BIOGRAFI Ulama Ahlussunnah As-Salafiyah: SYAIKH YAHYA Bin ALI AL-HAJURY ~حفظه الله تعالى~

Ditulis oleh:
Syaikh Yahyâ bin ‘Alî al-Hajûrî حفظه الله تعالى

(Dinukil dari kitab: “Madza Yanqimu al-Jahiluun `ala Yahya” karya : Abul-Yaman `Adnan ad-Damari حفظه الله تعالى)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Telah diminta dariku untuk menulis sedikit tentang kelahiran, nama, negeriku, masa pertumbuhanku dan beberapa yang berkaitan dengannya. Dan setelah aku diminta secara berulangkali, maka aku pun memenuhi permintaan mereka (yang aku cintai dan muliakan) dengan menulis beberapa paragraf ini. Maka aku katakan -Dengan mengharap taufik dari Allôh-:

Adapun namaku : Yahyâ bin ‘Alî bin Ahmad bin ‘Alî bin Ya’qûb al-Hajûrî, berasal dari Kabilah Bani Wahan, dari desa Hanjaroh yang berada di bawah gunung Hanjaroh, mudah-mudahan Allôh muliakan mereka dengan menuntut ‘ilmu al-Qur’ân dan as-Sunnah Rosûlullôh. Kemudian kakekku, Ahmad bin ‘Alî bin Ya’qûb pindah dari desanya ke desa lain, yang desa itu terpisah jauh dengan desa sekitarnya serta memiliki jarak yang cukup jauh dari desa asalnya, nama desa tersebut Jabar Qobîlah az-Zaghobiyyah. Kemudian beliau menikah dengan salah satu wanita dari penduduk daerah itu, jadilah mereka tersebut sebagai kerabatku dari pihak nenek. Ayahku tumbuh di antara sebagian keluarga mereka dan kemudian menikah dengan salah putri mereka yaitu dengan ibuku yang beliau berasal dari keluarga ‘Iqol dari desa az-Zaghobiyah (semoga Allôh merahmati di antara mereka yang sudah meninggal serta memperbaiki keadaan mereka yang masih hidup) dan di sanalah aku di lahirkan sekitar 40 tahun yang silam, di hari yang terkenal dengan hari Revolusi Republik Yaman.

Ayahku حفظه الله تعالى, sepanjang umurnya digunakan dalam rangka ketaatan kepada Allôh. Beliau gemar berkebun dan beliau dahulu berkebun di ladang yang cukup luas. Dari kebun itu menghasilkan hasil yang cukup banyak dari gandum, jinten dan yang lainnya. Sampai-sampai sebagian dari orang berhutang gandum dan pakan sapi kepada ayahku ketika musim kemarau. Selain dari itu telah Allôh memberikan kepadanya binatang ternak dari kambing dan sapi. Dan Alhamdulillâh, kehidupan orang tuaku dalam keadaan yang sangat baik. Kedua orang tuaku mendidik diriku dan saudara-saudaraku dengan pendidikan yang bagus, mereka berdua jauh dari perkara-perkara yang jelek seperti kot (sejenis ganja khas Yaman), rokok, syammah (bubuk yang fungsinya yang sama dengan kot tapi lebih keras), dan perkara-perkara mungkar lainnya. Beliau sangat benci dan tidak suka apabila melihat salah satu di antara kami kurang peduli dalam sholat jamâ’ah ataupun sholat sunnah rowâtib. Dan yang paling beliau impikan adalah kelak ada di antara kami anak-anaknya yang akan menjadi ‘âlim ‘ulamâ. Dalam keadaan tidak ada di daerahku tempat belajar kecuali kepada katâtib (orang yang pintar dalam masalah agama). Maka beliau menaruhku di tempat belajar yang dinamakan Ma’lamatusy-syaikh yang pengajarnya adalah orang yang terpercaya dan faqîh di desa kami. Beliau juga merangkap sebagai khotîb di desa kami, nama beliau Yahyâ al-‘Atabî rohimahullôh. Metode belajar di tempat tersebut adalah sebagaimana metode pendidikan tempo dulu (klasik), belajar membaca al-Qur’ân dengan melihat mushaf dan belajar menulis. Bagi yang selesai ataupun lulus dari tempat tersebut biasanya akan menjadi orang yang di-faqîh-kan di desanya serta akan dijadikan imâm dan khothîb. Dan dia berkhutbah dengan membaca teks-teks khutbah yang sudah tertulis ataupun dibukukan serta tulisan-tulisan tentang akad-akad dan semisalnya. Dan al-Faqîh al-‘Atabî sangat mencintaiku dibandingkan dengan murid-murid yang lainnya. Tatkala aku lulus dari tempat belajar membaca Al-Qur’ân tersebut serta telah mengetahui sedikit ‘ilmu menulis, maka ayahku berkeinginan keras agar aku pergi belajar ke kota az-Zaidiyyah yang kota ini terkenal dengan kota ‘ilmu. Mereka terkenal dengan ahli fatwa dalam masalah thalaq, warisan dan perkara yang lainnya.

Ayahku حفظه الله تعالى adalah orang yang mencintai ‘ilmu dan agama (‘ibâdah) seperti puasa dan sholat malam. Aku tidak pernah mengetahui beliau memakan harta haram, akan tetapi beliau tidak pernah tahu tentang apa itu shûfiyah, syî’ah dan tidak pula yang lainnya dari firqoh-firqoh sesat. Beliau sangat memuliakan mereka dan mereka pun sering berkunjung kepada ayahku dan siapapun yang mengunjugi beliau dari mereka (firqoh-firqoh sesat) maka beliau sangat memuliakannya. Allôh pun menyelamatkanku dari belajar dengan mereka orang-orang shûfiyyah dengan perantara ibuku (semoga Allôh selalu menjaganya dan semoga Allôh memberikan kepadanya husnul khotîmah), tatkala beliau menangis menahanku untuk tidak pergi atau tinggal di negeri orang seorang diri tanpa adanya yang akan mencurahkan kasih sayang di negeri tersebut dan saat itu aku masih kecil. Akhirnya ayahku pun memintaku untuk menggembala kambing. Beliau adalah orang yang pertama kali membangun masjid di desa kami yang terbuat dari kayu dan jerami, masjid itu sendiri tergolong kecil dan hanya mampu menampung 40 orang ketika sholat. Ketika itu masjid kami sudah dianggap sebagai masjid jâmi’ (besar) untuk beberapa desa di sekitarnya, tatkala masjid tersebut roboh, maka dibangunlah masjid tersebut dari batu yang luasnya masih seperti yang dulu. Saat itu aku adalah imâm di masjid tersebut ketika dilaksanakannya sholat Jum’at dan ada yang menggantikanku dari tugasku menggembala kambing disebabkan aku harus berkhutbah untuk mereka dengan membaca buku yang isinya adalah khutbah-khutbah tertulis. Aku paling sering menggunakan buku al-Futuhât ar-Robaniyah yang di tulis oleh al-Baihânî rohimahullôh, sampai hampir-hampir aku menghafalnya karena terlalu seringnya aku mengulanginya.

Kemudian aku berangkat ke Saudi, di sana aku menghadiri halaqoh iqrô’ (membaca al-Qura`n) yang dilaksanakan setelah sholât fajar bersama seorang guru bernama Syaikh ‘Ubaidillâh Al-Afghônî hafidhohullôh tepatnya di kota Abhâ, aku pun sedikit belajar darinya kitab Shohîh Muslim, dan pelajaran ini (Shohîh Muslim) dimulai sebelum menyimak hapalan kami, kemudian beliau safar dan setelah itu aku pindah ke tempat Syaikh Muhammad ’Adhom yang mengajarkan al-Qur’ân di masjid al-Yahyâ. Aku membaca di sisi mereka berdua sampai pada surat al-A’rôf, kemudian beliau pun safar juga. Dan aku menyelesailkan hafalan al-Qur’ân dengan riwayat hafsh dari ‘Âshim di tempat Syaikh Muhammad Basyîr, Alhamdulillâh. Bersamaan dengan cintaku yang sangat dalam terhadap ‘ilmu, tidak ada yang menasehatiku untuk duduk belajar di hadapan Syaikh al-Imam Ibnu Bâz atau yang lainnya dari kalangan ‘ulama-ulama kerajaan Saudi ‘Arabia.

Kemudian aku mendengar tentang seorang ‘ulama yang bernama Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î, beliau adalah seorang ‘ulama salafi yang mengajarkan ‘ilmu al-Qur’ân dan as-Sunnah Rosulûllôh di daerah Dammâj, (Semoga Allôh menjaganya dan memberi taufîq kepada penduduknya dengan menganugerahi kebaikan-kebaikan yang banyak). Dammâj adalah salah satu desa di Provinsi Sho’dah, Yaman. Akupun menemui beliau di rumahnya tepatnya pada tahun 1405 H bersama ayahku, Syaikh rohimahullôh menasehatiku dengan nasehat yang bagus kemudian beliau pun pergi, setelah itu beliau terus-menerus membantuku dalam menuntut ‘ilmu dari segi harta. Semenjak itulah aku menuntut ‘ilmu, aku tidak suka bepergian dan tidak pula membuang-buang waktuku sampai akhirnya Allôh dengan keutamaannya memudahkanku untuk mengambil faedah-faedah dan ‘ilmu yang banyak. Itu semua berkat bimbingan Syaikh al-Muhaddits as-Salafî al-Maimûn Muqbil bin Hâdî al-Wâdi’î rohimahullôh.

Sebagaimana keadaan Dârul Hadîts Dammâj yang penuh barokah: aku menyandarkan semua dâ’i-dâ’i Salafiyah di Yaman kepada Imâm al-Wâdi’î (asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî) rohimahullôh. Dan aku mengambil beberapa pelajaran dari pelajaran nahwu, aqîdah, fiqih dengan beberapa masyâyikh yang kami muliakan. Mereka adalah murid-murid senior Syaikh Muqbil bin Hâdî al-Wâdi’î dipondoknya dan yang selain dari mereka (semoga Allôh memberi pahala untuk amalan mereka semua). Dahulu Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi’î (semoga Allôh menempatkannya di dalam surganya al-Firdaus yang paling tinggi) memintaku untuk menggantikan beliau mengajar ketika beliau sedang sakit atau bepergian kemudian tatkala beliau telah merasa sudah dekat ajalnya, beliau mewasiatkan kepadaku untuk menggantikan beliau (sebagai pengasuh Dârul Hadîts Dammâj). Dalam keadaan musuh-musuh ma’had Dârul Hadîts Dammâj memiliki prasangka yang buruk, yaitu setelah meninggalnya beliau, dakwah ini akan sirna dan bangunannya akan dijadikan sebagai tempat makanan hewan ternak atau dijadikan tempat untuk menikmati kot sebagaimana perkara tersebut kami dengar juga selain kami di saat sakitnya beliau dan juga pada waktu-waktu yang sebelumnya. Dan tatkala Allôh membuka hati para hamba-Nya untuk menerima kebaikan-kebaikan ini setelah meninggalnya asy-Syaikh rohimahullôh, ternyata dakwah ini semakin meluas dan menyebar dan penuntut ‘ilmu pun lebih banyak dibandingkan zaman beliau rohimahullôh masih hidup. Maka menjadi jengkellah orang-orang yang hatinya terkena penyakit hasad dari kalangan murid-murid beliau rohimahullôh dan juga yang lainnya dari orang-orang yang terfitnah dunia dan hizbiyyah. Maka Allôh membuat kejelekan mereka tak berarti (bagi dakwah) dan hancurlah makar-makar mereka. Dan dakwah ini terus berada di atas kebaikan, semua itu sebelum dan sesudahnya adalah keutamaan dari Allôh, Allôh berfirman : وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ_ النحل/53 “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” Kita memohon kepada Allôh untuk menjaga agama dan da’wah kita dan menjaga kita, negeri kita dan seluruh negeri-negeri kaum muslimin dari fitnah yang ada, baik yang nampak ataupun yang tidak, Alhamdulillâhi Robbil Âlamîn.

Ditulis oleh : Abu ‘Abdirohman, Yahyâ bin ‘Alî bin Ahmad bin ‘Alî bin Ya’qûb Al-Hajûrî. 19 Jumadil Awal 1428.

_________________________________________
Berkata Abul Yaman : Ketahuilah bahwa rutinitas ibadah beliau dan hubungan beliau dengan Alloh tidak diketahui secara persis, karena menyembunyikan ibadah lebih baik daripada menampakkannya, tapi kita bisa melihatnya apa yang nampak saja contohnya adalah di bulan Romadhon beliau mengimami manusia dalam satu malam 1-4 juz bahkan terkadang sampai 8 juz dan 10 juz, terkhusus pada 10 terakhir Romadhon, beliau menjadi imam dan makmum di belakang Syaikh Ahmad al-Wushoby, bahkan beliau meliburkan pelajaran dengan sebab jenazah karena keguguran. Pada suatu saat jatuh khotbah jum`at selain beliau maka beliau berangkat cepat ke mesjid di awal waktu dan waktu itu jadwalku untuk mengawalnya, maka beliau membaca al-Qur`an dan aku yang menyimak 9 juz satu dudukan kemudian beliau keluar untuk buang air dan kembali kemudian menyempurnakan 15 juz di hadapan akh selainku, wallohul musta`an. Dan Allohlah yang menolongnya untuk melakukan perkara ini semua, bahkan sewaktu beliau tugas juga bersama rekannya sampai khatam satu al-Qur`an penuh dalam sehari. Adapun waro`nya ketaqwaannya dan kezuhudannya contohnya banyak sekali dan cukuplah dalam masalah ini persaksian Syaikh Muqbil -rohimahulloh- sebagaimana yang sudah lewat.

Adapun bantahan-bantahan beliau terhadap para penyelisih manhaj salaf sangatlah terkenal dan sudah dimaklumi bersama bahkan barangkali beliau membantah dalam satu pekan lebih dari satu ahli bid`ah yang menunjukkan betapa besar kecemburuan beliau terhadap agama adapun banyaknya tuduhan-tuduhan kotor dan kedustaan-kedustaan atasnya maka syaikhnyapun telah diperlakukan sedemikian rupa dan orang-orang sholih sebelum keduanya demikian juga halnya perkara ini adalah sunnatulloh terhadap orang-orang yang sudah lewat sebelumnya dan kamu tidak akan bisa mengganti sunnatulloh ini sungguh beliau telah dituduh sebagai haddadi dan dituduh sebagai orang yang terburu-buru dan keras kepala dan dia dituduh juga kalau berbicara karena kepentingan pribadi dan tuduhan lainnya yang masih banyak maka ini adalah merupakan prasangka buruk terhadap ilmu dan ahlinya dan akan datang bantahan atas tuduhan-tuduhan ini.

Keserasian Antara Syaikh Muqbil denga Syaikh Yahya

Hal ini kami utarakan bukan dalam rangka merendahkan Syaikh Muqbil rahimahullohu Ta`ala bahkan sebagai pujian untuk beliau karena berhasil mendidik muridnya yang mewarisi ilmunya dari berbagai sisi, juga sebagai bantahan terhadap para pendusta yang mengatakan bahwa Syaikh Yahya telah merubah markiznya yaitu markiz iman menjadi menara islam Darul hadits Dammaj. Memang benar telah terjadi sebagian perubahan tetapi kepada yang lebih baik dan lebih utama dan saksi yang paling kuat
adalah fenomena yang ada sekarang.

Keserasian Dalam Berpegang Teguh kepada Sunnah

Al-Imam Wadi`i rohimahullohu ta`ala adalah penyeru kepada sunnah yang handal di Yaman tidak ada yang semisal dia di Yaman, padahal di Yaman ada yang lebih cerdas, lebih cekatan, dan lebih hapal daripada beliau, akan tetapi beliau lebih mengagungkan sunnah dan sangat giat dalam menyebarkan dan mengamalkan sunnah, dan kelebihan ini merupakan taufiq dari Alloh yang Dia anugrahkan kepada orang tertentu yang Ia kehendaki, dan perkara ini diketahui oleh semua orang kenal dengan beliau, baik yang jauh ataupun yang dekat.
Dan ketahuilah bahwa kholifahnya (penggantinya) yaitu Syaikh Yahya demikian pula halnya, masih tetap bersemangat memperjuangkan sunnah, membelanya, menyebarkannya, tegak kokoh di atasnya, dan sering kali beliau kita dengar mengatakan kepada para thullabnya: “Beramal dengan sunnah adalah barokah, beramal dengan sunnah adalah ketenangan jiwa kita, dan Alloh mensirnakan marabahaya dan kegundahan jiwa kita dengan mengamalkan sunnah”, bahkan beliau sering mengatakan: “Barangsiapa yang mengetahui sunnah yang belum kita amalkan tolong beritahu kami agar kita bisa mengamalkannya, karena dengan itu terangkat martabat seseorang sebagaimana ditegaskan oleh Syakhul Islam : “Alloh akan mengangkat seseorang dengan kadar keteguhan dia dalam memegang sunnah“, dan betapa beliau gembira dan besar sekali pengagungan beliau terhadap orang yang memegang sunnah, sebagai bukti kebenaran yang kami katakan adalah apa yang telah kita sebutkan dari sunnah-sunnah yang beliau hidupkan di samping penjagaan sunnah yang telah dihidupkan oleh Syaikh Muqbil رحمه الله.

Keserasian Dalam Penyebaran Ilmu dan Sunnah

Di zaman Syaikh Muqbil رحمه الله ilmu dan sunnah dengan idzin Alloh tersebar sangat pesat baik di Yaman atau di luar Yaman, di mana tidak terdengar semenjak beberapa abad yang silam tersebarnya ilmu dan sunnah seperti yang terjadi pada zaman beliau.
Begitu pula di masa kholifahnya, ilmu dan da`wah sunnah salafiyah begitu semaraknya tersebar ke seluruh penjuru dunia, betapa banyak delegasi yang bertandang ingin mengenyam jernih dan segarnya ilmu Dammaj, kenyataan yang ada sekarang adalah sebesar-besar bukti kebenaran apa yang kami katakan dan tidak mengingkarinya kecuali orang yang tertutup mata hatinya.

Keserasian Dalam ‘Tamayyuz’

Adalah Syaikh Muqbil رحمه الله sosok yang sangat kuat dalam memilah antara kebenaran dari kebatilan sebagaimana salaf terdahulu seperti imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma`in, Yahya bin Sa`id, Syaikhul Islam رحمهم الله dll . Berapa banyak orang jahat yang beliau usir, dari kalangan ahlul bid`ah, orang hatinya berpenyakit, dan yang sejenis mereka, demi memilah dan mensucikan agar dien ini juga ma`hadnya bersih dan terhindar dari kekotoran fikroh sesat dan jahat sebagaimana para nabi ada yang mengusir pengacau dari kaumnya (Nabi Musa `Alaihish-sholatu wassalam mengusir Samiri), ada yang meninggalkan kaumnya ada yang `uzlah dst. Begitu pula kholifahnya, mengusir orang-orang yang berpenyakit jiwa atau berpenyakit bid`ah atau berpenyakit hizbi tanpa basa basi.

Keserasian Dalam Jarh wa Ta’dil

Adapun dalam masalah Jarh wa Ta`dil dan sikap tegas dan keras terhadap ahlul bid`ah maka ini adalah bagian dari agama kita tanpa ada keraguan lagi, dan para ulama telah memberi bagian khusus dalam masalah, baik dalam kitab-kitab mereka atau contoh perilaku mereka secara nyata, dan Imam al–Wadi`i berjalan di atas jalannya para Salafy sebelumnya begitu pula Syaikh Yahya tidak mengurangi bahkan memberikan porsi yang pas tidak keterlaluan dan tidak pula meremehkan lihatlah contohnya dalam kitab “Al-Majruhun ‘indal Imam al–Wadi`i” yang disusun oleh Akhuna ‘Adil ash-Shiyagi -hafizhohulloh- dan kitab “Masyru’iatun Nush wat Tahdzir” milik Syaikh Yahya
kamu akan lihat antara Syaikh dan muridnya berjalan bergandengan tangan seakan-akan keduanya menyusu dari satu susuan.

Keserasian Dalam Pengembangan Jumlah Thullab

Pada zaman al–Wadi`i ketika beliau meninggal jumlah thullab tidak lebih seribu lima ratus sementara dengan rahmat Alloh dan karunia-Nya di zaman kholifahnya telah bertambah berlipat-lipat hingga kini kurang lebih empat ribu thullab, begitu pula bangunan dan tempat tinggal thullab kini telah sampai ke puncak gunung Dammaj dan atap-atap rumahpun tak ketinggalan dibangun karena tidak mendapatkan area untuk dibangun, itu semua karena fadhlulloh dan barokah nasehat, keadilan, tashfiah dan tarbiyah.

Keserasian Dalam Karya Tulis

Adapun karangan-karangan kitab maka pada zaman Imam Muqbil رحمه الله telah berhasil melahirkan karya-karya ilmiah yang menggembirakan baik dari sisi Syaikh sendiri atau dari para thullabnya, beliau wafat dengan mewariskan lebih dari lima puluh karangan, besar dan kecil, begitu pula di zaman Syaikh Yahya banyak sekali karya ilmiah dari berbagai bidang ilmu, sampai detik ini telah terbit risalah-risalah beliau lebih dari tujuh puluh karangan, besar dan kecil, dan begitu pula karya tulis thullabnya tak pernah surut dari peredaran. Begitu pula kaset-kaset ceramah beliau dan pelajaran beliau semuanya terekam dan bakal menjadi khazanah ilmiyyah yang bermanfaat untuk ummat insya Alloh ta`aala.

Keserasian Dalam Pelajaran-pelajaran

Zaman Syaikh Muqbil pelajaran-pelajaran terlaksana dengan sebaik-baiknya karena beliau adalah orang yang sangat bersemangat atas terlaksanakannya pelajaran tersebut sehingga beliau tetap menjalankan tugas mengajarnya walaupun dalam keadaan sakit parah dalam keadaan yang sangat penat, dan terkadang beliau beranjak ke majelis pelajaran beliau dalam keadaan capek atau sakit parah dan beliau berkata: (Seandainya aku diberi pilihan untuk menjadi seorang president atau tetap duduk di sini bersama thullab maka aku lebih memilih untuk tetap di sini), demikian pula kondisi Syaikh Yahya hafizhohulloh wa ro`ahu ,dan perkara ini telah banyak diketahui oleh
anak kecil, orang besar, kawan ataupun lawan sampai-sampai tidak terlewati setahun ataupun sebulan beliau tidak meliburkan pelajarannya yang ilmiah dan terkadang beliau menelan sekian banyak obat sakit kepala supaya bisa keluar kepelajaran beliau, karena khawatir terputus dari menutut ilmu. Dan terkadang beliau melepas infus dari badannya untuk menghadiri pelajaran. Maka kami mohon kepada Allah subahanahu wa ta`ala untuk membalasnya dengan balasan kebaikan dan kami memohon pula agar Alloh merahmati Syaikh dengan rahmat yang luas.

Demikian pula pelajaran-pelajaran yang dibuka di markiz ini yang terkadang bisa mencapai tiga puluh pelajaran dalam sehari, dibuka setiap sepekan atau dalam dua puluh hari, kadang berkurang dan kadang bertambah, dan ini adalah barokah dari Alloh, maka barang siapa yang menuduh adanya perbedaan antara ma’had di Syaikh Al-Wadi’i dan keadaan ma’had di masa kholifahnya hendaklah dia bertaqwa kepada Allah terhadap ia dirinya sendiri dan untuk menengok kembali apa yang keluar dari mulutnya, maka demi Allah kami tidaklah melihat adanya perbedaaan dan tidak pula adanya penyelisihan, bahkan yang kami lihat keduanya berjalan seiring bahkan barangkali semakin bertambah kebaikannya, dan ini perkara yang bisa saksikan dengan mata kepala kita.

Keserasian Dalam Penjagaan Ilmu

Allah telah memberikan taufik kepada Imam aAl-Wadi’i untuk menghafal ilmu dan menjaga sunnah, sehingga barangkali beliau memastikan bahwa sebuah hadits tidak terdapat di “shohihain” atau di “Al-Kutubus-Sittah”, dan setelah diteliti terbukti kebenarannya, ini menunjukkan betapa kuat telaah dan hafalan beliau demikian pula kholifahnya, Allah memberikan taufik kepada beliau untuk menghafal al-Qur’an dan sebagian qiroat dan banyak dari sunnah, yang hampir-hampir tidak terluput darinya satupun hadits yang ditanyakan kepada beliau, dan juga beliau hafal “Alfiyyah Ibnu Malik”, “Mulhatul I’rob”, “Lamiatul Af`al”, Matan “ar-Rohabiyyah”, Matan “`Imrithi” dalam ilmu usul ,Matan “al-‘Aqidatuth-Thohawiyyah” dll.

Kesamaan Dalam Ketawadhu’an

Perkara ini nampak jelas dari keduanya, barangkali Syaikh Muqbil رحمه الله menyambut tamu dan utusan dan memuliakan mereka, dan mengijinkan kepada anak-anak untuk membaca matan-matan yang mereka hafal sebagai penyemangat, dan berlembut hati kepada mereka dengan penuh kelembutan, menjadikan mereka seakan-akan anaknya sendiri, begitu pula halnya dengan Syaikh Yahya, dan ini perkara yang diketahui oleh semua thullabnya, terutama yang sering melihat beliau secara dekat, adapun yang belum begitu mengenalnya maka kewibawaan beliau lebih dominan menurutnya daripada kelembutan beliau.

Kesamaan Dalam Ikatan Ukhuwah

Perkara ini sering dijadikan alat untuk menikam Dammaj dan Syaikh Yahya, mereka mengatakan bahwa di zaman Syaikh Muqbil sangat terjaga pesaudaraan dan ikatan ukhuwwah, sementara semenjak Syaikh Yahya memegang kendali Dammaj maka berubah total, tak ada lagi keramahan dan saling kasih, ukhuwwah tercabik-cabik adanya cuma saling curiga, caci maki, jarh watta`dil, dan tidak adanya ketenangan dalam belajar.

Kami katakan kepada pembual ini: “Datanglah ke Dammaj wahai pembual niscaya kamu akan dapatkan keadaannya sangat beda dengan apa yang kamu katakan, keadaan tak ada perubahan sama sekali sebagaimana pada zaman Syaikh Muqbil رحمه الله , kita saling mengikat tali persaudaraan dengan baik dan benar, persaudaraan karena iman dan ketaatan, ukhuwah yang dilandasi nasihat, bahkan kedekatan kami dengan ikhwah fillah melebihi ikatan kekeluargaan, hal itu terbukti banyak di antara kita yang serasa ketika melihat ada salah seorang dari ikhwah terjatuh kedalam kegelapan masing-masing kita merasa kehilangan dan merasa perlu untuk menasehati, tidak pandang apakah itu satu daerah atau lain daerah, satu Negara atau lain Negara, begitu pula diantara ikhwah yang berkulit putih menikah dengan akhowat yang berbeda warna dengannya, baik dari orang Arab atau orang A`jam, begitu pula kita saling bahu-membahu dan tolong-menolong dalam perkara dunia, maka darimana sebagian orang mengatakan bahwa kini di Dammaj hanya tinggal kenangan ???”
Memang bagi mereka yang berpenyakit hati, atau bagi pemalas atau bagi yang tidak memiliki pemahaman salaf yang benar, Dammaj terasa sempit dan sumpek udaranya, sedikit-sedikit menggunjing orang, tahdzir demi tahdzir tak henti-hentinya. Dia tidak tahu bahwa di balik itu semua terpancar mata air yang jernih yang menghilangkan dahaga, karena semua pekara itu dibangun di atas ketaqwaan dan kebersihan jiwa, sebaliknya mereka-mereka yang keluar dari Dammaj dengan alasan di atas bahkan menelan kepahitan yang tidak henti-hentinya, karena landasan yang mereka bangun adalah kebobrokan jiwa dan ketidak mapanan mereka ketika melihat alam nyata.
Maka tak ada perbedaan sedikitpun keadaan yang ada sejak zaman Syaikh Muqbil sampai saat ini, ukhuwah tetap terpelihara, saling rahmah terus bertambah, ketenangan belajar tak terusik, ni`mat Alloh terus tercurah, mahabbah fillah tak terabaikan, tinggal dari sisi mana seseorang melihat dan memperhatikan.

Sebagian Karya Tulis Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri

` Al-Mabâdi Al-Mufîdah fi At-Tauhîd wa Al-Fiqh wa Al-Aqîdah.
` As-Shubuhu Asy-Syâriq fi Ar-Rodd ‘alâ Dholâlât ‘Abdul Majîd Az-Zandâni fî Kitabihî tauhîd Al-Khôliq.
` Al-Hujaj Al-Qôthi’ah ‘alâ anna Ar-Rowâfidh dhiddu Al-Islâm ‘alâ mumar Ad-Duhûr bilâ mudâfa’ah.
` Ahkâm Al-Jumu’ah wa Bida’ihâ.
` Taudhîh Al-Isykâl fî Ahkâm Al-Luqthoh wa Adh-Dhiwâl.
` Ahkâm wa Âdâb Al-Musâfirîn.
` Ahkâm At-Tayammum.
` Hasyd Al-Adillah ‘alâ Anna Ikhtilâth Ar-Rijâl wa An-Nisâ wa Tajnîdihinna min Al-Fitân Al-Mudhillah.
` Fath Al-Wahhâb fi Hukm Al-Bushôq fi Al-Qublah wa hukum Al-Muhârib.
` Kasyf Al-Wa’tsâ bi Zajr Al-Khubtsâ Ad-Dai’în ilâ Musâwât Adz-Dzakar wa Al-Untsâ.
` Al-As ilah Asy-Sya’riyah.
` Ithâf Al-Kirôm bi ajwibah Az-Zakât wa Al-Hajj wa Ash-Shiyâm.
` Fatawâ Haulâ Ad-Dirôsah Al-Ikthilâthiyah.
` Al-Ajwibah As-Saniyah fî Kasyfi ba’dho abâthîl Ash-Shûfiyah.
` Nashîhah littujjâr bilbu’di an Nasyr Al-Adhrôr.
` Ar-Riyâdh Al-Mustathôbah fî Mafârîd Ash-Shohâbah.
` An-Nashîhah Al-Mahtûmah lî Qodhôt As-Su’ wa ‘Ulamâ Al-Hukûmah.
` Al-Lumâ’ ‘alâ Kitâb Ishlâh Al-Mujtama’.
` Kasyf At-Talbîs wa Al-Kadzib fî Qoul Ash-Shûfiyah Lâ Yûjad Syirk fî Jazîrotul ‘Arob.
` Syar’iyyah Ad-Du’â ‘alâ Al-Kafirîn wa Ar-Rodd ‘alâ Al-Qordhôwî Al-Muhîn.
` Iryâsd dzawî Al-Fathon limâ fî Ikhthilâth Al-Jamâ’îy min Al-Fitan.
` Tahdzîr An-Nubalâ min At-Tasyabbuh bi An-Nisâ.
` Tarbiyah Al-Banîn.
` Masyâhidatîy fî Barîthôniyâ.
` Ahkâm Al-Janâiz.
` Ahkâm Al-Hadyu wa Al-Adhôhî.
` Syar’iyyah An-Nush wa At-Tahdzîr min Du’ât At-Taghrîr.
` At-Thobaqôt limâ hashola ba’da maut Al-Wadi’î min Al-Hâlât.
` Al-Wasâil Al-Khofiyyah li Dhorbi Ad-Da’wah As-Salafiyah.
` Ats-Tsawâbit Al-Manhajiyyah.
` Jalsah Sâ’ah fî Ar-Rodd ‘alâ Muftîy Al-‘Idzâ’ah.
` Al-Adillah Az-Zakiyyah fî Bayân Aqwâl Al-Jufrî Asy-Syirkiyyah.
` As-Sail Al-‘Arîdh Al-Jârif li ba’dhi Dholâl Ash-Shûfîy ‘Umar bin Hafîdh.
` Al-Badr At-Tamâm fî Risâ Syaikhul Islâm Muqbil bin Hâdi Al-Wâdi’î Rohimahulloh.
` Al-Hatstsu wa At-Tahrîdh ‘ala Ta’allum Ahkâm Al-Marîdh.
` Tahqîq Muqoddimah Sunan Ad-Dârimî “Al-‘Urf Al-Wardîy”.
` Tahqîq Akhlâq Al-‘Ulamâ lil Âjurî.
` Tahqîq Wushûl Al-Amânîy bi Ushûl At-Tahâni lis As-Suyûthî.
` Al-Arba’ûn Al-Hisân fi Al-Ijtimâ’ ‘alâ Ath-Tho’âm.
` Syarh Kitâb Al-Muntaqô.
` At-Tahdzîr min Aham Ash-Showârif ‘an Al-Khoirôt.
` Qurroh Al-‘Uyanain bi Ajwibah Fatâwâ Ash-Shoyâdîn.
` Al-Ittihâfât bi Talkhîsh Al-Hâwî li As-Suyuthî Rohimahulloh wa Bayân mâ fîhi min Asy-Syathohât.
` Syarh Lâmiyah ibnu Al-Wardiy.
` Fatâwâ Al-Qowwât Al-Muslihah.
` Fatâwâ fi Khurûj Al-Mar ah li Ad-Da’wati ilalloh.
` Fatâwâ Al-Athibbâ wa Athibb.
` Al-Iftâ li As ilah Al-Wâridah min Daula Syattâ.
` Istikhrôj Al-Ahâdîts Al-Mu’allah min As-Sunan Al-Kubrô li Al-Baihâqi.
` Ar-Rodd ‘alâ Ahmad bin Nashrulloh, fî Intiqôdatih ‘alâ kitâb Ash-Shohîh Al-Musnad.
` Fahrosah ‘ilal Ad-Dâroquthni.
` Ikhtishôr Al-Bidâyah wa An-Nihâyah.
` Shôlih Al-Bâkri Al-Maftûn.
` Tahqîq Fath Al-Bâri Syarh Shohîh Al-Bukhorî, ma’â majmû’ah mina thullâb.
` Tahqîq Risâlah mâ lâ yatsbut fîhi hadîts, lil Fairuz Âbadî.
` Tahqîq Sunan Al-Baihâqî Ash-Shughrô.
` Syarh Ushûl Ats-Tsalâtsah.
` Syarh Al-‘Aqîdah Al-Wâsithiyyah.
` Syarh Al-Baiqûnî.
` Syarh At-Taqrîb wa At-Taisîr li Ma’rifah Sunan Al-Basyîr An-Nadzîr.
` Syarh Al-‘Aqîdah Ath-Thohâwiyah.
` Syarh Ar-Risâlah Al-Wâfiyah.
` Syarh Kitâb At-Tauhîd.
` Syarh Mulhah Al-‘Irôb.
` Syarh wa Tahqîq Muqoddimah Sunan Ad-Dârimî.
` Lâmiyah Syaikhul Islâm.
` Syarh Al-Qoiruwâniyah.
` Syarh As-Safârîniyyah.
` Syarh Al-Arba’ûn An-Nawâwiyah.
` At-Tabyîn li Juhhâlât Ad-Duktûr Ahmad bin Nashrulloh.
` Adhrôril Al-Hizbiyyah ‘alâ Al-Ummah Al-Islâmiyyah.

Para Penyusun:
Abu Turôb Saif bin Hadhor al-Jâwî.
Abu Fairûz ‘Abdurrohmân al-Jâwî
Abu Husain Muhammad al- Jawi
Abu Arqôm Muslih Zarqoni al-Jâwî
Abu ‘Abdillah Imâm Al-Hanafi al-Balikpapanî
Abu Sholeh Dzakwan al-Medani
Abu Abdillah Muhammad bin Umar al-Medani
Abu Abdirrohman Shiddiiq al- Bugishi
Abu Zakariyâ Irhâm bin Ahmad al-Jâwî
Abul ‘Abbâs Khodhir al-Mulkî

* Kompilasi dari berbagai sumber.

sumber: http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2011/06/mengenal-syaikh-yahya-bin-ali-al-hajuri.html

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Biografi dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.