SURAT TERBUKA UNTUK PARA ORANG TUA (bag.1)

oleh: Abu Ja’far Al-Harits bin Dasril Al-Andalasy

–Semoga Alloh Senantiasa Mengkaruniakan Hidayah Kepadanya dan Kedua Orang Tuanya-

Darul Hadits Dammaj – Yaman
Robi’uts Tsany 1433

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, Aku bersaksi bahwa hanya Dia-lah yang berhak diibadahi, hanya Dia yang mampu memberikan taufik kepada orang yang jujur mencari kebenaran, dan memudahkan jalan ke surga bagi orang yang menempuh jalan menuntut ilmu agama-Nya. Sesungguhnya itu adalah keutamaan Alloh, yang dianugerahkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh dan hambanya-Nya, beliaulah yang telah menyampaikan petunjuk dari Robbnya, tidak ada yang luput dari apa yang disampaikannya. Barangsiapa yang menyelisihi sunnahnya, maka sungguh orang itu berada dalam kesesatan yang nyata. Amma ba’du,

Sungguh Alloh telah menjaga agama ini dengan memunculkan ulama-ulama Robbani yang silih-berganti mengayomi ummat, serta membangkitkan pemuda-pemuda yang bersemangat untuk menuntut ilmu agama mereka, mengambil bagian dari warisan nabi mereka. Seorang lelaki dari Madinah datang kepada Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘Anhu, ketika itu beliau sedang berada di Damaskus. Maka Abu Darda’ berkata: “Apa yang menyebabkan kedatanganmu, wahai saudaraku ?”. Maka orang itu menjawab: “Sebuah hadits. Telah sampai kepadaku bahwa engkau menyampaikan hadits tersebut dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam”. Beliau (Abu Darda’) berkata: “Apakah engkau datang karena keperluan lain ?”. Dia menjawab: “Tidak”. Beliau berkata lagi: “”Apakah engkau datang untuk berdagang ?”. Dia menjawab: “Tidak, aku datang hanya untuk meminta hadits tersebut”. Maka Abu Darda’ berkata: “Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

من سلك طريقا يبتغي فيه علما سلك الله له طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع أجنحتها رضاء لطالب العلم وإن العالم ليستغفر له من في السموات ومن في الأرض حتى الحيتان في الماء وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواب إن العلماء ورثة الأنبياء إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Alloh akan memudahkannya untuk menempuh jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menurunkan sayap-sayap mereka karena ridho kepada para penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim (orang berilmu) dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi, sampai-sampai ikan yang berada di air. Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang ‘abid (orang yang rajin ibadah tapi ilmunya kurang) adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang cukup”. (HR At-Tirmidzi, dishohihkan Imam Al-Albany)

Tentunya ilmu yang dimaksud disini bukannya ilmu keduniaan namun ilmu akhirat, ilmu agama. Inilah yang dimaksud dalam ayat-ayat dan hadits-hadits apabila disebutkan masalah ilmu.

Di masa kita ini -walhamdulillah- dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyebar di seluruh dunia, walau para da’i dan pengikut kelompok-kelompok sesat terus berusaha untuk menghalanginya dan berupaya menciptakan pandangan jelek bagi masyarakat terhadap dakwah yang penuh berkah ini. Mereka tidak akan sadar, bahwa upaya mereka hanya akan merugikan mereka di di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak akan mampu menghadang dakwah, karena dakwah ini akan ada sampai hari kiamat, dan ini sudah menjadi ketetapan Alloh. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يزال ناس من أمتي ظاهرين حتى يأتيهم أمر الله وهم ظاهرون

“Senantiasa pada umat ini, terdapat sekelompok manusia yang menegakkan syari’at, sampai (menjelang) datangnya kiamat, sementara mereka tetap dalam keadaan tersebut”. (HR Bukhory-Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah Rodhiyallohu ‘Anhu).

Dakwah yang penuh berkah ini pun mendapat sambutan dari para pemuda, sebagaimana dulu dakwahnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Imam Ibnu Katsir Rahimahulloh dalam Tafsir surat Al-Kahfi menyebutkan: “Alloh Ta’ala menyebutkan bahwa mereka adalah para pemuda, mereka lebih menerima kebenaran dan jalan mereka lebih di atas petunjuk dari pada orang-orang tua yang angkuh dan keras dalam agama kebatilan. Karena itu kebanyakan orang yang menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua Quraisy, kebanyakan mereka tetap pada agama mereka, tidak masuk islam kecuali sedikit”.

Namun yang disayangkan –terlebih di zaman-zaman ini- para pemuda yang ingin meniti jalan para salafush sholih[1] justru menemui banyak penentangan. Bahkan seringnya penentangan tersebut mereka dapatkan dari orang terdekat, orang tua yang semestinya menyokong anak-anaknya untuk mempelajari agamanya, mengetahui akidah dan hukum-hukum syari’at yang benar, mengetahui kesyirikan, bid’ah dan perbuatan-perbuatan dosa agar bisa menghindarkannya. Sesuatu yang semestinya menjadi kegembiraan malah dianggap mengkhawatirkan.

Kurangnya ilmu, jauhnya dari bimbingan ulama robbany[2], banyaknya da’i-da’i gadungan, diantara faktor yang menyebabkan masyarakat merasa asing dengan agama mereka sendiri, lebih cenderung kepada orang kafir, kelompok sesat -seperti sufi, khowarij, pergerakan-pergerakan diatas semangat jauh dari ilmu semisal Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir-, atau fanatik terhadap adat istiadat, yang semua itu tercermin dalam pola-pikir, perilaku dan penampilan.

Karena itulah artikel ini ditulis, sebagai kabar gembira bagi para orang tua yang menyokong anak-anaknya yang sholih dan sholihah, sekaligus mengingatkan orang tua yang lalai dari tanggung jawabnya.

KEWAJIBAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ANAK-ANAKNYA

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةُ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلِدِهِ وَهِيَ مَسْؤُوْلَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang lelaki adalah adalah penanggung jawab atas keluarganya, dialah yang akan ditanya tentang mereka. Seorang perempuan adalah penanggung jawab atas rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dialah yang akan ditanya tentang mereka” (HR Bukhory-Muslim dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu)

Ath-Thiby Rahimahulloh -sebagaimana dalam Tuhfatul Ahwazy- berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa penanggung jawab tidaklah dituntut secara mutlak (setiap perkara-pent), akan tetapi (yang dituntut) adalah tanggung jawab untuk menjaga apa yang disuruh Al-Malik (Yang Maha Memiliki) untuk dijaga. Maka semestinya dia hanya bertindak pada apa-apa yang diizinkan pemilik syari’at”

Orang tua merupakan penanggung jawab bagi anak-anaknya, terlebih seorang bapak yang sangat berperan dalam menafkahi keluarganya. Alloh -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Sementara kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut” (QS Al-Baqoroh Ayat 233)

Hindun Ummu Mu’awiyah datang mengadu kepada Rosululloh dan mengatakan bahwa suaminya (Abu Sufyan) adalah seorang selaki yang pelit, tidak memberi nafkah yang cukup. Maka apakah boleh baginya untuk mengambil hartanya dan izin dan tanpa diketahuinya ?. Maka Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ

“Ambillah dari hartanya sepatutnya, apa-apa yang mencukupimu dan anak-anakmu” (HR Bukhory-Muslim dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha)

Imam Ibnul Qoyyim[3] Rahimahulloh mengatakan: “Pada hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mafkah anak adalah tanggung jawab bapak yang tersendiri, ibu tidak ikut dalam tanggung jawab nafkah. Dan perkara ini adalah ijma’ (kesepakatan ulama)”

Jika seorang bapak mengharapkan pahala dalam menafkahi keluarganya, sesungguhnya dia telah mengerjakan amalan yang sangat besar. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَدِينَارٌ فِي الْمَسَاكِينِ وَدِينَارٌ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ فِي أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الدِّينَارُ الَّذِي تُنْفِقُهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Dinar yang engkau nafkahkan di jalan Alloh. Dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak. Dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” (HR Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu)

Disamping kewajiban orang tua terhadap anaknya dalam nafkah jasmani, orang tua pun berkewajiban untuk memberikan nafkah rohani bagi anak-anaknya. Orang tua haruslah membimbing anaknya dalam mengenal agamanya dan mengontrol sang anak dalam amalan-amalannya. Kalau si orang tua memiliki kendala, mungkin karena kurangnya ilmu, mudah-mudahan bisa ditutupi dengan mencari pengajar yang baik bagi anaknya, pengajar yang berada di atas pemahaman yang benar, pemahaman salaf agar anaknya tidak menyimpang. Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri dan keluarga kalian dari api neraka” (QS At-Tahrim Ayat 6)

Syaikh Nashir As-Sa’dy Rahimahulloh dalam tafsirnya terhadap ayat ini mengatakan: “Anak-anak adalah barang wasiat di sisi kedua orang tua mereka. Maka apakah mereka akan menjalankan apa yang diwasiatkan kepada mereka, ataukah mereka akan menyia-nyiakannya sehingga mereka berhak mendapatkan ancaman dan azab”.

Kelalaian dalam menunaikan tanggung jawab tersebut bukan perkara yang sepele. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ما من عبد يسترعيه الله رعية فلم يحطها بنصحه إلا لم يجد رائحة الجنة

“Tidak seorangpun dari seorang hamba yang Alloh minta untuk menjaga yang menjadi tanggung jawabnya namun dia tidak menjaganya dengan nasehatnya, kecuali (balasannya) dia tidak mendapatkan bau surga”. (HR Bukhory-Muslim dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallohu ‘Anhu, lafazh hadits ini di Bukhory)

Maka jadilah orang tua yang baik bagi anak-anaknya baik dalam dunianya, terlebih dalam akhiratnya. Rosululloh bersabda:

خيركم خيركم لأهله

“Sebaik-baik kalian adalah sebaik-baik seseorang bagi keluarganya” (HR Tirmidzi dari ‘Aisyah, dishohihkan Syaikh Al-Albany)

Al-Munawy Rahimahulloh mengatakan: “Yaitu bagi istri-istri, anak-anak dan kerabatnya”. [Faidhul Qodir 3/466]

KENAPA MESTI SALAFY?

Kaum muslimin pada zaman shohabat dan zaman yang masih dekat dengan mereka, tidak memiliki penamaan tertentu yang menjadi ciri bagi mereka. Yaitu zaman sebelum munculnya perpecahan dan kelompok-kelompok dengan pemahaman baru di dalam Islam. Hal ini dikarenakan karena mereka menjalankan Islam dengan sebenarnya maka muslimin dan mukminin hakiki adalah mereka dan merekalah muslimin dan mukminin hakiki[4]. Maka setelah munculnya perpecahan dan pemahaman-pemahaman yang menyimpang, maka maka-kata muslimin dan mukminin juga mencakup Ahlul Ahwa’ (orang-orang yang berpemahaman sesat) karena cenderungnya mereka kepada hawa nafsu dalam beragama. Demikian juga mencakup Ahlul Bid’ah karena mereka mengikuti perkara-perkara baru yang berasal dari luar agama. Ahlul Syubhat juga termasuk kedalamnya, yaitu orang-orang yang menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan sebagai pondasi bagi mereka untuk meninggalkan sunnah ketika mereka berpegang kepada dasar yang tidak jelas dan rusak.

Akibat berkembangnya orang-orang dengan menyimpang tersebut, muncullah perpecahan dan kelompok-kelompok dalam yang semuanya menyandarkan diri kepada Islam. Sehingga muncullah penamaan bagi orang-orang yang betul-betul menjalankan Islam sebagaimana jalan yang ditempuh oleh kaum pertama lagi terdahulu, untuk menunjukkan bahwa bukan mereka yang berpecah dari jalan asal dan mereka bukanlah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dalam beragama. Penamaan-penaman itu muncul baik dengan penamaan yang datang langsung dari syari’at seperti: Al-Jama’ah, Jama’atul muslimin, Firqotun Najiyyah, dan Ath-tho’ifah Al-Manshuroh. Atau penamaan itu muncul dari sisi konsistennya mereka dalam menjalankan sunnah di tengah kebid’ahan yang berkembang, dengannya mereka memiliki hubungan dengan generasi pertama lagi terdahuhu, sehingga mereka pun dinamakan kaum Salaf, Ahlul Hadits, Ahlut Atsar, Ahlus Sunnah wal Jama.ah. Penamaan-penamaan ini adalah penamaan yang syar’i berbeda dengan penamaan kelompok lainnya.[5]

Adapun salafy adalah orang-orang yang memahami Al-Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman generasi salaf (terdahulu) tersebut. Sebagaimana dikatakan “Si A Shufy” maksudnya pengikut tarikat sufiyyah, atau “Si B Ikhwany“, maksudnya pengekor Ikhwanul Muslimin dan sebagainya.

Generasi terdahulu tersebut –yang dikenal juga dengan Salafus Sholih- adalah orang-orang yang menjalankan syari’at Islam sesuai petunjuk yang diarahkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dari kalangan shohabat, tabi’in (orang-orang yang mengambil ilmu dari para shohabat) dan Atba’ut Tabi’in (orang-orang yang mengambil ilmu dari para tabi’in).

Maka dakwah salafiyyah adalah dakwah di atas pemahaman Salafus Sholih, dakwah kepada Islam yang hakiki, yang Alloh perintahkan bagi kita untuk mengikutinya. Alloh berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى

“Barangsiapa yang menyelisihi Rosul (Muhammad) setelah jelas petunjuk baginya, serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami biarkan dia dengan (kesesatan) yang dipilihnya” (QS An-Nisa’ ayat 125)

Jalannya orang-orang beriman adalah jalannya mereka, jalannya para salafush sholih karena merekalah generasi terbaik dan cerminan umat ini. Seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam: “Siapakah sebaik-baik manusia?”. Maka beliau menjawab:

الْقَرْنُ الَّذِى أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِى ثُمَّ الثَّالِثُ

“Kurun yang aku ada padanya, kemudian (kurun) yang kedua[6], kemudian (kurun) yang ketiga[7]“ (HR Muslim dari ‘Ummul Mukminin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia manusia adalah kurunku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya” (HR Bukhory-Muslim dari ‘Abdulloh bin Mas’ud, dan ‘Imron bin Husain Rodhiyallohu ‘Anhuma)

Jadi kenapa mesti salafy ?? Karena beginilah hakikat salafy

KENAPA ANEH SENDIRI?

Mungkin inilah pertanyaan yang banyak terlintas di benak orang tua: “Kenapa putraku berbeda dengan teman sebayanya, kenapa berbeda dengan orang-orang kampungnya, kenapa dia tidak mau memotong jenggotnya, tidak mau memakai pakaian di bawah mata kaki, tidak mau nonton TV, tidak mau mendengarkan musik. Kenapa putriku berhijab, berpakaian menutupi seluruh tubuhnya, kenapa tidak mau bergaul dengan sepupu laki-lakinya, tidak mau bersalaman dengan mereka, kenapa malah mengatakan ini haram … itu haram ??”.

Bahkan kenapa mereka tidak mau menghadiri acara-acara keagamaan yang sudah berkembang di masyarakat, yang digencarkan kiyai-kiyai, “Kenapa tidak mau menghadiri peringatan Maulud Nabi, Isro’ Mi’roj, dzikir bersama, kenapa malah berkata, ini bid’ah … itu bid’ah ??”.

“Kenapa mereka tidak mau dia ajak berurusan dengan dengan dukun, entah untuk berobat, mencari barang hilang, kenapa malah berkata, ini syirik … itu syirik ??”.

Sungguh mengherankan …

Ketahuilah -Wahai para orang tua yang menginginkan kebaikan bagi anak-anaknya- keasingan bukanlah tolak ukur suatu kebenaran, karena kebenaran adalah sesuatu yang dikembalikan kepada pokok-pokok syari’at, apa yang Alloh dan Rosululloh benarkan, maka itulah yang benar.

Dulu tanggapan yang sama telah terlontar dari kaum musyrikin:

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ ¯ أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ ¯ وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آَلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ ¯ مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآَخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

“Mereka merasa heran ketika datang kepada mereka pemberi peringatan. Orang-orang kafir berkata: “Orang ini adalah penyihir yang pendusta. Apakah dia menginginkan sembahan (yang diibadahi) cuma satu saja ?? Sungguh ini adalah perkara yang mengherankan”. Maka pergilah para pemuka mereka mengatakan: “Berjalanlah kalian dan sabarlah dalam mengibadahi sembahan-sembahan kalian, sesungguhnya inilah yang Alloh kehendaki. Kita tidak pernah mendengar perkataan seperti ini pada agama yang terakhir. Sungguh perkara ini hanyalah sesuatu yang diada-adakan” (QS Shod Ayat 4-7)

Mereka menghukumi benar tidaknya sesuatu, dengan tingkat kecocokan yang ada pada mereka. Kalau seperti mereka berarti benar, kalau berbeda berarti sesat.

Sebagai seorang muslim hendaknya kita senantiasa berusaha untuk jujur dan obyektif dalam bersikap. Apakah kita merasa yakin bahwa komunitas yang ada sekarang berada di atas kebenaran ?? Apakah kita memiliki alasan untuk itu di depan Alloh kelak ??

Alloh bahkan telah menjelaskan bahwa mayoritas bukanlah acuan kebenaran, justru kebanyakan manusia telah hanyut mengikuti hawa nafsunya. Alloh berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُون

“Apabila engkau kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu, yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka. Mereka hanyalah membuat kebohongan” (QS Al-An’am Ayat 116)

Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh dalam Miftah Daaris Sa’adah (1/ 147) mengatakan: “Jangan sampai engkau tertipu dengan apa-apa yang menipu orang-orang bodoh. Karena mereka mengatakan: “Kalau memang mereka di atas kebenaran tentulah mereka tidak menjadi kelompok manusia yang paling sedikit jumlahnya, sementara orang-orang justru menyelisihi mereka !!”. Ketahuilah merekalah yang betul-betul manusia, adapun yang menyelisihi mereka hanyalah mirip manusia, mereka bukan manusia[8]. Manusia itu hanyalah pengikut kebenaran walaupun sedikit jumlahnya. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Janganlah seseorang diantara kalian menjadi bunglon, mengatakan: “Saya bersama orang-orang”. Hendaklah seseorang diantara kalian memutuskan untuk beriman, walau orang-orang mengingkarinya …”.

Bacalah Al-Qur’an dan hayati, bacalah Shohih Al-Bukhory, Shohih Muslim dan biografi para sahabat, maka anda akan bisa mengetahui bagaimana cara mereka berpikir, bersikap dan seperti apa penampilan mereka. Sekarang, lihatlah kondisi orang-orang yang mengikuti arus masyarakat, yang mengikuti kebanyakan orang, bandingkan dengan kondisi para sahabat, apa yang anda lihat ??

Padahal komunitas shohabat adalah komunitas yang diridhoi Alloh, dipuji Rosul-Nya, komunitas yang ada ketika turun wahyu, komunitas yang dibina oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Alloh Jalla wa ‘Ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang terdahulu yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh meridhoi mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Dia telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang agung” (QS At-Taubah Ayat 100)

Jelaslah siapa sebenarnya yang pantas diikuti karena Alloh meridhoi orang-orang yang yang mengikuti mereka dengan baik. Terus apakah ada sesuatu yang lebih bernilai, yang memalingkan seseorang untuk menggapai ridho-Nya ??

Kalau dikatakan: “Masa mereka berbeda dengan masa kita sekarang”

Memang berbeda, dulu mereka naik unta sekarang kita naik mobil, dulu mereka mengutus orang untuk menyampaikan pesan sekarang kita tinggal menekan nomor. Tapi syari’at tetap. Islam yang dulu adalah Islam yang sekarang, karena Alloh telah menyempurnakan agama-Nya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Aku sempunakan bagi kalian agama kalian” (Al-Ma’idah Ayat 3)

Kalau sudah sempurna berarti tidak perlu ditambah lagi, tidak adalah istilahnya agama mesti mengikuti perkembangan, tapi perkembangan itulah yang mesti ditimbang dengan syari’at. Bukanlah agama yang mengikuti adat masyarakat, tapi adatlah yang mesti disesuaikan dengan agama.

Dahulu Ma’qil bin Yasar Rodhiyallohu ‘Anhu makan siang, maka makanan yang ada ditangannya jatuh. Kemudian dia mengambilnya dan menyingkirkan yang kotor padanya, kemudian memakannya. Maka penduduk kampung (dari kalangan A’jam -bukan Arab-) saling mengisyaratkan dengan mata mereka. Orang-orang pun menyampaikan perkara tersebut kepadanya: “Apa pendapatmu tentang perkataan orang-orang A’jam itu?, mereka mengatakan: “Lihatkah pada makanan yang ada di tangannya, dan apa yang dilakukan dengan suapannya itu?”. Maka Ma’qil menjawab: “Saya tidak akan meninggalkan apa yang saya dengar dari Rosululloh gara-gara perkataan para A’jam itu. Sesungguhnya dahulu kami diperintahkan, jika terjatuh suapan salah seorang dari kami, maka dia singkirkan yang kotor padanya, kemudian dia memakannya”. (HR Ad-Darimy, dishohihkan Imam Muqbil di Jami’us Shohih)

Adapun kalau perbuatan anak anda menyelisihi para kiyai dan para da’i kebanyakan, maka itu bukanlah patokan kesalahannya. Betapa banyak orang yang mengaku berdakwah atas nama Islam, banyak metode dan beragam pemikiran.

Apakah semuanya benar ? Jawabnya: “Tidak, kebenaran hanya satu tidak berbilang”. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِه

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, sehingga kalian bercerai-berai dari jalan-Nya”. (QS Al-An’am Ayat 153)

Mujahid Rahimahulloh berkata: “Jalan-jalan adalah bid’ah-bid’ah dan syubhat-syubhat (kerancuan-kerancuan. Sesuatu yang dikira bisa sebagai dalil padahal tidak)”. (Atsar ini shohih, diriwayatkan Ibnu Jarir).

Keasingan kebenaran di kalangan manusia bukanlah perkara yang mustahil, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam ini mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing. Maka thuba bagi orang-orang yang asing” (HR Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu)

Imam An-Nawawi Rahimahulloh dalam penjelasan hadits tersebut mengatakan: “Para ulama berselisih tentang makna firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآَب

“Thuba bagi mereka dan tempat kembali yang baik” (QS Ar-Ro’d Ayat 29)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma bahwa (thuba) maknanya adalah kegembiraan dan penyejuk mata. ‘Ikrimah mengatakan: “Kenikmatan bagi mereka”. Adh-Dhohhak mengatakan: “Kesenangan bagi mereka”. Qotadah mengatakan: “Yang terbaik bagi mereka”, juga diriwayatkan bahwa dia mengatakan: “Mereka mendapatkan kebaikan. Ibrohim mengatakan: “Kebaikan dan kemuliaan bagi mereka”. Ibnu ‘Ajlan mengatakan: “Kebaikan yang terus-menerus”. Disebutkan juga maknanya adalah sebuah pohon yang ada di surga[9]. Seluruh pendapat ini mungkin pada makna hadits ini, wallohu a’lam”.

Keasingan mereka, bukan karena mereka ingin nyentrik, ingin tampil beda, baik di sisi keyakinan ataupun amalan-amalan lahiriyah. Namun keasingan itu muncul dikarenakan mereka ingin mempertahankan agama sebagaimana yang disyari’atkan, sementara orang-orang di sekitar mereka banyak yang lalai dalam menjalankan agama mereka.

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طوبى للغرباء ، قيل : ومن الغرباء يا رسول الله ؟ قال : ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم

“Thuba bagi orang-orang yang asing. Dikatakan kepada beliau: “Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rosululloh ?”. Beliau menjawab: “Orang-orang sholih yang sedikit di kalangan orang-orang jelek yang banyak. Orang-orang yang menentang mereka lebih banyak dari yang taat (mengikuti dakwah) mereka” (HR Ibnu ‘Asakir (12/ 8/ 1) dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al-Ash Rodhiyallohu ‘Anhu, sebagaimana disebutkan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh dalam Ash-Shohihah 1619 dan sanadnya jayyid)

BERSAMBUNG, INSYA ALLAH !…Maka bersyukurlah bahwa putra Bapak dan putri Ibu, terasing karena mempertahankan agamanya, tidak hanyut dan tenggelam bersama kelalaian manusia terhadap agama mereka.…BERSAMBUNG, INSYA ALLAH !

Artikel Terkait:
SURAT TERBUKA UNTUK PARA ORANG TUA (bag.2)

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Adab dan Akhlak, Manhaj Ahlus Sunnah, Nasehat dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.