APA ITU ” T A U H I D ” …?

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Pembahasan yang akan dilalui dalam tulisan ini merupakan perkara terpenting yang wajib diketahui seorang muslim, tanpanya kebahagiaan akhirat tidak akan tercapai.

Kenapa perkara ini menjadi begitu besar ?

Karena pembicaraan adalah seputar hak-hak Al-Akbar (Dzat Yang Maha Besar).

PENGERTIAN TAUHID

Secara bahasa, kalimat “Tauhid” bisa diartikan pengesaan.

Adapun secara istilah yang dipakai dalam pembahasan ilmu-ilmu syar’i, terdapat beragam penggunaan. Terkadang kata ini -oleh sebagian orang- dipakai secara meluas, mencakup seluruh pembahasan-pembahasan tentang akidah baik yang berhubungan dengan Alloh dan sifat-sifat-Nya, ataupun yang berhubungan dengan kedudukan para nabi, akhirat dan perinciannya, serta perkara-perkara ghaib yang lain. Sebagaimana di sisi lain sebagian orang yang memakai kata tersebut dalam arti sempit yaitu pada perkara yang berhubungan dengan Dzat Alloh dan sifat-sifat-Nya.

Namun para ulama yang mempelajari dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah secara mendalam dan terperinci mendapatkan bahwa pada hakikatnya pembicaraan masalah tauhid tidak terlepas dari tiga aspek, yaitu:



Pengesaan Alloh dalam penciptaan, pengaturan-Nya dan penguasaan terhadap segenap makhluk-Nya, yang disebut dengan TAUHID RUBUBIYYAH. Tauhid ini juga mengandung keimanan akan wujud Alloh, karena sesuatu yang tidak ada, tidak bisa disifati dengan sifat-sifat tersebut.

Pengesaan Alloh dalam peribadatan, yang disebut dengan TAUHID ULUHIYYAH.

Pengesaan Alloh dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang disebut dengan TAUHID ASMA’ WA SHIFAT.

Dengan makna inilah tauhid dikenal dikalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah-Salafiyyah, karena memang seluruh dalil-dalil tentang tauhid terhentinya pada tiga perkara ini –tidak ada yang keempat-.

TAUHID RUBUBIYYAH

Perkara ini hampir tidak ada yang menyelisihi, karena fithrah manusia mengetahui bahwa Allohlah yang mencipta, memberikan rezki, mengatur alam dan menguasai semuanya.

Tidak diketahui adanya manusia –terdahulu- yang mengingkari perkara ini kecuali beberapa kelompok, diantaranya Ad-Dahriyyah yaitu orang-orang yang mengingkari adanya pencipta, mereka meyakini bahwa alam semesta ini terwujud dengan sendirinya, sebagaimana mungkin sekarang ditemukan pada sebagian orang yang berpemahaman komunis. Alloh menyebutkan perkataan mereka di dalam kitab-Nya:

مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْر

“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup, tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa”. (QS. Al-Jatsiyah 24)

Kelompok lain adalah Majusy yang meyakini adanya dua pencipta. Cahaya sebagai pencipta kebaikan dan kegelapan sebagai pencipta kejelekan.

Namun ketika ada di kalangan manusia yang menyelisihi perkara ini dengan mengadakan sekutu bagi Alloh dalam perkara ini seperti keyakinan adanya orang yang bisa mengatur alam (sebagaimana keyakinan Rofidhoh terhadap para imam mereka atau keyakinan shufiyyah terhadap para wali mereka), Alloh telah membantah mereka menutup semua celah yang muncul dari dugaan-dugaan mereka. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُون

“Tidak ada sembahan lain yang bersamanya. Apabila sembahan-sembahan itu banyak maka masing-masingnya akan pergi dengan ciptaannya., dan sebagian sembahan tersebut akan menundukkan sebagian yang lain. Maha suci Alloh dari apa yang mereka sifatkan”. (QS. Al-Mukminun 91)

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah Rahimahulloh dalam kitabnya Ash-Showa’iqul Mursalah mengatakan: “Perhatikanlah penjelasan yang luas dengan lafazh yang jelas lagi terang. Bahwasa Ilah (Dzat Yang Berhak Diibadahi) yang benar mestilah sang pencipta, pemilik perbuatan yang menyampaikan manfaat kepada hambanya dan menolak bahaya atas hambanya itu. Apabila bila bersamanya adanya Ilah yang lain, tentunya Ilah tersebut juga memiliki ciptaan dan perbuatan. Maka ketika hal ini terjadi Ilah yang satu tidak akan ridho dengan keberadaan Ilah yang lain bersamanya. Bahkan kalau dia mampu untuk menundukkan Ilah yang lain sehingga dia menjadi satu-satunya yang diibadahi, maka dia akan melakukannya. Apabila dia tidak mampu untuk itu maka dia akan menyendiri dengan makhluknya dan pergi bersama mereka sebagaimana halnya raja-raja di dunia yang masing-masingnya dengan kerajaannya apabila dia tidak mampu manundukkan atau berkuasa atas raja-raja yang lain.

Maka mesti berada dalam satu dari tiga perkara:

Setiap Ilah pergi dengan dengan ciptaan dan kekuasaannya.
Sebagian Ilah menguasai sebagian yang lain
Seluruh Ilah berada dibawah kekuatan dan dalam kekuasaan salah satu Ilah. Ilah (yang berkuasa tersebut) bisa berbuat apa saja pada Ilah-Ilah yang lain sementara Ilah-Ilah tersebut tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Mereka tidak bisa menjalankan hukum mereka terhadapnya namun dia bida menerapkan hukumnya terhadap mereka. Maka dialah Ilah yang berhak, dialah yang diibadahi, dialah yeng mengatur dan menguasai semuanya.

Teraturnya perkara alam semesta baik di langit dan di bumi, serta keterkaitan setiap perkara satu sama lain, dan berjalannya semua itu dalam pengaturan yang sempurna, tidak berselisih dan tidak ada yang cacat, menunjukkan bahwa pengaturnya adalah satu, tidak ada llah selainnya” Selesai

Adapun perkataan Fir’aun ‘Alaihi La’natulloh sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِين

“Fir’aun berkata: “Siapakah Robbul ‘Alamin ?”. (QS. Asy-Syu’aro’ 23)

Ini hanyalah tindakan pura-pura bodoh dan kesombongan dari seorang hamba durhaka. Buktinya adalah perkataan Musa ‘Alaihissalam kepadanya:

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِر

“Musa berkata: “Engkau telah mengetahui bahwa yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu tidak lain hanyalah Robb langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata”. (QS. Al-Isro’ 102)

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

“Mereka menentang mukjizat-mukjizat itu sebab kezholiman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini kebenarannya”. (QS.An-Naml 14)

Orang-orang musyrikin Quraisy meyakini Tauhid Rububiyyah ini dan tidak menjadikan sembahan-sembahan mereka sebagai sekutu bagi Alloh dalam kekuasaan dan pengaturan-Nya. Alloh Ta’ala menyebutkan tentang keyakinan para musyrikin tersebut dalam perkara ini:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُون

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Siapakah yang memberikan kalian rezki dari langit dan bumi. Atau siapakah yang berkuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan serta mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta yang mengatur segala urusan ?”. Mereka akan menjawab: “Alloh”. Maka katakanlah: “Maka kenapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya ?”. (QS. Yunus 31)

Alloh Jalla wa ‘Ala berfirman:

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ۞ سَيَقُولُونَ لِلهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ۞ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۞ سَيَقُولُونَ لِلهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ ۞ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ۞ سَيَقُولُونَ لِلهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Siapakah pemilik bumi dan apa-apa yang ada padanya apabila kalian mengetahui?”. Mereka akan mengatakan: “Milik Alloh”. Maka katakanlah: “Lantas kenapa kalian tidak mengingatnya ?”. Katakanlah: “Siapakah Robb (Dzat Yang Memiliki Seluruh Sifat Rububiyyah) pemilik langit yang tujuh dan ‘Arsy yang agung ?”. Mereka akan mengatakan: “Milik Alloh”. Maka katakanlah: “Lantas kenapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya ?”. Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu, Dialah yang melindungi dan tidak ada yang bisa terlindung dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?” Mereka akan mengatakan: “Alloh”. Maka katakanlah: “Lantas kenapa kalian sampai tertipu ?”. (QS. Al-Mukminun 84-89)

Bahkan dengan keyakinan kaum musyrikin terhadap Tauhid Rububiyyah inilah Allah menjadikannya sebagai dalil yang jelas bagi mereka –dan segenap manusia- akan wajibnya Tauhid Uluhiyyah, karena yang berhak diibadahi hanyalah yang menciptakan mereka, mengatur kehidupan dan rezki mereka, mengangkat kesusahan mereka, adapun yang tidak memiliki peran sedikitpun dalam perkara-perkara tersebut bagaimana bisa diibadahi ? Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۞ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِله أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai para manusia !! Ibadahilah Robb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadi bumi bagi kalian sebagai hamparan dan langit sebagai atap serta menurunkan air dari langit sehingga dengannya keluar buah-buahan sebagai rezki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Alloh sementara kalian mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh 21-22)

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ ۞ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَه

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Serulah mereka yang kalian anggap sebagai sembahan selain Alloh. Mereka tidak memiliki kekuasaan seberat biji zarrah pun dilangit maupun di bumi. Mereka sama sekali tidak memiliki peran dalam penciptaan keduanya dan tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu-Nya. Syafaat disisi-Nya tidak bermanfaat kecuali hanya bagi orang yang diizinkan-Nya”. (QS. Saba’ 22-23)

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah Rahimahulloh dalam kitabnya Ash-Showa’iqul Mursalah mengatakan: “Perhatikanlah bagaimana ayat ini membantah kaum musyrikin dari berbagai jalan masuk mereka terhadap kesyirikan, serta menutupnya dengan sempurna dan rapat. Sesungguhnya seorang hamba menggantungkan hatinya dengan yang diibadahi, dikarenakan apa yang bakal dia dapatkan berupa manfaat, kalau dia tidak mengharapkan manfaat maka hatinya tidak akan tergantung dengan yang diibadahinya tersebut.

Maka ketika ini yang diibadahi mestilah:

pemilik sebab-sebab yang hambanya bisa memanfaatkannya
atau sekutu bagi pemiliknya
atau pembantu, penolongnya
atau orang yang memeliki posisi, kehormatan dan kedudukan disisinya

apabila keempat perkara ini tidak terdapat dan batal dari seluruh sisi maka hilanglah sebab-sebab kesyirikan dan terputuslah unsur-unsurnya”. Selesai

TAUHID ULUHIYYAH

Inilah perkara utama yang didakwahkan para nabi, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya bagi Alloh. Baik ibadah tersebut bisa berbentuk amalan hati, ataupun perkataan dan perbuatan. Alloh berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Kami telah mengutus rasul pada setiap umat yang mengatakan: “Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah Thogut (apa-apa yang diibadahi selain Alloh dan dia ridho dengannya)”. (QS. An-Nahl 36)

Perkara inilah yang diingkari oleh musuh-musuh para nabi. Alloh berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا الله مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ۞ قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِين

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata: “Wahai kaumku, Ibadahilah Alloh. Tidak ada yang pantas diibadahi bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat). Pemuka-pemuka kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami melihatmu benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al-A’rof 59-60)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ ۞ قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِين

“Kepada kaum ‘Ad Kami mengutus saudara mereka Hud, maka dia berkata: “Wahai kaumku, Ibadahilah Alloh. Tidak ada yang pantas diibadahi bagi kalian selain-Nya. Maka tidakkah kalian bertakwa ?”. Pemuka-pemuka orang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami melihatmu benar-benar tolol dan sungguh kami mendugamu termasuk para pendusta”. (QS. Al-A’rof 65-66)

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُه

“Kepada kaum Tsamud Kami mengutus saudara mereka Sholih, maka dia berkata: “Wahai kaumku, Ibadahilah Alloh. Tidak ada yang pantas diibadahi bagi kalian selain-Nya”. (QS. Al-A’rof 73), sampai kepada firman-Nya

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ ۞ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آَمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Pemuka-pemuka yang sombong dari kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yaitu orang-orang yang telah beriman dari kaumnya: “Apakah kalian yakin bahwa Sholih diutus dari Robbnya ?”. Mereka menjawab: “Kami beriman dengan apa yang disampaikannya”. Orang-orang yang sombong itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian imani”. (QS. Al-A’rof 75-76)

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُه

“Kepada kaum Madyan Kami mengutus saudara mereka Syu’aib, maka dia berkata: “Wahai kaumku, Ibadahilah Alloh. Tidak ada yang pantas diibadahi bagi kalian selain-Nya”. (QS Al-A’rof 85), sampai kepada firman-Nya

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

Pemuka-pemuka yang sombong dari kaumnya berkata: “Kami benar-benar akan mengeluarkanmu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari dari negre kami kecuali kamu kembali kepada agama kami”.
(QS Al-A’rof 88)

Karena mengingkari perkara inilah para musyrikin tidak dikatakan beriman walaupun mereka telah meyakini Tauhid Rububiyyah, dan inilah makna kalimat Laa ilaha illalloh. Karena kalimat tersebut menuntut pelepasan diri dari seluruh jenis yang diibadahi selain Alloh dalam seluruh bentuk peribadatan. Pada kalimat itu juga terdapat tuntutan untuk mengesakan Alloh saja dalam seluruh peribadahan. Disebabkan dua tuntutan inilah maka para penentang rosul menolak kalimat yang mereka dakwahkan ini.

Alloh menyebutkan tentang mereka:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ ۞ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُون

“Sesungguhnya mereka, jika dikatakan kepada mereka “Tak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh” mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan: “Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penya’ir yang gila ?”. (QS Ash-Shoffat 35-36)

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ ۞ أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mereka heran dengan kedatangan pemberi peringatan dari kelangan mereka. Orang-orang kafir berkata: “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta, apakah dia ingin menjadikan sembahan-sembahan itu menjadi sembahan yang satu saja ? Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan”.(QS Shod 4-5)

Mereka mengetahui kalau mereka menerima seruan kepada Tauhid Uluhiyyah maka mereka harus beribadah kepada Alloh saja dan meninggalkan sembahan-sembahan mereka, karena itulah mereka mengingkarinya.

Karena Tauhid Uluhiyyah merupakan keharusan dari penetapan Tauhid Rububiyyah maka sebaliknya tidak bisa seseorang dikatakan telah menetapkan Tauhid Uluhiyyah tetapi dia menyekutukan Alloh dalam Tauhid Rububiyyah seperti meyakini adanya orang yang mengetahui perkara ghoib, atau adanya benda yang bisa memberi manfaat dan bahaya dengan sendirinya.

Tauhid Uluhiyyah juga mengharuskan seseorang menetapkan apa yang Alloh tetapkan bagi diri-Nya dan meniadakan apa yang Alloh tiadakan, karena itulah bentuk ketundukan dan peribadahan seorang hamba. Makanya dari sisi ini orang yang menetapkan Tauhid Uluhiyyah mestilah menetapkan Tauhid Asma’ wa Shifat dengan pemahaman yang benar. Rusaknya Tauhid Asma’ wa Shifat pada diri seorang hamba menyebabkan kerusakan pada Tauhid Uluhiyyah.

Syaikh Sholih Alu Syaikh ­Hafizhohulloh dalam At-Tamhid (434-437) mengatakan: “Demikian juga Tauhid Asma’ wa Shifat merupakan bukti akan Tauhid Uluhiyyah. Barangsiapa yang sesat dalam Tauhid Asma’ wa Shifat maka sesungguhnya kesesatan dalam masalah Tauhid Uluhiyyah akan mengikutinya. Karena itulah anda dapatkan para mubtadi’ (ahli bid’ah) yang menyimpang dalam masalah nama-nama Alloh dan sifat-sifat-Nya dari umat ini, dari kalangan Al-Jahmiyyah, Al-Mu’tazilah, Ar-Rofidhoh, Al-Asya’iroh, Al-Maturidiyyah dan yang semisal mereka, anda mendapatkan ketika mereka menyimpang dalam Tauhid Asma’ wa Shifat, mereka tidak mengetahui hakikat makna Tauhid Uluhiyyah. Maka mereka mantafsirkan makna “Ilah” selain maknanya, dan mengartikan “Laa ilaha illalloh” tidak sesuai dengan makna yang ditunjukkan secara bahasa (arab) ataupun istilah syari’at. Demikian juga mereka tidak mengetahui keterkaitan-keterkaitan Asma’ wa Shifat dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kekuasan Alloh ‘Azza wa Jalla”. Selesai

TAUHID ASMA’ WA SHIFAT

Mengenal Alloh baik nama-nama-Nya maupun sifat-sifat-Nya, mana yang wajib kita tetapkan bagi-Nya ataupun apa yang mesti kita sucikan dari-Nya, adalah merupakan perkara ghoib yang ilmunya hanya dari-Nya.

Tauhid Asma’ Wa Shifat ini dibangun di atas dua landasan yaitu:

pertama,
menyucikan Alloh ‘Azza wa Jalla dari menyerupakan-Nya dengan makhluk.
Adapun yang kedua,
adalah mengimani apa yang disifatkan Alloh akan diri-Nya dengan sisi yang layak dengan kesempurnaan-Nya. Bersamaan dengan itu seorang hamba mesti memutus keinginan untuk mengetahui hakikat penyifatan tersebut karena Alloh berfirman:


يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Dia mengetahui apa yang akan mereka mereka hadapi berupa apaha dan azab serta apa yang mereka tinggalkan di dunia, sementara ilmu mereka tidak bisa membatasi ilmu, dzat dan sifat-Nya”. (QS Thoha 110)

Allohlah yang tahu tentang diri-Nya Subhanahu wa Ta’ala, dan kita tidak bisa mengetahui melainkan dari firman-Nya atau lewat sabda Rosul-Nya dan kita tidak dibebankan lebih dari itu. Apa yang Dia tetapkan maka kita tetapkan dan apa yang Dia tiadakan maka kita tiadakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah mengatakan: “Karena Dia Subhanahu yang paling tahu dengan diri-Nya dan selainnya, yang paling benar perkataannya, paling baik perkataan dari pada makhluknya. Kemudian para rosul-Nya orang-orang yang jujur dan terpercaya. Berbeda dengan orang-orang yang berkata tentang-Nya dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Karena itulah Dia Subhanahu mengatakan:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۞ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maha Suci Robb-mu Robb segala keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Selamat bagi para Rosul dan segala puji bagi Robb semesta alam”. (QS Ash-Shoffat 180-182)

Maka Dia mensucikan dirinya dari apa-apa yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, lalu (Dia) mengucapkan selamat kepada para rosul karena selamatnya perkataan-perkataan mereka dari kekurangan dan aib”. Selesai

Karena pentingnya masalah ini banyak dalil-dalil yang mewajibkan penyucian Alloh dari pensifatan yang dilakukan oleh para penyelisih. Ketika Nashoro menyifatkan dan menamakan Alloh sebagai “Tuhan Bapa”, Alloh berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ ۞ سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad): “Ar-Rohman tidak memiliki anak, sementara akulah orang yang pertama kali menentang dan tidak menyukai perkara itu. Maha Suci Robb langit dan bumi serta Robb ‘Arsy yang agung dari apa yang mereka sifatkan”. (QS Az-Zukhruf 81-82)

Penolakan salah satu nama ataupun sifat Alloh yang telah dia tetapkan pada hakikatnya adalah pendustaan terhadap-Nya. Adapun keluar tidaknya mereka dari Islam sesuai jenis penyimpangan yang mereka lakukan dan udzur syar’i yang ada pada mereka.

Perlu dicermati banyak orang keliru menganggap bahwa dua landasan Tauhid Asma’ wa Shifat yang telah disebutkan di atas bertolak belakang.
Sesungguhnya penetapan nama dan sifat Alloh tidak berarti kita menyerupakan-Nya dengan Alloh, karena Alloh berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Dia benar-benar tidak serupa dengan apapun, dan Dia adalah As-Sami’ (Dzat Yang Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Dzat Yang Maha Melihat)”.
(QS Asy-Syuro 11)

Dalam ayat ini Alloh meniadakan adanya penyerupaan dengan-Nya, namun setelah itu Alloh menetapkan bagi diri-Nya sifat mendengar dan sifat melihat padahal manusia juga disifati dengan kedua sifat tersebut.

Hal ini disebabkan karena tidak mesti sesuatu yang memiliki penyebutan yang sama maka hakikatnya harus sama. Kita punya kaki, dan kursi pun punya kaki, apakah sama kaki kita dengan kaki kursi, padahal keduanya dinamakan kaki ? Maka kaki manusia adalah sesuatu yang layak dengan manusia dan kaki kursi adalah yang layak dengannya. Pada makhluk saja perbedaannya bisa dimaklumi, maka bagaimana bisa penetapan hakikat sifat Alloh dianggap penyerupaan ?

Sebagai misal firman Alloh Ta’ala:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاء

“Bahkan kedua tangan-Nya terbentang, dia menafkahkan sebagaimana yang Dia kehendaki”. (QS Al-Ma’idah 64)

Karena Alloh menetapkan dua tangan bagi-Nya maka Ahlus Sunnah pun menetapkan sifat dua tangan Alloh yang layak bagi-Nya tidak sama dengan makhluk-Nya, sempurna tidak ada kekurangan dari sisi apapun. Adapun bagaimana hakitat tangan-Nya hanya Alloh yang tahu, kita tidak diberi ilmu untuk itu dan kita meyakini bahwa kedua tangan-Nya tidak seperti tangan-tangan makhluk-Nya. Karena itulah tidak boleh bagi seseorang membayang-bayangkan hakikat tangan Alloh karena secara tidak sadar orang tersebut telah menetapkan suatu bentuk dalam khayalannya, sementara khayalan itu sendiri adalah makhluk.

Maka berbahagialah orang-orang yang bisa memahami perkara ini sebagaimana para shohabat dahulu memahaminya, mereka tidak memberat-beratkan diri dengan pemikiran-pemikiran yang aneh yang menyebabkan orang-orang setelahnya banyak yang sesat bahkan sampai keluar dari Islam.

Ibnul Qoyyim Rahimahulloh dalam At-Tibyan fi Ahkamil Qur’an (1/144) mengatakan: “Apabila seorang hamba memperoleh pemahaman dalam masalah Asma’ was Shifat maka hal dia akan mendapatkan manfaatnya, manfaat yang agung dan sempurna dalam mengetahui mana yang benar dan yang salah dari pendapat-pendapat, tarikat-tarikat, madzhab-madzhab dan keyakinan-keyakinan”. Selesai

SEMPURNAKAN TAUHIDMU !!

Barangsiapa yang sempurna tauhidnya, memenuhi syarat-syaratnya dan menunaikan tuntutan-tuntutannya, maka dosa-dosanya akan diampuni dan mendapatkan ketenangan di dalam dirinya.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kesyirikan apapun, mereka mendapatkan rasa aman dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk”.
(Al-An’am 82)

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يا ابن آدم إنك لو لقيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة

“Wahai anak Adam Sesungguhnya kamu jika menemui-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, lantas kamu menemui-Ku tanpa adanya kesyirikan sedikitpun, maka sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi”.
(HR Tirmidzi dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu. Hadits ini dishohihkan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh)

Maka barangsiapa yang betul-betul menyempurnakan tauhidnya, pada dirinya terdapat rasa takut yang sangat untuk terjatuh kepada kesyirikan baik syirik besar maupun kecil.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Minangkabawy
20 Jumadits Tsani 1433 H

KITAB-KITAB SEPUTAR MASALAH INI:
>> Da’watut Tauhid Ushuluha wal Adwar Allati Marrot Biha wa Masyahir Du’atiha karya Syaikh Muhammad Kholil Haros Rahimahullohu Ta’ala
>> Ash-Showa’iqul Mursalah karya Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah Rohimahullohu Ta’ala
>> Al-Adhwa’ul Bayan Fi Idhohil Qur’an bil Qur’an karya Imam Asy-Syinqithy Rohimahullohu Ta’ala
>> At-Tamhid Syarhu Kitabit Tauhid Karya Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh Hafizhohulloh Ta’ala

Sumber: dari http://www.ahlussunnah.web.id/pentinya-belajar-tauhid untuk ISLAMIC ZONE https://thibbalummah.wordpress.com

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.