing akan menjilat minyak pelita (zaitun) ketika ia terkena racun.

4. Pengobatan Rasulullah bisa dianggap rekonstruksi sel tubuh dengan bersandar dan bertawakal kepada Allah melalui zikir, doa, membaca al-quran, shalat, berpuasa, bertobat, berbuat baik sesama manusia, membantu sesama manusia dan sedekah. Ternyata ia juga memberi ‘penyembuhan’ terhadap rohani lalu menguatkan pula badan sipasien tadi.


BAB 4: SETIAP PENYAKIT ADA OBATNYA

Ada banyak hadist tentang antaranya:

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah SWT, sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit kecuali menciptakan obat baginya … diketahui oleh yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh yang tidak mengetahuinya.” (Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)

“Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat tepat mengenai penyakit, maka akan ada kesembuhan dengan izin Allah SWT.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kamu, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Daud)

“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasullah SAW telah bersabda: ‘Pada al-Habbah al-Sawda’ ada obat untuk segala penyakit, kecuali as-sam.” Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Bukhari dan Ibnu Majah. Dan hadis ini tercantum dalam himpunan hadist-hadist sahih nomor 857.

Juga beberapa firman Allah termasuk:
ياأيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus: 57)

فاستجبنا له فكشفنا ما به من ضر وءاتيناه أهله ومثلهم معهم رحمة من عندنا وذكرى للعابدين
Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al-Anbiya: 84)

وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين إلا خسارا
Dan Kami turunkan dari Al Qur `an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur` an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian. (Al-Isra: 82)

Wallahu alam bissawab.
Referensi kitab Thibbun Nabawi (Ibnu Qayyim al-Jauziah), terjemahan oleh Muallij Mustaqim.
Ikuti Thibbun Nabawi Bab 5-6 (insya Allah) di https://thibbalummah.wordpress.com

Sumber: http://ibnnajib.blogspot.com/2010/12/thibbun-nabawi-bab-1-4.html diposting untuk ISLAMIC ZONE http;//thibbalummah.wordpress.com

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Pengobatan Nabawi, Rekomendasi Buku, Terapi Bekam, Terapi Herbal's, Terapi Ruqyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.