Halalkah Upah Bekam? Bagaimana Hukum Muslimah Bekerja di Luar Rumah | BERAPA SIH UPAH BEKAM YANG WAJAR ITU?


HALALKAH UPAH PENGOBATAN BEKAM?
& BAGAIMANA HUKUM MUSLIMAH BEKERJA DI LUAR RUMAH?

Tanya:
assalamua’alaikum…
ustad apa yg harus ana lakukan,akhir – akhir ini istri ana merasa bosan dirumah..
istri selalu minta kepada ana mencari kegiatan diluar,karena sebelumnya istri ana punya sdkt kegiatan yaitu bekam panggilan…tp sjk menikah ana srh dirumah,sekarang istri pngn bekam lagi..kami memang blm dikarunia anak..ana minta solusinya..& bgmana hukumnya bekam dijadikan mata pencaharian..sukron
“ibnu cali” aghatafan@yahoo.co.id

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah. Dalam permasalahan ini ada tiga hukum yang butuh diperhatikan:
1. Hukum wanita keluar rumah.
2. Hukum wanita bekerja di luar rumah.
3. Hukum menarik upah dari bekam.


Adapun yang pertama kami katakan:
Pada dasarnya seorang wanita diperbolehkan keluar dari rumahnya dengan beberapa ketentuan:
1. Menutup aurat.
2. Tidak memakai sesuatu yang bisa menarik perhatian (fitnah), baik berupa perhiasan maupun motif dan warna pada pakaiannya.
3. Tidak sering keluar, yakni dia keluar ketika ada kebutuhan saja. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah terdahulu,” sebagian mufassirin menafsirkan maknanya: Janganlah kalian terlalu sering keluar dari rumah-rumah kalian.”

Adapun hal yang kedua kami katakan:
Seorang wanita boleh-boleh saja bekerja di luar rumah selama dia membutuhkan pekerjaan tersebut dan selama tidak terjadi kemungkaran dalam pekerjaannya, semisal harus menampakkan aurat kepada yang bukan mahram atau ikhtilath (berbaurnya lelaki dan wanita) atau yang semacamnya. Adapun jika suaminya sudah memberikan nafkah yang cukup untuk dirinya dan anak-anaknya maka tidak ada alasan bagi dia untuk bekerja di luar rumah dengan mempertaruhkan kehormatannya. Karena sebagaimana yang disebutkan di atas, dia tidak boleh sering keluar rumah dan hanya boleh keluar ketika ada kebutuhan, sementara jika dia bekerja keluar rumah mengharuskan dia akan sering keluar.

Adapun masalah yang ketiga yaitu
HUKUM MENERIMA UPAH BEKAM;

maka perlu diketahui dalam hal membekam juga membutuhkan modal, semisal pisau bedah/lancet, minyak habbatussauda, masker, sarung tangan, bahan-bahan untuk mensterilkan peralatan bekam dan semacamnya yang memang dibutuhkan.

Sehingga mengambil (menentukan) upah dari jasa pengobatan bekam yang setara dengan modal yang dia keluarkan tentunya tidak masalah. Wallahu a’lam!

Yang dibahas di sini adalah mengambil keuntungan dari membekam, yakni menarik upah yang melebihi modal yang dia keluarkan. Dalam hal ini ada dua hadits yang lahiriahnya (sekilas terkesan) bertentangan, yaitu:

1. Hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْحَجَّامِ وَكَسْبِ الْمُومِسَةِ وَعَنْ كَسْبِ عَسْبِ الْفَحْلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari hasil penjualan anjing, upah bekam, upah zina dan penjualan sperma binatang jantan.” (HR. Ahmad no. 7635)
Dan ada beberapa hadits lain yang semakna yang menunjukkan larangan (makruh, bukan harom!) mengambil upah bekam.

2. Hadits Anas -radhiallahu anhu-.

عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ: سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ فَقَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ

“Dari Humaid dia berkata, “Anas bin Malik ditanya mengenai (upah) tukang bekam, dia lalu menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam dan yang membekam beliau adalah Abu Thaibah, lantas beliau memerintahkan (keluarganya) supaya memberikan kepada Abu Thaibah dua sho’ (gantang) makanan.” (HR. Muslim no. 2952)

Hadits ini jelas menunjukkan bolehnya memberikan upah kepada tukang bekam dan bolehnya si tukang bekam untuk menerimanya.

Cara para Ulama memadukan keduanya:
Upah berbekam adalah halal dan boleh bagi tukang bekam untuk menerima upah dari pekerjaan bekamnya. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas tatkala beliau berkata:

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan beliau memberi upah kepada orang yang membekam beliau. Seandainya upah bekam itu haram, tentu beliau tidak akan memberikan padanya.” (Riwayat Al-Bukhari no. 1961 -dan ini adalah lafazhnya- dan Muslim no. 2955)

Ini juga merupakan pendapat Imam An-Nawawi tatkala beliau memberikan judul bab terhadap hadits Anas riwayat Muslim di atas: Bab Halalnya Upah Bekam. Dan ini juga yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahullah- dalam beberapa fatwa beliau.

Adapun larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam- untuk mengambil upah bekam, maka larangan itu bersifat makruh yakni sebaiknya dia tidak mengambil keuntungan dari bekamnya. Tapi kalau dia mengambil keuntungan maka tidak masalah dan hukumnya halal, hanya saja dia jangan mengambil keuntungan yang berlebihan, apalagi sampai menjual obat-obatan herbal yang sebenarnya tidak mengapa kalau tidak dibeli. Karena sebagian orang yang membekam juga menganjurkan -kalau tidak dikatakan terkesan memaksa- untuk membeli obat-obatan herbalnya setelah berbekam yang katanya dibutuhkan setelah berbekam, padahal sebenarnya tidak ada masalah walaupun tidak memakai obat herbal tersebut.

Kesimpulannya:
Sudah sepantasnya bagi tukang bekam untuk tidak menetapkan tarif dan juga tidak meminta upah, akan tetapi jika dia diberikan oleh orang yang dibekam maka tidak masalah bagia dia mengambilnya berdasarkan dalil-dalil umum yang mengizinkan mengambil pemberian dari orang lain. Wallahu a’lam.

Kembali kepada pertanyaan di atas kami katakan:
Mungkin solusinya agar istrinya tidak ‘bete’ di rumah adalah dia mengizinkan istrinya untuk membekam tapi sebaiknya dia melakukan prakteknya di rumah sehingga dia tidak perlu keluar. Kalaupun dia keluar maka hendaknya tidak keseringan dengan syarat-syarat yang kita sebutkan di atas. Tapi sebelum semuanya itu tentunya ada cara yang paling ampuh untuk menghilangkan ‘bete’ dan kepenatan, yaitu membaca Al-Qur`a, mendengarkan pengajian, membaca buku-buku agama, dan merawat anak-anak, insya Allah ini jauh lebih baik daripada menyibukkan diri dengan membekam, wallahu a’lam bishshawab.

* * *
Tanya Jawab :
abdul haris said:

Shohih,,,betul,,jawabannya tepat..!!!
Tetapi mengingat Masyarakat kita cenderung menyepelekan ttg pengobatan sunnah atau pembekamannya pun hrus profesional,agar sanitasi & hygenisasinya baik,tak ada salahnya jika sekiranya mengambil harga yg pantas,mengingat utk kwalitas lbih baik,sehingga bisa diambil jln tengahnya utk solusi.

Jawab : Khairan insya Allah.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/halalkan-upah-bekam.html


HUKUM MENJADIKAN BEKAM SEBAGAI MATA PENCAHARIAN

Oleh: Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy rahimahullahu

Pertanyaan:
هل يجوز الإكتساب من الحجامة؟
Bolehkah bekam dijadikan mata pencaharian?
Abu Hajar – Tangerang (+62852168xxxxx)

Jawab:
الجواب:
عند الضرورة يجوز إذا قصد نفع الناس وليس له معيشة يتكسب منها غير هذه المهنة فهو يجوز إن شاء الله. وبالله التوفيق
Dalam keadaan darurat diperbolehkan, apabila dengan niat memberikan manfaat kepada orang lain sementara dia tidak memiliki penghasilan kecuali dari pekerjaan ini, maka boleh insya Allah. Wabillahi At-Taufiq.
(Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy)

Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/03/08/menjadikan-bekam-sebagai-mata-pencaharian/ yang dinukil dari Majalah An-Nashihah, vol. 12 tahun 1428H/2007M, hal.7

***********
catatan Pojok Admin Blog:

<<>>
PENTING untuk diketahui bersama, agar kita memahami kenapa sebagian besar praktisi pengobatan bekam menentukan ujroh (upah) dari jasa bekamnya. bahwa dalam suatu proses pengobatan bekam yang profesional (dilakukan sesuai dengan standart medis & dengan tetap memelihara rambu-rambu syar’i) juga memerlukan dana atau modal financial, seperti untuk membeli:
– Cupping Set Bekam
– Jarum Bekam / Pisau bedah*
– Pen Lanching Device / Blade Holder
– Disposable Hands Glove*
– Disposable Mask*
– Tensi Meter
– Alat pengukur & Chip darah utk kadar Glukose, Urid Acid & Cholesterol*
– Senter Diagnosa Iridologi (iris mata), bahkan ada yang menggunakan kamera digital yang di koneksikan dengan komputerisasi
– Box steamer electric (utk mengkukus alat bekam) / Auto Claffm
– Kasa Steril / Kapas / Tisu*
– Klorin / Hidrogen Peroxide / Alkohol / Bayclean*
– Minyak Habbatussauda / Zaitun / Betadin*
– dan masih banyak lagi, yang bukan disini tempatnya utk dituliskan

Keterangan *: bahan yang dipakai habis / sekali pakai utk tiap pasien setelahnya lalu dibuang

<<>>
Kami pernah mendapat “curhat” dari pasien-pasien ketika mereka pertama kali berbekam kepada kami:

pasien Fulanah A: ustad apakah besranya infak bekam di sini sama dengan di temapat kami di Sibolga (Sumatera Utara) yang per-titiknya di tarif Rp. 50.000 per titik bekam (PERHATIKAN: PER TITIK BEKAM, bukan per sekali terapi setiap pasien), dulu waktu saya bekam di sana “dijatah” 5 titik, saya kapok untuk kembali lagi karna tidak sanggup biayanya itu

pasien Fulanah B: info ana dapatkan dari teman terapis di medan juga yang beliau juga dapat “curhatan” senada dari pasiennya, bahwa pasiennya pernah berbekam di daerah Rantau Prapat (Sumatera Utara) dengan ditarif Rp. 100.000 per titik bekam (PERHATIKAN: PER TITIK BEKAM, bukan per sekali terapi setiap pasien)

NAH MUNGKIN MUNCUL PULA PERTANYAAN DARI HATI ANDA: LALU BERAPAKAH BESARNYA INFAK BEKAM YANG WAJAR?
MASIHKAH ANDA PENASARAN TENTANG UPAH PENGOBATAN BEKAM? & BERAPA SIH NOMINAL YANG PANTAS UNTUK UPAH PENGOBATAN SUNNAH RASULULLAH INI?

Baca Artikel Terkait Lainnya Di Bawah Ini:
-> “SECUIL” KHASIAT BEKAM Berdasarkan Sabda Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wasallam

-> BEKAM: Cara Kerja Keajaiban Mukjizat Pengobatan Ini Menurut Kajian Medis Modern

-> Berapa Kali Sebaiknya Kita Harus Berbekam ?

-> JADWAL WAKTU TERBAIK (SUNNAH) UNTUK BERBEKAM SELAMA TAHUN 2011M (1432H)

-> 13 MASALAH BEKAM (HIJAMAH) YANG PALING BANYAK DITANYAKAN

-> Mengintip Ragam Malpraktek Bekam : WASPADAI & HINDARI !

-> ‘Penyakit yang Sembuh dengan Bekam’

-> ‘Testimoni Seputar Bekam’

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam, Fatawa Ulama, Fiqh, Hukum Syari'at, KONSULTASI Syari'ah, Pengobatan Nabawi, Realita Ummat, Terapi Bekam dan tag , , , . Tandai permalink.