BOLEHKAH PERAWAT WANITA MELAYANI PASIEN PRIA ? | Hukum Bersalaman dengan Dokter/Perawat Lawan Jenis | Hukum Berduaan dengan Alasan Shift Jaga Pasien

Pertanyaan Ke-4: Wanita Menjadi Perawat Kaum Pria

Fatwa As-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rahimahullah

Apakah seorang wanita dapat menjadi perawat bagi kaum pria, terutama jika ada perawat pria?

Jawaban:
Seharusnya semua rumah sakit menyediakan para perawat pria khusus untuk pria dan para perawat wanita khusus untuk kaum wanita. Hal ini hukumnya wajib, sebagaimana wajib adanya para dokter pria yang khusus untuk kaum pria dan dokter wanita untuk kaum wanita kecuali dalam keadaan yang sangat darurat, misalnya ketika tidak ada yang mengetahui macam penyakit kecuali seorang dokter pria, maka saat itu dia bisa mengobati seorang wanita yang terkena penyakit tersebut dengan alasan darurat. Demikian pula ketika penyakit yang dialami seorang pria tidak diketahui kecuali oleh seorang dokter wanita, maka saat itu seorang dokter wanita bisa mengobati seorang pria.

Jika tidak demikian, maka sewajibnya adalah seorang dokter pria mengobati pasien pria dan seorang dokter wanita mengobati pasien wanita, maka inilah sebuah kewajiban. Demikian pula para perawat pria khusus pasien pria dan perawat wanita khusus untuk pasien wanita, sebagai usaha untuk menjauhi berkhalwat (berduaan) yang diharamkan.

Pertanyaan Ke-7 : Sebagian Staf Wanita Mengeraskan Suara dan Bersalaman dengan Rekan Prianya

Sebagian wanita yang merupakan staf rumah sakit selalu mengeraskan suaranya ketika berbicara bersama teman-teman wanitanya atau dengan teman-temannya dari kalangan pria. Bahkan sebagian dari mereka bersalaman dengan kaum pria dari kalangan dokter atau yang lainnya, apakah hukum agama bagi mereka? Dan apakah kita berdosa ketika diam tidak menegurnya?

Jawaban:
Seharusnya para dokter, baik pria atau wanita selalu memperhatikan orang-orang yang sedang sakit sehingga mereka tidak mengeraskan suara di dekat mereka, akan tetapi hal itu dilakukan di tempat yang lain.

Adapun bersalaman, maka sesungguhnya seorang pria tidak diperbolehkan bersalaman dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya. Sedangkan jika seorang dokter wanita atau perawat wanita yang bukan mahramnya, maka hal itu tidak diperbolehkan, karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan kaum wanita (yang bukan mahram, -ed).”

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Demi Allah, Rasulullah sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita (yang bukan mahram, -ed), dan tidaklah beliau membai’at mereka kecuali dengan perkataan, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada beliau.”

Maka seorang wanita tidak diperbolehkan bersalaman dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya. Dia tidak diperbolehkan bersalaman dengan seorang dokter pria, seorang direktur pria, seorang pria yang sedang sakit atau yang lainnya jika ia bukan merupakan mahram. Akan tetapi hendaknya dia berbicara dengan baik, mengucapkan salam tanpa berjabat tangan, dan tanpa membuka auratnya. Hendaknya ia selalu menutup kepalanya, badannya, dan mukanya walaupun dengan memakai cadar yang matanya terbuka. Karena sesungguhnya seorang wanita adalah aurat dan fitnah sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“… Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…” (QS. Al-Ahzab: 53)

Di dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“… Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka…” (QS. An-Nuur: 31)

Kepala dan wajah adalah perhiasan yang paling utama, demikian pula yang berada pada tangannya atau kakinya, berupa perhiasan atau cat kuku, semuanya adalah fitnah berdasarkan dau ayat di atas. Maknanya adalah semua itu merupakan aurat, dan kewajibannya adalah menutupi aurat dan menjauhi segala fitnah, dan di antara sebab fitnah adalah bersalaman.

Pertanyaan Ke-12 : Berduaan dengan Alasan Tugas

Saya adalah seorang perawat pria yang bekerja untuk merawat pasien pria, bersama saya seorang perawat wanita yang selalu bersamaan pada satu shif dengan saya setelah waktu resmi. Pekerjaan tersebut berlanjut sampai waktu Shubuh, bahkan terkadang kami berduaan dengannya, dan kami takut akan fitnah yang menimpa kami. Tetapi sayangnya kami tidak bisa merubah keadaan tersebut, maka apakah saya harus meninggalkan pekerjaan tersebut karena takut kepada Allah, padahal kami sama sekali tidak memiliki pekerjaan lain untuk mencari rizki? Apakah nasehat syaikh di dalam masalah ini?

Jawaban:
Tidak selayaknya bagi para penanggung jawab rumah sakit menempatkan seorang perawat pria dengan perawat wanita selamanya, mereka berdua bermalam untuk memperhatikan pasiennya, ini merupakan kesalahan dan kemunkaran yang sangat besar, bahkan dakwah menuju kekejian. Karena jika seorang pria berduaan dengan seorang wanita, maka dia tidak akan merasa aman dari syaitan yang akan merayu mereka berdua untuk melakukan kekejian atau segala macam jalan menujunya. Karena itulah diriwayatkan sebuah hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita, karena sesungguhnya syaitan adalah ketiganya.”

Maka pekerjaan seperti ini sama sekali tidak diperbolehkan, dan hendaknya kamu meninggalkan pekerjaan tersebut karena pekerjaan tersebut diharamkan dan mengantarkan pelakunya kepada perbuatan haram yang lainnya. Jika kamu meninggalkannya karena Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikannya dengan yang lebih baik, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…” (QS. Ath-Thalaaq: 2-3)

Dan firman-Nya di dalam ayat lain:
“… Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq: 4)

Demikian pula perawat wanita, hendaklah ia selalu berhati-hati akan hal itu, hendaknya ia mengundurkan diri jika apa yang diharapkannya tidak terwujud (tidak bersama perawat pria), karena masing-masing di antara kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah Allah wajibkan atas kalian dan terhadap apa yang telah Allah larang atas kalian.

Pertanyaan Ke-13 : Berduaan dengan Perawat Wanita

Aku adalah seorang dokter pada ruang diagnosa, seorang perawat wanita menemaniku pada ruangan yang sama, kami sering mengobrol di dalam banyak masalah sehingga seorang pasien datang, maka apakah hukum agama bagi masalah ini?

Jawaban:
Hukum kasus ini adalah sama dengan hukum kasus sebelumnya, kamu tidak diperbolehkan berduaan dengan seorang wanita, tidak juga seorang perawat pria dengan seorang pasien wanita, atau seorang dokter dengan seorang perawat wanita, atau seorang dokter wanita, baik di ruangan diagnosa atau yang lainnya. Hal ini berdasarkan hadits yang telah saya jelaskan sebelumnya, dan karena hal tersebut akan berakibat kepada dosa lain kecuali orang yang diberikan kasih sayang oleh Allah. Demikian pula hendaknya pemeriksaan bagi pasien wanita dilakukan oleh seorang dokter wanita dan bagi pasien pria dilakukan oleh seorang dokter pria.

***********
Tanya:
Bagaimana Hukum Perempuan Berobat kepada Dokter Pria ?

Di Jawab Oleh Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajury ~hafidzhahullah~ : silahkan anda Baca terjemahan fatwa beliau di sini (klik link!)

Sumber :
http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/08/29/fatwa-fatwa-bagi-orang-sakit-yang-ada-di-rumah-sakit-dan-para-pekerja-yang-ada-di-sana-bag-1/
http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/08/29/fatwa-fatwa-bagi-orang-sakit-yang-ada-di-rumah-sakit-dan-para-pekerja-yang-ada-di-sana-bag-1/2/

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Adab dan Akhlak, Artikel Islam, Artikel Kesehatan, Fatawa Ulama, Fiqh, Hukum Syari'at, INFORMASI PENTING!, Kesehatan Umum, KONSULTASI Syari'ah, Secret File's, Tips Islami dan tag , . Tandai permalink.