SEMPURNAKAN SHOLAT KITA; Bentuk & Susunan Shoff dalam Sholat yang Benar

Di bawah ini adalah gambar-gambar tata cara membentuk shaf dalam sholat yang benar. Saya mendapatkannya dari blog seorang teman. Yang Insya Allah gambar yang singkat ini bisa menjawab segala hal yang terjadi di masyarakat. Karena kekeliruan yang terus-menurus dilakukan oleh masyarakat. Kita juga wajib memperingatkannya karena ini berhubungan dengan sholat, sedangkan sholat adalah ibadah inti dari umat Islam ini. Maka kita harus menjaga agar sholat kita sempurna.

Semoga bermanfaat…


1. MENYUSUN SHOFF

Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ diriwayatkan bahwa beliau ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” (HR. Muslim no. 433).

Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/ bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syar’i (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.

Rasulullah bersabda ;

أتموا الصف المقدم ثم الذي يليه فما كان من نقص فليكن في الصف المؤخر

Sempurnakanlah shaff depan kemudian yang menyandinginya, maka jika ada kekurangan handaklah di shaff yang terakhir (HR. Ahmad)

ان الله وملائكته يصلون على الصف الأول قالوا يا رسول الله وعلى الثاني قال وعلى الثاني

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas shaff yang pertama. Sahabat bertanya ; Dan atas shaff yang kedua wahai Rasulullah?. Nabi Saw berkata ; (Ya), dan atas shaff yang kedua. (HR. Ahmad)

ألا تصفون كما تصف الملائكة عند ربهم قالوا وكيف تصف الملائكة عند ربهم قال يتمون الصف الأول ويتراصون في الصف

Tidakkah kalian berbaris laksana malaikat berbaris di sisi tuhan mereka?! Mereka berkata ; Bagaiman malaikat berbaris di sisi tuhannya? Rasul Saw menjawab ; Mereka menyempurnakan shaff awal dan saling rapat dalam barisan. (HR. Nasa’i)

Rasulullah juga bersabda ;

لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه لاستهموا عليه

Kalau seumpama manusia tahu (ganjaran) apa yang terdapat pada Adzan dan shaff pertama, kemudian tidak menemukan (cara) kecuali mengundinya niscaya mereka akan mengundinya. (HR. Bukhari)

Termasuk menyempurnakan shaff awal adalah mengisinya dengan orang-orang alim yang mengerti ilmu agama.

استووا ولا تختلفوا فتختلفَ قلوبُكم ولْيَلِيَنِى منكم أولو الأحلامِ والنُّهى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Samakanlah (shaff) dan jangan berbeda-beda sehingga hati kalian berselisih. Dan hendaklah yang punya akal dan kecerdasan menyandingiku, kemudian yang menyandingi mereka, kemudian yang menyandingi mereka. (Muslim)


Jika jamaah hanya terdiri dari dua orang, maka makmum berdiri disamping kanan imam membentuk satu shaff, dan jika datang satu orang lagi maka dua orang makmum membentuk shaff baru dibelakang imam. dikarenakan hadist yang diriwayatkan oleh Jabir Ibn Abdullah, beliau berkata;

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِى عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

Kemudian aku datang sehingga aku berdiri di sisi kiri Rasulullah, maka beliau memegang tanganku lalu memutarku sehingga beliau menempatkanku disisi kanannya. Kemudian Jabbar bin Shakhr dating lalu ia berwudlu, datang dan berdiri di sisi kanan Rasulullah Saw, beliau lalu memgang kedua tangan kami lalu mendorong kita, dan menemp[atkan kita dibelakang beliau. (HR. Muslim)


Selain itu hendaklah jamaah menempatkan imam ditengah, sesuai perintah Nabi saw ;

توسطوا الإمام وسدوا الخلل

Tempatkanlah imam di tengah dan tutuplah celah. (Abu Dawud)

Akan tetapi jika posisi imam telah pas, maka menempati shaff kanan lebih diutamakan ;

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas sisi-sisi kanan shaff (Abu dawud)





Hendaknya Imam selalu mengingatkan makmumnya, dan kalau perlu ditunjuk orang-orang tertentu guna mengatur shaff.



Rapikan (luruskan dan rapatkan) shaf kalian, sesungguhnya rapinya shaf termasuk bagian dari menegakkan sholat. (HR. Bukhari)

سَوُّوا صُفًُوفَكُمْ فَإِنَ تَسْوِيَةَ الصَّفَ مِنْ تَمَا مِ الصَّلاَ ةِ

“Luruskan barisan kalian, karena lurusnya barisan merupakan bagian dari kesempu-rnaan shalat.”(HR. Imam Muslim).

عن أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ فَيَقُولُ تَرَاصُّوا وَاعْتَدِلُوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

Dari Anas Ra ia berkata ; Rasulullah Saw menghadap kita dengan wajahnya sebelum bertakbir, lalu beliau berkata ; “Saling rapatlah kalian dan luruslah karena aku melihat kalian dari belakang punggungku”.

Diceritakan bahwa Rasul Saw terkadang berjalan melewati shaff dan meratakannya dengan tangannya yang mulia dari awal shaff hingga akhirnya. Dan ketika semakin banyak manusia yang ikut shalat pada zaman Khulafau-Rosyidiin sahabat Umar Ra memerintahkan seorang laki-laki untuk meratakan shaff ketika telah iqamat, kemudian ketika laki-laki itu datang dan berkata ; “Shaff telah rata”, Umar pun bertakbir untuk shalat, begitu pula yang dilakukan sahabat Ustman Ra.

Hadits An-Nu’man bin Basyir ﻪﻨﻋﷲﺍﻲﺿﺭ : Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ menghadap ke arah jama’ah shalat dan bersabda :

“Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian”.
An-Nu’man ﻪﻨﻋﷲﺍﻲﺿﺭ berkata : “Aku saksikan sendiri, masing-masing diantara kami saling menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya” (HR. Abu Dawud no. 662 dengan sanad shahih)

Hadits di atas mengandung faedah diantaranya :

– Disunnahkannya meluruskan shaf dalam shalat berjama’ah, bahkan banyak di antara ulama yang mengatakannya wajib. Hendaknya para jama’ah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jama’ah lain, sehingga shaf dapat menjadi benar-benar lurus dari awal shalat sampai akhirnya.

– Termasuk juga kesempurnaan shaf shalat berjama’ah adalah dengan merapatkannya dengan tidak membiarkan ruang-ruang yang longgar/sela antar jama’ah. Caranya adalah dengan menempelkan nahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki antar jama’ah/makmum. Jangan ada perasaan risih karena tertempelnya badan saudara kita dengan badan kita.

– Hendaknya imam memperhatikan keadaan para jama’ahnya dengan selalu mengingatkan agar shaf selalu lurus dan rapat. Tidak cukup imam hanya berkata [sawwuu shufuufakum dst. “………ﻢﻜﻓﻮﻔﺻ ﺍﻭﻮﺳ”]. Tapi harus diikuti dengan mengingatkan dan memeriksa keadaan shaf jama’ahnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ. Karena…… imam bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya (yaitu jama’ah/makmum). Rasulullah ﻢﻠﺳﻭﻪﻴﻠﻋﷲﺍﻰﻠﺻ bersabda :

“Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tapi peringatan dan pemberitahuan tidaklah cukup, diperlukan kesadaran dan kerjasama seluruh jamaah dalam merapikan shaff, karena tidak mungkin shaff bisa rapi tanpa adanya pengertian dan kerjasama dari para jamaah.

2. KABAR BURUK BAGI YANG TIDAK MERAPATKAN SHOFF

Saudaraku, ketahuilah olehmu -semoga Alloh senantiasa menunjuki kita kepada ucapan dan perbuatan yang diridhoi-Nya- bahwa meluruskan shof/barisan dan merapatkannya ketika sholat berjama’ah merupakan salah satu Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang jika diremehkan atau tidak diamalkan akan mendatangkan kejelekkan bagi pelakunya. Semoga Alloh Ta’aala merohmati seorang ‘ulama yang mengatakan :

لاَ خَيْرَ فِيْ عَمَلٍ أَبْتَرَ مِنَ الْإِتِّبَاعِ وَ لاَ خَيْرَ فِيْ عَامِلِهِ

“Tidak ada kebaikan pada suatu amal yang terputus dari ittiba’ dan tidak ada kebaikan pula bagi pelakunya.” Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juz XVI hal 526-529. Wallohu a’lam.

Ittiba’ yaitu mengikuti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdasar ilmu dan pemahaman yang benar; lawannya adalah Taqlid yaitu mengamalkan suatu amalan bukan berlandas ilmu dan pemahaman yang benar melainkan karena ikut-ikutan, persangkaan semata dsb.

Saudaraku, di antara perkara jelek akibat tidak meluruskan shof dan merapatkannya ketika sholat berjama’ah adalah :

Pertama,
orang yang tidak mau meluruskan dan merapatkan shof termasuk orang yang menentang perintah Alloh dan Rosul-Nya.

Saudaraku, sesungguhnya orang yang tidak mau meluruskan dan merapatkan shof ketika sholat berjama’ah, termasuk orang yang melanggar perintah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dimana beliau pernah bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Rapatkanlah shof-shof kalian, karena merapatkan shof-shof termasuk penegakan sholat” ( HSR. Bukhori no. 690 dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu )

Adapun dalam riwayat Imam Muslim dalam shohiehnya dengan redaksi berikut :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ ».

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu dia berkataa, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Rapatkanlah shof-shof kalian, karena merapatkan shof-shof termasuk kesempurnaan sholat” ( HSR. Muslim no. 1003 )

Hadits yang mulia ini mengandung perintah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk merapatkan shof dan meluruskannya ketika sholat berjama’ah. Maka orang yang tidak mau merealisasikannya termasuk melanggar perintah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan itu termasuk perkara yang dilarang dalam ajaran Islam.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh bersabda : “Barangsiapa taat kepadaku, sungguh ia taat kepada Alloh. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka ia mendurhakai Alloh…” HSR. Bukhori no. 7137 dan Muslim no. 4854

Alloh Ta’aala memperingatkan hamba-hamba-Nya dengan firman-Nya : “…Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul-Nya agar merasa takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” ( QS. An-Nuur ; 24 : 63 )

Kedua,
membuka celah bagi syaithon.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Rapatkanlah shof-shof kalian, rapatkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah, berlemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian yang meluruskan shof, jangan biarkan ada celah untuk syaithon-syaithon, barangsiapa yang menyambung shof niscaya Alloh akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutus shof, niscaya Alloh akan memutusnya. ( HSR. Abu Dawud no. 666 dishohiehkan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam dalam Shohiehul Jaami’ no. 1187 )

Ketiga,
membuka sebab perselisihan.

Abu Abdulloh an-Nu’man bin Basyir rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : Saya mendengar Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

“Kamu benar-benar meluruskan barisanmu atau Alloh benar-benar akan menjadikan perselisihan di antara kamu.” ( HRS. Bukhori no. 717 dan Muslim no. 1006 )

Dalam hadits shohih lainnya disebutkan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلًا بَادِيًا صَدْرُهُ مِنْ الصَّفِّ فَقَالَ عِبَادَ اللَّهِ لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam merapikan barisan ( shof sholat ) kami seakan-akan beliau merapikan anak-anak panah sampai beliau yakin bahwa kami memahaminya. Kemudian suatu hari beliau keluar lalu berdiri hingga tatkala beliau akan bertakbir ( memulai sholat ), beliau melihat seseorang menonjolkan dadanya dari barisan maka beliau bersabda : “Wahai hamba-hamba Alloh, kalian benar-benar meluruskan shof kalian atau Alloh akan memberikan perselisihan di antara kamu.” HSR. Muslim no. 1007

Saudaraku, hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa tidak lurus dan rapatnya barisan ketika sholat berjama’ah memiliki dampak buruk bagi komunitas muslim itu sendiri. Di antaranya adalah hal tersebut termasuk sebab datangnya perselisihan hati kaum muslimin dan hilangnya persatuan dan kekompakkan di antara mereka.

Keempat,
merusak kesempurnaan sholat dan kebaikannya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : ““Rapatkanlah shof-shof kalian, karena merapatkan shof-shof termasuk kesempurnaan sholat” ( HSR. Muslim no. 1003 )

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَقِيمُوا الصَّفَّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : ““Rapatkanlah shof-shof kalian, karena merapatkan shof-shof termasuk kebaikan sholat” ( HSR. Bukhori no. 722 dan Muslim no. 1005 )

Kelima,
diancam dijauhkan dari rohmat Alloh

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Rapatkanlah shof-shof kalian, rapatkanlah bahu-bahu kalian, tutuplah celah, berlemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kalian yang meluruskan shof, jangan biarkan ada celah untuk syaithon-syaithon, barangsiapa yang menyambung shof niscaya Alloh akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutus shof, niscaya Alloh akan memutusnya. ( HSR. Abu Dawud no. 666 dishohiehkan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam dalam Shohiehul Jaami’ no. 1187 )

Wallohu a’lam

di tulis oleh Ibnu Mukhtar ~seorang hamba yang sangat membutuhkan ampunan dan rahmat Robbnya~ Berkata :

“Ya Alloh…ampunilah dosa dan kesalahan kami..perbaikilah keadaan seluruh kaum muslimin..bimbinglah kami selalu kepada apa-apa yang Engkau cintai dan ridhoi..jadikanlah sisa umur kami ini penuh ampunan, kebaikan dan keberkahan. Dan dengan rahmat-Mu wafatkanlah kami sebagai hamba-hambaMu yang sholeh, aamien..aamien..aamien..

Sumber:
http://alatsari.wordpress.com/2008/04/05/bentuk-shaf-dalam-sholat-yang-benar/
http://taimullah.wordpress.com/2010/10/05/bagaimana-merapikan-shoff/
http://elmukhtar.blogspot.com/2011/05/kabar-buruk-bagi-yang-tidak-merapatkan.html

KEMBALI KE BERANDA BLOG LEWAT SINI [Klik Link]

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam, Fiqh, Hukum Syari'at, INFORMASI PENTING!, Mutiara HADIST, Realita Ummat, Sunnah VS Bid'ah dan tag . Tandai permalink.