LAA TAHZAN ! ~ jangan bersedih ! ~ (bagian 1)


JANGAN BERSEDIH, JADIKAN PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين
وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه إلى يوم الدين.

أما بعد

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap orang pasti akan diuji, baik itu ujian berupa penyakit, kesedihan, penderitaan, kemiskinan dan kekurangan harta benda atau yang selainnya, semua ujian itu dimaksudkan untuk terbedakannya antara siapa yang bersabar dan siapa yang tidak mampu dalam bersabar, yang bersabar di atas ujian itu maka dia akan mendapatkan jaminan berupa kebahagiaan hakiki dan abadi yaitu dengan dimasukannya ke dalam jannah (surga), Allah Ta’ala berkata:

﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ﴾ [آل عمران: 142].

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk jannah, padahal belum dinyatakan Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian dan belum dinyatakan pula orang-orang yang sabar”. (Ali Imron: 142).

Allah Ta’ala tidak akan membiarkan seorangpun di muka bumi ini yang mengaku-ngaku sebagai pemeluk agama islam melainkan Allah Ta’ala akan mengujinya, Allah Ta’ala berkata:

﴿الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)﴾ [العنكبوت: 1-4].

“Alif laam miim, apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut: 1-3).

Kalau seseorang sudah mengaku dan mengklaim dirinya sebagai seorang yang beragama Islam dan dia telah beriman maka Allah Ta’ala memberikan kepadanya suatu ujian untuk membuktikan pengakuannya tersebut, apakah dia benar-benar sebagai seorang muslim yang telah beriman ataukah dia hanya mengaku-ngaku? Allah Ta’ala berkata:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [آل عمران: 31].

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Dan Allah adalah Al-Ghafur (Maha Pengampun) lagi Al-Rahim (Maha Penyayang)”. (Ali Imran: 31).

Bila seseorang benar-benar mengikuti perkataan Allah Ta’ala tersebut dan merealisasikannya dalam kesehariannya yaitu dengan mengikuti apa saja yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa mengamalkan ajaran-ajaran yang dibawanya maka konsekuwensinya dia harus bersiap-siap untuk mendapatkan ujian (cobaan) dari Allah ‘Azza wa Jalla, adapun bagi orang-orang yag lari dari perintah dalam ayat tersebut dan tidak mau mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia akan mendapatkan bala’ (bencana dan petaka) di dunia dan di akhiratnya, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126) وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآَيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (127)﴾ [طه: 124-128] .

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Dia berkata: “Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berkata: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Robbnya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (dibekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”. (Thahaa: 124-128).

Tulisan ini adalah merupakan salah dari tulisan-tulisan kami yang berkaitan dengan nasehat untuk siapa saja yang menginginkan kebaikan dan keselamatan di dunia dan di akhirat yang kami beri judul “JANGAN BERSEDIH JADIKANLAH PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH”, kami memohon kepada Allah Ta’ala semoga dengan sebab tulisan yang sederhana ini banyak orang mendapatkan hidayah, dan semoga dengan sebab tulisan ini banyak orang sadar dan mengetahui maksud dan tujuannya hidup di muka bumi ini, begitu pula kami memohon kepada-Nya semoga amalan kami ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami, saudara-saudari kami serta siapa saja yang mencintai kami karena Allah Ta’ala.

Ditulis oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbori di Maktabah Umum Darul Hadits Dammaj-Sha’da-Yaman, pada hari Rabu 3 Dzulhijjah 1429 Hijriyyah.

UCAPAN SYUKUR

Kami bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kenikmatan dan kebaikan yang banyak kepada kami, diantaranya yang paling berarti dan berharga bagi kami ketika Dia memberikan hidayah kepada kami untuk mengikuti ajaran dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga ketika Dia mengokohkan kami untuk terus sentiasa menuntut ilmu agama:

﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ﴾ [النحل: 53].

“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah, dan bila kalian ditimpa kemudharatan maka hanya kepada-Nyalah kalian meminta pertolongan”. (An-Nahl: 53).

Kemudian dari pada itu kami bersyukur kepada saudara-saudara kami di Limboro yang mereka telah memilih jalan terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat mereka dan semoga Allah Ta’ala mengokohkan mereka di atas kebenaran yang mereka telah berada di atasnya, diantara mereka adalah:

Abu Sumayyah dan seluruh keluarga.
Abdul Malik berserta keluarga.
Abu Ukasyah Ahmad berserta keluarga.
Abu Ghifari Hadiyan berserta keluarga.
Sunarto berserta keluarga.
Abu Jarir Heldi, Sufyan, Arsun, Wahyudin, Fahrudin, Sa’id, Herman, Diding, Hisyam dan Suwanda serta siapa saja yang memilihi perhatian dan kecintaan kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kami tidak bisa menyebut nama mereka satu persatu –semoga Allah mengokohkan mereka di atas kebenaran-.

Kemudian kami bersyukur kepada saudara-suadara kami di pulau Ambon yang telah banyak membantu dan mendoakan kebaikan kepada kami serta mereka telah memilih kebenaran dan mengikutinya, diantara mereka adalah:

Abu Muhammad Al-Amin Nurdin beserta keluarga.
Abu Usamah berserta keluarga.
Imran beserta keluarga.
Abu Sa’id Al-Maidaniy beserta keluarga.

Dan siapa saja yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang mereka senantiasa di atas kebenaran –semoga Allah mengokohkan mereka-.

وَآخِرُ دَعْوَنا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring dengan perubahan zaman banyak didapati dari umat manusia mengalami perubahan dalam bertingkah laku, kebanyak dari mereka berlomba-lomba mengikuti perubahan zaman, yang aktiv dalam perubahan dan yang senantiasa mengikutinya dianggap sebagai sesuatu yang pantas untuk dicontoh, seorang bapak tidak peduli lagi dengan kehormatan dan kesucian putrinya, yang penting putrinya bisa mengikuti perubahan zaman dan bisa memiliki kedudukan, dia tidak mempermasalahkan walaupun kehormatan dan kesucian putrinya dinodai, walaupun putrinya di sekolahan atau di tempat kuliahan dipermainkan oleh para senior, para guru atau para dosen, dia tidak peduli, walaupun putrinya di tengah-tengah kesibukannya mengikuti perubahan zaman sampai dinodai dan dihamili oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tidak dipermasalahkan yang penting terus mengikuti perubahan zaman. Sebagian yang lain lagi tidak peduli dengan aturan dan ajaran agama yang dipeluk, yang penting dia bisa menjadi pegawai negri atau bisa sukses dalam usahanya dia rela untuk menipu dan merampas hak-hak orang lain, dan sebagian lagi dari mereka demi untuk mendapatkan suami atau istri yang berkedudukan rela menanggalkan ketaqwaannya, dia rela menanggalkan pakaian kesuciannya demi untuk mendapatkan prestasi tertinggi dalam perubahan kehidupan dunianya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ».

“Dan barangsiapa yang hijrah (tujuan)nya kepada dunia yang diinginkannya atau kepada wanita yang mau dinikahinya maka tujuannya itu akan sampai kepadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Umar bin Khaththab).

Mereka bisa jadi mendapatkan apa yang mereka cita-citakan akan tetapi Allah Ta’ala telah nyatakan untuk mereka:

﴿وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ﴾ [الشورى: 20].

“Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat”. (Asy-Syura: 20)

Adapun orang yang menjadikan tujuan utama hidupnya adalah akhirat maka Allah Ta’ala nyatakan:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ﴾[الشورى: 20].

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya”. Dan Allah Ta’ala berkata tentang mereka:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ﴾ [هود: 15].

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. (Hud: 15).

Orang yang taat di atas agama Islam dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran dan tuntunan-tuntunannya, yang mereka menjaga kehormatan dan kesucian diri mereka serta takut dari berbuat dosa dan aniaya, maka orang-orang yang jelek dan rusak seringkali menghina mereka, mengejek dan membenci mereka, serta dikatakan kuper (kurang pergaulan), tidak hanya itu bahkan mereka dimusuhi –hanya kepada Allah kita meminta pertolongan-.

Agama Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat, yang mengeluarkan umat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang, ketika awal munculnya agama Islam di kota Makkah maka yang pertama-tama menyambut dan memeluknya adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan dan keselamatan di dunia dan di akhirat mereka adalah para dhu’afa’ (orang-orang lemah lagi miskin), adapun orang-orang yang gila jabatan dan orang-orang yang mencintai pangkat dan kedudukan, maka mereka enggan untuk menerima dan mengikuti ajakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada agama Islam, karena kalau mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terang benderang itu akan mengakibatkan mereka ketinggalan zaman, akan hilang jabatan dan kedudukan, coba lihat dan ambil pelajaran dari seorang raja Romawi yang berjudulukan Hiraklius, dia adalah seorang raja pada Negara super power (adi daya) di Romawi, dia memiliki ilmu dan dia mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah muncul di negri Arab, ketika Abu Sufyan datang ke Romawi dalam rangka untuk berdagang, raja Hiraklius mengundangnya ke istana kerajaan untuk menanyakan tentang Nabi yang baru muncul tersebut, dia memberikan beberapa pertanyaan kepada Abu Sufyan tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diantara pertanyaannya:

)فأشراف الناس يتبعونه أم ضعفاؤهم؟(

“Apakah orang-orang mulia (yang kaya lagi yang berkedudukan) yang mengikutinya ataukah para dhu’afa’ (orang-orang lemah lagi miskin)?” Abu Sufyan berkata:

)بل ضعفاؤهم(

“Bahkan (yang mengikutinya) adalah para fuqara’-nya mereka”. Kemudian sang raja berkata:

)وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ(.

“Mereka (para dhu’afa’) itulah pengikutnya para Nabi”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas).

Bukan berarti yang mengikuti Nabi itu hanya para dhu’afa’ saja, akan tetapi bahkan ada dari para pengikut nabi orang-orang kaya raya dan orang-orang yang berkedudukan, diantara mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan dan raja Najasyi –semoga Allah meridhai mereka semua-, akan tetapi ketika mereka mengikuti ajakan Nabi merekapun mendapatkan ujian berupa penderitaan, kekurangan harta benda, kesengsaraan dan bahkan mereka mendapatkan permusuhan dari orang-orang yang membenci, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾ [البقرة: 155].

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar”. (Al-Baqarah: 155).

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar hijrah dari kota Makkah ke Madinah maka orang-orang yang membenci dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengejar keduanya untuk dibunuh, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar –semoga Allah meridhainya- bersembunyi di dalam gua, para penjahat itu berkumpul di samping atau di sekitar gua maka Abu Bakar merasa sedih dan khawatir kalau para penjahat itu tahu bahwa keduanya berada di dalam gua, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar:

﴿لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾ [التوبة: 40].

“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah: 40). Maka dari sini kamipun katakana kepada siapa saja dari para pengikut Nabi yang ada di zaman ini baik di desa Limboro, di kota Ambon, di kepulauan Maluku dan di Negara Republik Indonesia atau dimanapun berada “JANGAN BERSEDIH JADIKANLAH PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH” karena Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam berkata:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمِّ، وَلاَ حُزْنٍ، وَلاَ أَذًى، وَلاَ غَمِّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا؛ إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»..

“Tidaklah ditimpakan kepada seseorang yang memeluk agama Islamberupa penderitaan (keletihan), penyakit, kesusahan, kesedihan dan gangguan serta kepedihan sampai-sampai duri yang tertusuk padanya melainkan itu adalah pembersih (penghapus) dosa-dosanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Tentu bagi para insan akademik, orang-orang yang berpendidikan dan orang-orang yang menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya tidak akan mau mengikuti jejaknya raja Hiraklius, karena raja Hiraklius memiliki ilmu dan mengetahui kebenaran namun enggan untuk mengikutinya disebabkan karena kedudukan dan kekayaannya, karena ingin mempertahankan kedudukan dan kekayaannya diapun mengerahkan kekuatannya untuk memerangi para pengikut Nabi, yang akibatnya justru dia binasa dan kerajaannya runtuh. Dan siapa saja ikut berlagak seperti raja Hiraklius dan yang enggan untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka tentu ancamannya adalah tidak dimasukan ke dalam jannah (surga), Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«كلُّ أُمَّتي يدخلون الجنة إلا مَن أبى».

“Semua umatku akan masuk jannah kecuali orang yang enggan”. Maka para shahabat berkata: Ya Rasulullah siapa orang yang enggan untuk masuk jannah itu? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«مَن أطاعني دخل الجنة ، ومن عصاني فقد أبى»

“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia akan masuk jannah dan barangsiapa yang memaksiati (tidak mentaati)ku maka sungguh dia telah enggan (untuk masuk jannah)”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

BAB II

JANGAN MERASA MENDERITA DAN SENGSARA KARENA ANAK ATAU SAUDARA
YANG DIJADIKAN SEBAGAI TUMPUAN HARAPAN
MENINGGALKANMU KARENA MENUNTUT ILMU AGAMA

2.1 Pelajaran dari Ibu Rumah Tangga yang Baik

Ada seorang ibu rumah tangga yang baik dia adalah Ummu Sumayyah Musriya’ –semoga Allah merahmatinya-, bapaknya adalah seorang khatib dan penghafal Al-Qur’an, yang biasa mengimami manusia ketika shalat 5 (lima) waktu, sejak kanak-kanak Ummu Sumayyah sudah mulai diarahkan untuk membaca dan mencintai Al-Qur’an tidak lama kemudian bapak dan ibunya meninggal dunia, diapun menjadi anak yatim, kemudian dipelihara oleh nenek dan bibinya, dia dibawa ke negri kepulauan di Maluku, di Maluku dia melanjutkan belajar membaca Al-Qur’an dari nenek dan bibinya yang ketika itu nenek dan bibinya sangat taat dalam beribadah, ketika Ummu Sumayyah –semoga Allah merahmtinya- menjadi ibu rumah tangga yang baik, diapun mendorong putra-putrinya untuk mempelajari Al-Qur’an, dipersiapkan sarana dan perlengkapan untuk ke rumah guru ngaji (ustadz), bahkan ketika dibuka pesantren kilat di kampung tetangga dia meridhai seorang anaknya untuk ikut menjadi santri sehingga dia bisa memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya, dalam keadaan Ummu Sumayyah ketika itu sangat membutuhkan bantuan dari seorang anak tersebut, begitu pula ketika dibuka pembelajaran praktis membaca Al-Qur’an di salah satu masjid, dia selalu memotivasi anaknya tersebut untuk hadir, dia –semoga Allah merahmatinya- selalu mendorong anak-anaknya untuk mengamalkan Al-Qur’an, membangunkan putranya untuk shalat subuh berjama’ah di masjid dan bahkan ketika terjadi kerusuhan di Ambon berupa pentaian terhadap kaum muslimin yang dilakukan oleh kaum salibis RMS (Republik Maluku Sarani), dia mendorong salah satu putranya untuk berangkat ke Ambon demi untuk membela agama Allah dalam keadaan dia sendiri sangat membutuhkan bantuan dari anaknya tersebut untuk bekerja di perkebunan, dan dia –semoga Allah merahmatinya- sangat bergembira ketika mendengar kedua putranya maju bertempur di medan jihad di propinsi Ambon, begitu pula ketika dibuka latihan pencat silat, dia pula mendorong tiga dari putra-putranya untuk mengikuti latihan tersebut sehingga suatu saat nanti bisa dipraktekan dalam membela diri ketika dihadang oleh para musuh, dia –semoga Allah merahmatinya- mendorong dan memotivasi seorang putranya di rumah untuk selalu aktiv dalam membimbing anak-anak dalam membaca Al-Qur’an di rumahnya.

Bila orang tua memiliki kesadaran tentang pentingnya ilmu agama maka dia akan memberi dukungan kepada anak-anaknya karena hal itu akan memberi manfaat kepadanya, baik di dunia maupun di akhiratnya, di dunia Allah Ta’ala akan membukakan kepadanya pintu-pintu kebaikan, Allah Ta’ala akan memberinya rezki dengan sebab anaknya berjuang dalam menuntut ilmu agama, dari Anas bin Malik –semoga Allah Ta’ala meridhainya- bahwasanya ada dua orang bersaudara, keduanya itu hidup di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, salah seorang dari keduanya sibuk dengan ilmu agama dan selalu hadir mendengarkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di majelisnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan yang satunya lagi sibuk dengan pekerjaannya, yang sibuk dengan perkerjaannya mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Wahai Rasulullah saudaraku (yang sibuk dengan belajar ilmu agama) tidak membantuku sedikitpun dalam pekerjaan! Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ».

“Barangkali kamu diberi rezki karena sebab dia menuntut ilmu agama”. (HR. Al-Hakim, Al-Bazzar, Ibnu Abdil Barr di “Jami’u Bayanil Ilmi” dan At-Tirmidzi, beliau berkata: Ini adalah hadits hasan shahih), berkata para ulama: “Menuntu ilmu agama adalah sebab datangnya rezki”.

2.2 Kesadaran Orang Tua Tentang Pentingnya Ilmu Agama, Bahwa Hanya dengan Ilmu Agama dan Amalan Shalih yang Akan Membahagiakan Mereka di Kehidupan Dunia dan Akhirat.

Adapun bagi orang-orang yang memiliki ilmu agama dan memiliki anak yang shalih (taat beribadah dan suka berbuat kebaikan) maka di kehidupan akhiratnya nanti Allah Ta’ala akan terus memberinya tambahan pahala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ».

“Jika telah mati seseorang maka terputuslah amalannya kecuali tiga: Sedekah yang terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya”. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Oleh karena itu kami nasehatkan kepada para orang tua, kalaulah kalian memiliki kekayaan maka pasti kalian akan tinggalkan, kalau kalian memiliki anak yang berpangkat dan berkedudukan maka pasti kalian akan berpisah dengannya, melainkan hanya tiga perkara yang telah disebutkan dalam hadits tersebut, jika para orang tua berkata: “Kami orang kaya kalau mati kami gunakan kekayaan kami untuk sedekah yang akan terus mengalir pahalanya untuk kami”. Maka kami katakan: Itu hanyalah angan-angan dan hayalan belaka, karena anak-anak yang mereka tinggalkan adalah jauh dari agama, mereka bodoh terhadap agamanya yang akibatnya mereka memperebutkan harta kekayaan yang ditinggalkan oleh orang tuanya, karena masing-masing mengaku berhak sebagai pewaris kekayaan orang tuanya, karena semuanya merasa berhak mendapatkan warisan maka disimpulkanlah untuk dibagikan warisan tersebut, kalaupun mereka bagikan maka tentu dengan cara batil (tidak benar atau tidak adil) karena mereka tidak memahami ilmu waris, sedangkan ilmu waris adalah termasuk dari bagian ilmu agama, ketika mereka tidak bisa membagi harta waris dengan cara yang benar, orang tuanyapun mengalami kerugian di akhiratnya.

Secerdas dan sepintar apapun seseorang dalam kehidupan dunia ini kalau dia jauh dari tuntutan dan bimbingan agama Islam dan benci dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia pasti akan merugi dan binasa, ambillah pelajaran dari apa yang dirasakan oleh Kaisar raja Persia, dia seorang raja yang memiliki kerajaan “adi daya” yang kedua setelah kerajaan Romawi, dia memiliki beberapa orang pangeran (putra-putra), karena dia benci dan memusuhi dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta menyobek-nyobek surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuknya, karena Kaisar tidak mau mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengikuti agama Islam yang akibatnya kerajaan Persia hancur, Kaisarpun mati karena dibunuh oleh putranya sendiri, putranya tersebut gila pangkat dan kedudukan bapaknya sebagai seorang raja, dia berambisi tinggi untuk mewarisi apa yang dimiliki oleh bapaknya, sebelum membunuh bapaknya, dia terlebih dahulu membunuh saudara-suadaranya karena takut mereka nanti yang menjadi pewaris kerajaan, setelah saudara-saudaranya dia habisi dan bapaknya masih menjabat sebagai seorang raja sementara dia sudah sangat berambisi untuk menjadi raja, dengan jalan pintas diapun akhirnya membunuh bapaknya supaya dia cepat menjabat sebagai raja baru dan supaya hanya dialah satu-satunya menjadi pewaris bapaknya, dia membunuh bapaknya dengan cara licik yaitu dengan memasukan racun ke dalam botol obat-obatan, kemudian bapaknya mengambil botol tersebut dan dia mengira itu adalah obat sebagaimana tertulis di luarnya, setelah diminum ternyata dia langsung mati konyol karena keracunan, anak tersebut kemudian naik pangkat menjadi seorang raja baru pada kerajaan Persia, tidak lama kemudian raja baru tersebut binasa karena sebab permusuhan dan kebenciannya terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika raja baru tersebut mati naiklah pengganti baru dari tuan putri kerajaan yaitu saudari atau anak perempuannya raja menjadi seorang ratu pada kerajaan Persia, ketika sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berita tentang Persia telah dipimpin oleh seorang ratu, maka beliau berkata:

«لنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً».

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”. (HR. Al-Bukhari dari Abu Bakrah).

Lalu bagaimana kiranya dengan keadaan di zaman ini para wanita berbondong-bondong menduduki posisi para pria, ada dari mereka menjadi kepala sekolah, rektor, presiden dan bahkan ada dari mereka berbondong-bondong kuliah di Fakultas Teknik???.

insya Alloh bersambung:

    BAB III – BERSABAR DI ATAS KERINDUAN KARENA BUAH HATI DAN TUMPUAN HARAPAN BELAJAR ILMU AGAMA DI NEGRI YANG JAUH

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam, Nasehat dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke LAA TAHZAN ! ~ jangan bersedih ! ~ (bagian 1)

  1. salman hidayat berkata:

    dari web2 yang mengaku ahlul sunnah bila saya cermati adanya perbedaan soal la tahzan, sehingga tidak sedikit orang yang bingung akan sikap ini, sebagai contoh web2 yg tidak sepahan dengan buku la tahzan adalah web berikut ini http://abusalma.wordpress.com/2007/02/10/bersedihlah/ dan maseh banyak lagi blog-blog yang senada bisa kta jumpai pada
    http://yufid.com/result.html?cref=http%3A%2F%2Fyufid.com%2Fxml%2Fcse_context_yufid.xml&cof=FORID%3A10&ie=UTF-8&q=LAA+TAHZAN+%21+~+jangan+bersedih&sa=Telusuri&siteurl=www.yufid.com%2F&ref=
    mohon klarifikasinya

Komentar ditutup.