FATWA Ulama Ahlussunnah Tentang CELANA PANTALON

بسم الله الرحمن الرحيم

Diterjemahkan oleh: Abu ‘Abdirrahman Shiddiq Al-Bugisi -semoga Alloh menjaganya-

Soal:
Sebagian orang yang membolehkan celana pentalon dan dasi berdalih dengan kaidah: hukum asal segala sesuatunya itu adalah boleh, benarkah dalih yang seperti ini?

Fatwa Syaikh Yahya Bin ‘Ali Al Hajury -hafidzohullohu-

Jawab:
Ini tidaklah benar, ibarah “hukum asal segala sesuatunya itu adalah boleh” adalah ibarah yang masih butuh diteliti lagi, hanya saja yang mereka (ulama) katakan adalah: hukum asal dalam perkara makanan dan minuman dan seterusnya adalah boleh, dan kemaluan hukum asalnya adalah haram,

maka apakah kaidah tersebut yang menghukumi dalil ataukah dalil-lah yang menghukumi kaidah? Tidaklah di sana terdapat kaidah melainkan engkau perlu mencarikan dalil untuknya bukan malah engkau berdalih dengannya,

Memakai celana pentalon itu menyerupai orang-orang kafir, Apakah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dulunya mengenakan pentalon, demikian juga Abu Bakr Ash-Shiddiq dan khulafa’ur Rosyidin, demikian pula Ibnu Mubarak, Sufyanain (Sufyan At-Tsaury dan Sufyan ibnu ‘Uyainah), Hammadain (Hammad bin Zaid dan Hammad bin Salamah), dan Al-Auza’i, tidak satupun dari mereka yang mengenakannya.

Andaikata celana ini ada pada zaman mereka, tentulah mereka akan sangat membencinya, sebab mereka itu sangat melarang untuk menyerupai orang-orang Eropa (barat) dan orang-orang kafir, Allah subhanahu wa ta’ala berkata:

﴿ أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ ﴾ ]النساء 60[

“Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwasanya mereka itu telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu.” [An-Nisaa’: 60].

Sama saja apakah itu dalam ucapan, perbuatan ataupun selainnya, dan berkata Allah ta’ala:

﴿ ولا تتخذوا الكافرين أو لياء من دون المؤمنين ﴾ ]النساء 144[

“Dan janganlah kalian mengambil orang-orang kafir sebagai wali (teman akrab, penolong, dan pelindung), dengan meninggalkan orang-orang mukminin.” [An-Nisaa’: 144].

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

ومن تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan kaum tersebut.” [HR. Abu Daud dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, disahihkan oleh Al-Albani rahimahullah di Irwaa’ (1269) dengan syawahidnya]

Dan Syaikhul Islam punya ungkapan yang kuat di “Iqtidhaa’ Shiratal Mustaqim Mukhalafat Ashhabil Jahim“: Barangsiapa yang memakai pakaian orang-orang kafir dan berpendapat bahwa pakaian itu lebih bagus dan lebih mendapat petunjuk daripada pakaian muslimin maka dia kafir. -selesai- [Al-Iftaa’ alal Asilah Al-Waridah min Duwalin Syatta, hal. 200-201].

Fatwa Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali -hafidzohullohu-

Soal:
Apabila ada suatu amalan ketaatan yang agung seperti jihad, tapi tidak bisa tercapai kecuali dengan melakukan beberapa kemaksiatan, apakah boleh melakukan ketaatan tersebut (dengan melakukan maksiat) secara syar’i?

Jawab:
Apabila ketaatan yang agung seperti jihad, namun tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan melakukan beberapa maksiat, seperti apakah maksiat yang dilakukan supaya dapat melaksanankan kewajiban berjihad?

Maka akupun (Abu Rawahah) menjawab: seperti memakai celana pantalon, potong jenggot, bergabung dengan ahlul bida’ supaya dapat sampai ke medan peperangan.

Maka Asy-Syaikh waffaqahulloh menjawab:

“Apakah jihad itu tidak akan terlaksana kecuali dengan memakai celana pantaloon dan potong jenggot?! Dan apakah para sahabat manakala berangkat jihad mereka potong jenggot?! Dan memakai pantaloon?!

Dulu Umar –sedang mereka berada di daerah perbatasan musuh- menulis kepada mereka: “Jauhilah mode orang ‘ajam, potonglah pelana kuda dan langsung saja lompat ke atas kuda.”

Maka ini jelas sekali termasuk dari hiyal (tipu daya) untuk bisa melampiaskan kebanyakan dari syahwat dan bida’. Contoh-contoh yang engkau utarakan tadi, saya berpendapat tiada pembenaran untuk melakukannya –semoga Allah memberkahimu- jihad dapat berlangsung tanpa harus melakukan perbuatan tersebut, yang mau berjihad wajib atasnya berjihad terhadap dirinya pertama kali dan memperbaiki dirinya sebelum segala sesuatunya.

Dan potong jenggot termasuk dari maksiat yang merupakan sebab kekalahan, dan tasyabbuh (menyerupai orang kafir) dengan memakai pentalon adalah bentuk peniruan terhadap musuh-musuh Allah –semoga Allah memberkahimu- sementara kalian tahu bahwasanya para sahabat kalah pada perang Uhud dan Hunain, adapun hari Uhud disebabkan penyelisihan pasukan pemanah yang akhirnya menimpa para sahabat yang dipimpin oleh Rasulullah apa yang telah menimpa mereka.

Demikian juga hari Hunain peristiwanya hampir sama:

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (25) ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ [التوبة/25، 26]

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya …” [At-Taubah: 25-26].

Jadi karena sebagian di antara mereka ada yang mengatakan “Sekarang jumlah kita sungguh banyak, kita tidak akan terkalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit: Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala memberi mereka pelajaran karena apa yang timbul pada diri mereka (dari ‘ujub), maka bagaimana kiranya dengan pasukan yang memotong jenggotnya dan memakai pakaian orang-orang kafir, kemudian mengharap pertolongan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala?! Karena itulah kita tidak mendapat pertolongan, seringnya musuh-musuh islam-lah yang meraih kemenangan melawan kita.

Maka wajib bagi kita untuk bersemangat dalam menaati Allah dan menetapi dan merealisasikan perintah-perintah Allah, terutama di medan peperangan agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita:

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) [محمد/7]

“Apabila kalian menolong (agama) Allah niscaya Ia akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian.” [Muhammad 7].

Ketika itulah baru kita berhak dan pantas meraih pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla yang telah Ia janjikan kepada kita. -selesai- [Ajwibah Al-‘Allamah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali As-Salafiyyah ‘Ala Asilati Abi Rawahah Al-Manhajiyyah, hal. 25-27].

Fatwa Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali -hafidzohullohu-

Soal:
Telah muncul mode pada dewasa ini di kalangan para wanita setelah munculnya di negri barat, yaitu memakai celana pentalon yang sempit, dan telah mendapat sambutan baik dari mereka, apakah hukumnya?

Jawab:
Tidak boleh bagi seorang wanita memakai pakaian yang menyerupai laki-laki atau perempuan-perempuan kafir, demikian juga tidak boleh baginya memakai pakaian sempit yang menampakkan bentuk-bentuk badannya dan menyebabkan fitnah, sedang celana pentalon terdapat padanya semua larangan ini, maka tidak boleh baginya mengenakannya. [Muntaqo min Fatawa Al-Fauzan 61/2-3].

Fatwa Syaikh Al Utsaimin -rohimahullohu-

Soal:
Syaikh yang mulia! Mayoritas manusia telah banyak memakai celana pentalon terutama di pasar-pasar, apakah hukum memakainya bagi wanita di rumahnya di depan suaminya, atau di depan wanita lainnya, ataupun di pasar? Apakah mengenakannya bagi wanita merupakan bentuk penyerupaan (tasyabbuh) terhadap laki-laki? Semoga Allah memberi taufiq kepada anda.

Jawab:
Demi Allah permasalahan ini telah menjadi rumit, saya berpendapat agar perempuan dilarang mengenakan pentalon meskipun di depan suaminya, karena padanya tasyabbuh dan bahaya yang ditakutkan darinya dikemudian hari, sebab bisa jadi suatu hari perempuan akan mengenakan pentalon yang ketat kemudian dari pentalon ketat berubah menjadi pentalon yang berwarna kulit, apabila celana itu sudah ketat disertai dengan warna kulit, jadilah ia bagaikan orang yang telanjang, dan Alhamdulillah sekarang ini majalah-majalah dan surat kabar tengah menjelaskan bahwasanya ini adalah haram, namun sangat disayangkan negara telah menyebar fatwa Syaikh ‘Abdil ‘Aziz bin Baz bahwasanya hal itu haram, dan fatwa Syaikh Ibnu Jibrin[1] bahwasanya itu adalah haram, fatwa Lajnah Daimah, dan fatwa dariku juga bahwasanya hal itu haram, tapi entah ke mana perginya orang-orang sekarang, apabila para ulama mereka telah mengatakan bahwasanya hal itu haram sedang mereka bersikeras untuk melakukannya, jadi siapa yang akan mengatur ummat?! Apabila ulama ummat tidak mengatur mereka maka siapakah yang akan mengaturnya?! Orang-orang jahil?! Ataukah hawa nafsu?! Ataukah orang-orang yang mau merusak akhlak kita, sebagaimana mereka telah merusak kebanyakan dari ummat?! Saya tidak tahu.

Yang wajib dilakukan oleh para penuntut ilmu adalah mengerahkan tenaga (menjelaskan kepada ummat keharaman memakai) semacam pakaian ini, dan menjelaskan kepada mereka bahwasanya perempuan itu bukanlah gambar pelastik yang hanya dilihat saja, perempuan itu seperti laki-laki melainkan perempuan menyelisihinya pada masalah berhias untuk sauminya, dan semacamnya dari apa yang Allah ta’ala jadikan sebagai perantara hubungan antara dia dan suaminya, sehingga banyak keturunan dan ummat, sekarang saya datangkan empat orang (ulama) semuanya mengatakan bahwasanya pakaian tersebut: haram hukumnya. [Liqo’ Al-Babul Maftuuh].

[1] Sekarang telah menyimpang.

Sumber: Dari sini

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Fatawa Ulama, Hukum Syari'at, Sunnah VS Bid'ah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke FATWA Ulama Ahlussunnah Tentang CELANA PANTALON

  1. abdul wahab berkata:

    Afwan akhy, izin copy artikel ya ??jazakumullahkhoir
    abu Muhammad abdul wahab albarowy

Komentar ditutup.