7 Soal Jawab; SEPUTAR PERMASALAHAN IBADAH KURBAN (bag.2)

Bersama Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -Rahimahullah-

beberapa permasalahan yang sering ditanyakan oleh kaum muslimin di berbegai penjuru dunia terkait dengan ibadah kurban
adalah:

# Wajibkah Melaksanakan Ibadah Kurban ?

# Mana yang Lebih Baik Untuk Kurban, Kambing ataukah Sapi ?

# Menyembelih Hewan Kurban Bukan Pada Hari Raya Idul ‘Adhha

# Bolehkah Berhutang Untuk Berkorban ?

# Hukum Menyisir Rambut & Memotong Kuku Sebelum Berkurban

# Hewan Bagaimana yang Lebih Baik Untuk Berkurban ?

# Berqurban untuk Orang Tua yang Telah Meninggal

# Wajibkah Melaksanakan Ibadah Kurban ? #

Soal: Apakah setiap kaum Muslimin itu harus berkurban ? Bolehkah lima orang bersekutu dalam mengurbankan satu binatang kurban ?”

Jawab: Udhhiyyah (hewan kurban) adalah hewan yang disembelih oleh seseorang dalam rangka beribadah kepada Allah عزّوجلّ, pada hari raya Idul Adhha dan tiga hari setelahnya. Ibadah ini termasuk diantara ibadah-ibadah yang paling afdhal (terbaik). Karena Allah عزّوجلّ menyebutkannya beriringan setelah perintah shalat dalam firman-Nya :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” (QS. al-Kautsar/108: 1-2)

Allah عزّوجلّ juga berfirman :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. al-An’am/6:162-163)

Nabi صلي الله عليه وسلم juga pernah berkurban dengan dua hewan, satu atas nama beliau صلي الله عليه وسلم dan keluarga dan yang satu lagi atas nama semua umat beliau yang beriman.[1] Dan Rasulullah صلي الله عليه وسلم memotivasi dan menyemangati umatnya agar melakukan ibadah ini.

Para Ulama berbeda pendapat mengenai apakah ibadah kurban itu wajib ataukah tidak? menjadi dua pendapat.[2] Diantara para Ulama, ada yang mengatakan bahwa ibadah kurban ini hukumnya wajib bagi yang mampu, karena ada perintah (dari Allah) untuk melakukannya dalam al-Qur’an. Yaitu dalam firman Allah سبحانه و تعالي:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” (QS. al-Kautsar/108: 2)

Juga berdasarkan perintah dari Nabi صلي الله عليه وسلم pada orang yang melakukannya sebelum shalat ‘Id agar dia menyembelih hewan kurban lagi setelah shalat.[3] Juga berdasarkan riwayat :

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَـمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa memiliki kemampuan tapi dia tidak melakukan ibadah kurban, maka janganlah dia mendekati masjid kami.” [4]

Oleh karena itu, tidak selayaknya bagi orang yang mampu meninggalkan ibadah ini. Hendaklah dia berkurban dengan satu hewan (kambing) atas nama dia dan keluarganya. Dan tidak sah dua orang atau lebih bersekutu dalam kepemilikan seekor kambing kurban. Sedangkan pada sapi atau unta, maka boleh tujuh orang bersekutu dalam kepemilikannya. Sekali lagi, ini dalam kepemilikan. Adapun bersekutu dalam pahala, maka tidak apa-apa seseorang berkurban dengan satu kambing atas nama dirinya dan keluarganya, meskipun jumlahnya banyak. Bahkan dia boleh berkurban atas nama dirinya dan seluruh Ulama Islam atau yang serupa dengan itu, (misalnya) atas nama banyak orang sampai tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah عزّوجلّ.

CATATAN:
Disini, saya merasa perlu mengingatkan satu hal yang sering dilakukan oleh umat dengan keyakinan bahwa ibadah kurban itu dilakukan khusus atas nama orang-orang yang sudah mati. Sampai-sampai jika mereka ditanya, “Sudahkah kamu melakukan ibadah kurban atas nama dirimu ?” maka dia akan menjawab, “Apakah saya melaksanakan ibadah kurban ? padahal saya masih hidup ?!” Dia mengingkarinya. Sepantasnya untuk diketahui bahwa ibadah kurban itu disyari’atkan bagi kaum Muslimin yang masih hidup. Ibadah ini termasuk diantara ibadah-ibadah khusus yang merupakan kewajiban orang yang masih hidup. Oleh karena itu tidak ada riwayat dari Nabi صلي الله عليه وسلم yang menjelaskan bahwa beliau صلي الله عليه وسلم melakukan ibadah kurban atas nama keluarga dekat beliau صلي الله عليه وسلم yang sudah meninggal, tidak pula atas nama istri-istri beliau صلي الله عليه وسلم secara khusus. Beliau صلي الله عليه وسلم tidak pernah berkurban atas nama Khadijah رضي الله عنها istri pertama beliau, juga tidak atas nama Zainab binti Khuzaimah رضي الله عنها, istri beliau صلي الله عليه وسلم yang meninggal tidak lama setelah beliau nikahi, juga tidak berkurban atas nama Hamzah bin Abdul Mutthalib رضي الله عنه, paman beliau صلي الله عليه وسلم yang syahid dalam perang Uhud. Beliau hanya berkurban atas nama dirinya dan semua keluarganya. Ini mencakup keluarga yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Ada perbedaan antara mengkhusukan atau berdiri sendiri (istiqlal) dengan memasukkan (tabi’un). Artinya orang yang sudah meninggal bisa mendapatkan pahala ibadah kurban karena dia termasuk dalam lingkup keluarga orang yang melakukan ibadah kurban atas nama dirinya dan keluarganya. Dan berniat atas nama keluarganya yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Adapun melakukan ibadah kurban khusus atas nama orang vang sudah meninggal, maka sepengetahuan saya, perbuatan ini tidak ada dasarnya dalam sunnah. Namun, jika orang yang sudah meniggal itu sudah berwasiat agar disembelihkan hewan kurban, maka ini harus dilaksanakan dalam rangka menunaikan wasiatnya. Semoga masalah ini bisa difahami. Bahwasanya ibadah kurban itu hanya disyari’atkan bagi orang yang masih hidup, bukan bagi orang yang sudah meninggal. Berkurban atas nama orang yang sudah meninggal hanya ada pada (dua keadaan yaitu) ikutan (artinya si mayyit termasuk anggota kelurga dari orang yang melakukan ibadah kurban atas nama dirinya dan keluarganya, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati-red) atau karena wasiat. Sedangkan selain dua itu, meskipun (ada yang berpendapat-red) boleh, namun sebaiknya itu tidak dilakukan.
_____________________________________________
[1] HR. Ahmad 6/391 dan Ibnu Majah, no. 3122
[2] Dalam fatwa yang lain, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله menyebutkan pilihan beliau yaitu sunnah mu’akkadah.
[3] HR. Bukhari, Kitabul Adhahi, Bab Man Dzabaha Qablas Shaldti fal Yu’id (no. 5561) dan Muslim dalam Kitabul Adhahi, Babu Waqtiha (no. 1960)
[4] HR. Ahmad 2/321 dan Ibnu Majah, Kitabul Adhahi. Babul Adhahi Wajibah Hiya am La ? (no. 3123) dan al-Hakim (2/389) dan beliau رحمه الله menilainya sebagai hadits shahih.

Sumber: Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 25/21-23.

# Mana yang Lebih Baik Untuk Kurban, Kambing ataukah Sapi ? #

Soal: Mana yang lebih baik untuk berkurban, kambing atau sapi ?

Jawab: Hewan kurban terbaik adalah (pertama) unta, kemudian (kedua) sapi lalu (ketiga) kambing dan setelah itu (yang keempat) berserikat pada unta atau sapi (maksudnya beberapa orang -maksimal tujuh orang- iuran untuk membeli unta atau sapi untuk dikurbankan-red). Berdasarkan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم tentang hari Jum’at:

مَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً

“Barangsiapa yang berangkat (shalat jum’at) pada jam pertama, maka seakan-akan dia mengurbankan unta; Barangsiapayang berangkat pada jam ke-2, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi; Barangsiapa yang berangkat pada jam ke-3, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing jantan; Barangsiapa yang berangkat pada jam ke-4, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam; Barangsiapa yang berangkat pada jam ke-5, maka seakan-akan dia berkurban dengan telor.” [1]

Sisi pendalilannya yaitu ada perbedaan nilai antara beribadah kepada Allah عزّوجلّ dengan mengurbankan unta, sapi dan kambing. Tidak diragukan lagi bahwa ibadah kurban termasuk ibadah yang agung kepada Allah عزّوجلّ. Penyebab lain (kenapa unta lebih utama), karena unta itu lebih mahal, lebih banyak dagingnya dan lebih banyak manfaatnya. Inilah pendapat tiga imam yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad رحمهم الله.

Imam Malik رحمه الله mengatakan, “Hewan terbaik (untuk berkurban) adalah kambing, kemudian sapi lalu unta. Karena Nabi berkurban dengan dua kambing dan beliau tidak melakukan sesuat kecuali yang terbaik.”

Menjawab pendapat ini, kami mengatakan, “Nabi صلي الله عليه وسلم terkadang tidak memilih yang terbaik, karena rasa sayang beliau صلي الله عليه وسلم kepada umatnya. Sebab umat beliau akan mengikuti perbuatan beliau صلي الله عليه وسلم dan beliau صلي الله عليه وسلم tidak ingin memberatkan umatnya. Juga beliau صلي الله عليه وسلم sudah menjelaskan keunggulan unta dibandingkan sapi dan kambing sebagaimana hadits diatas. Wallahualam. [2]

وباالله التوفيق وصلى على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Al-Lajnatud Daimah Lil Buhutsil Ilmiyah wal Ifta’

Ketua : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz;
Wakil Ketua: Syaikh Abdurrazaq afifi;
Anggota : Syaikh Abdulah Ghadyan dan Syaikh Abdullah Mani’

____________________________________________________________
[1] Dikeluarkan oleh Imam Malik dalam al-Muwattha’, 1/101; Imam Ahmad, 2/460; Imam Bukhari, no. 881; Imam Muslim, no. 850; Abu Daud, no. 351; Imam Tirmidzi, no. 499; Imam Nasa’i, 3/99, Kitabul Jum’ah, Bab Waktil Jum’ah; Ibnu Hibban, no. 2775 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 4/234, no. 1063

[2] Fatawa al-Lajnatid Daimah Lil Buhutsil Ilmiyah wal Ifta’, 11/398

# Menyembelih Hewan Kurban Bukan Pada Hari Raya Idul ‘Adhha #

Soal: Beliau رحمه الله ditanya tentang seseorang yang beribadah kepada Allah dengan menyembelih hewan tapi bukan pada saat-saat disyariatkan berkorban. Apakah dia mendapatkan pahala ?

Jawab: Telah diketahui bersama bahwa beribadah kepada Allah dengan menyembelih hewan sembelihan bukan pada saat disyariatkan berkorban tidak akan menghasilkan pahala ibadah korban. Namun jika dia bershadaqah dengan daging hewan tersebut, maka dia mendapatkan pahala shadaqah, bukan pahala berkorban. Oleh karena itu, kami mengatakan kepada orang itu, “Jangan beribadah kepada Allah عزّوجلّ dengan sesembelihan kecuali dengan niat beribadah kepada Allah عزّوجلّ dengan menyedaqahkan dagingnya.

Sumber : Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 25/17.

# Bolehkah Berhutang Untuk Berkorban ? #

Soal: “Apa hukum ibadah kurban ? Bolehkah bagi seseorang berhutang untuk melaksanakan ibadah kurban ?”

Jawab: Beliau رحمه الله menjawab, Ibadah kurban itu hukumnya sunnah mu’akkadah (ibadah sunat yang sangat ditekankan) bagi orang yang mampu melaksanakannya. Bahkan sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa ibadah kurban itu hukumnya wajib. Diantara yang berpendapat wajib adalah imam Abu Hanifah dan murid-murid beliau رحمهم الله. Ini juga riwayat dari Imam Ahmad رحمه الله dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله.

Berdasarkan keterangan ini maka tidak seyogyanya bagi orang yang mampu meninggalkan ibadah ini. Sedangkan orang yang tidak memiliki uang, maka tidak seharusnya dia mencari hutangan untuk melaksanakan ibadah kurban. Karena (kalau dia berhutang), dia akan tersibukkan dengan tanggungan hutang, sementara dia tidak tahu, apakah dia akan mampu melunasinya ataukah tidak ? Namun bagi yang mampu, maka janganlah dia meninggalkan ibadah ini karena itu sunnah. Dan sebenarnya ibadah kurban itu satu untuk seseorang dan keluarganya. Inilah yang sunnah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم . Beliau berkorban dengan seekor kambing atas nama diri beliau صلي الله عليه وسلم dan semua keluarganya. Jika ada orang yang berkorban seekor kambing atas nama diri dan semua keluarganya, maka itu sudah cukup untuk semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia tanpa perlu mengkhususkan ibadah korban atas nama orang yang sudah meninggal dunia, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Mereka melakukan ibadah korban khusus atas nama orang yang sudah meninggal dunia dan membiarkan diri dan keluarga mereka. Mereka tidak melakukan ibadah korban atas nama diri dan keluarga mereka.

Adapun melakukan ibadah korban atas nama orang yang sudah meninggal dunia karena wasiat yang diwasiatkannya, maka itu wajib dilaksanakan. Wallahu a’lam.

# Hukum Menyisir Rambut & Memotong Kuku Sebelum Berkurban #

Soal: Apa hukum menyisir rambut pada bulan Dzulhijjah sebelum memotong hewan kurban?

Jawab: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله menjawab, Apabila seseorang berniat untuk melaksanakan ibadah kurban dan sudah masuk bulan Dzulhijjah, maka ketika itu dia dilarang memotong kuku, rambut atau kulitnya sedikitpun. Namun jika dia seorang wanita dan butuh untuk menyisir rambutnya, maka dia boleh menyisir rambutnya tapi harus perlahan-lahan. Jika tanpa sengaja ada rambut yang lepas dengan sebab sisiran itu, maka dia tidak berdosa. Karena dia menyisir rambut untuk merapikan rambutnya bukan sengaja untuk merontokkannya. Dan rambut itu rontok tanpa ada unsur kesengajaan. [1]

[1] Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 25/146

# Hewan Bagaimana yang Lebih Baik Untuk Berkurban ? #

Soal: Mana yang lebih baik untuk dijadikan hewan kurban, hewan gemuk yang banyak dagingnya ataukah yang harganya mahal?

Jawab: Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin رحمه الله menjawab, Ini sebuah permasalahan, manakah yang lebih baik untuk dijadikan hewan kurban, apakah yang harganya mahal ataukah hewan gemuk dan besar?

Biasanya, kedua hal ini saling berkaitan erat (lebih besar mestinya lebih mahal-red). Hewan yang gemuk adalah hewan terbaik untuk kurban, namun terkadang sebaliknya (yang lebih mahal lebih baik-red). Kalau kita menilik ke manfaat kurban, maka kami berpendapat bahwa hewan yang besar lebih baik, meskipun harganya murah. Namun jika kita menilik kepada kejujuran dalam beribadah kepada Allah عزّوجلّ, kami berpendapat bahwa hewan yang mahal lebih baik. Karena kerelaan seseorang mengeluarkan dana besar dalam rangka beribadah kepada Allah عزّوجلّ menunjukkan kesempurnaan dan keseriusannya dalam beribadah.

Untuk menjawab pertanyaan diatas kami katakan, “Lihatlah yang lebih bagus pengaruhnya buat hatimu lalu lakukanlah ! Selama ada dua kebaikan yang berlawanan, maka lihatlah mana yang lebih bagus pengaruhnya buat hatimu. Jika Anda memandang bahwa keimanan dan ketundukan jiwa Anda kepada Allah عزّوجلّ akan bertambah dengan sebab mengeluarkan dana, maka keluarkan dana yang besar. [1]

[1] Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 25/35

# Berqurban untuk Orang Tua yang Telah Meninggal #

Soal: Bapak saya sudah meninggal, dan kini tinggal ibu dan saudara-saudara saya. Saat ini suami saya ingin berqurban, apakah saya bisa memasukkan ayah yang sudah meninggal juga ibu dan saudara-saudara saya?

Jawab: Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله pernah memfatwakan; “Tidak termasuk sunnah berqurban untuk orang yang sudah meninggal karena tidak ada contohnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya. Namun, jika orang yang meninggal tersebut pernah berwasiat agar ia disembelihkan hewan qurban maka dituruti wasiatnya. Begitu pula jika orang yang telah meninggal digabungkan dengan orang yang masih hidup, misalnya seseorang menyembelih untuk dirinya dan keluarganya serta meniatkan sembelihannya untuk orang yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, maka diperbolehkan. Adapun kalau menyendirikan mayit (orang yang telah meninggal) saja dalam berqurban maka bukan termasuk sunnah.”[] (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il, Juz 25 hlm. 11)

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Fatawa Ulama, Fiqh, KONSULTASI Syari'ah, PROBLEMATIKA UMMAT dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.