PENELITIAN BEKAM DI INGGRIS, TERBUKTI..!! (Bag.3_selesai)

Penelitian Pengaruh Terapi Bekam untuk Penanganan Nyeri Lutut Anterior (Bagian Depan) dan potensi peranannya dalam Promosi Kesehatan

Dari artikel :
knee-radiologyKaleem Ullah, Ahmed Younis & Mohamed Wali: An investigation into the effect of Cupping Therapy as a treatment for Anterior Knee Pain and its potential role in Health Promotion.: The Internet Journal of Alternative Medicine. 2007; Volume 4, Number 1.

Kaleem Ullah, MSc Physiotherapy, University of East Anglia UK

Ahmed Younis, Principal Lecturer St Georges University of London UK
Mohamed Wali, St Georges University of London UK

Hasil
Rerata Respon

Sebanyak 26 orang relawan menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian. Empat relawan drop out sebelum dimulai penelitian. Dua puluh dua relawan mulai mengikuti penelitian; lima relawan yang tidak hadir dalam follow up seperti yang telah dijanjikan telah dikeluarkan dari penelitian dan dua relawan tidak dapat hadir pada dua follow up yang terakhir sehingga sisanya 15 relawan menyelesaikan penelitian secara komplit dan memberikan tingkat partisipasi 57,69% ( n = 15). Konstitusi dari dua puluh dua relawan yang mengikuti penelitian ini adalah sebagai berikut: laki-laki (n = 20; 90,90%), perempuan (n = 2; 9,10%). Semua relawan telah berumur atas 18 tahun.

Perbedaan antara pergerakan pasif dan aktif, Skor sakit dan Kenyamanan sebelum dan setelah Terapi Bekam

Tabel di bawah ini menunjukkan adanya peningkatan yang berarti baik aktif maupun pasif dari pergerakan, sebagaimana adanya pengurangan rasa sakit dan peningkatan kenyamanan. Std. Deviasi sebelum bekam untuk PROM (M ± SD) (142,64 ± 11,168), dan tiga minggu setelah bekam Std. Deviasi nya (151.67 ± 5.96). Begitu juga untuk AROM, Std. Deviasi sebelum bekam untuk AROM (134.14 ± 16.53) dan tiga minggu setelah bekam Std. Deviasi nya (147.24 ± 7.04). Hal yang sama juga dapat dilihat pada skor sakit dan kenyamanan. Std. Deviasi sebelum bekam untuk Sakit adalah (5.38 ± 2.8), dan tiga minggu setelah bekam Std. Deviasi nya (1.29 ± 2.02). Std. Deviasi sebelum bekam untuk kenyamanan adalah (7,21 ± 1,65), dan tiga minggu setelah bekam St. Deviasinya adalah (8,29 ± 1,20).

Tabel 1: Menampilkan perbedaaan Pasif dan aktif pergerakan, skor sakit dan kenyamanan

sebelum dan setelah Terapi Bekam.
Signifikansi perbedaan skor subjek sebelum dan setelah bekam

Seperti yang dapat kita lihat pada tabel di atas terdapat perbedaan nyata dalam setiap hasil skor pengukuran antara sebelum bekam dan tahap follow up. Pasangan sampel t-test dilakukan untuk memastikan perbedaan signifikansi statistik antara skor sakit, rerata pergerakan dan kenyamanan: segera setelah bekam, 1 minggu setelah bekam, 2 minggu setelah bekam dan 3 minggu setelah bekam.

Tabel 2: Menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam skor subjek sebelum dan setelah bekam

Tabel di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam statistik Passive Ranger of Motion (PROM), Active Ranger of Motion(AROM), Skala Analog Sakit Visual dan Skala Analog Kenyamanan Visual sebelum dan setelah Terapi Bekam; p = 0,05 pada semua hasil pengukuran.
Diskusi
Efek dari Terapi Bekam pada rerata pergerakan dan tingkat pengurangan rasa sakit (Tabel 1 dan 2)

Tingkat rasa sakit yang dirasakan oleh subyek penelitian setelah bekam adalah jauh lebih rendah dibandingkan dengan sebelum dibekam. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 yang menunjukkan perbedaan antara rerata pergerakan pasif dan aktif (ROM), Skor Sakit dan Kenyamanan sebelum dan setelah Terapi Bekam.

Tampak bahwa skor sakit memiliki perubahan yang sama dengan range skor pergerakan. Rata-rata skor sakit menurun dari 5,14 ke 1,26 setelah minggu ketiga. Terjadi penurunan yang cukup besar pada tingkatan persepsi rasa sakit dan pada pasangan sampel t-test ditemukan adanya perbedaan nilai yang signifikan secara statistik segera setelah bekam, 1 minggu dan 2 minggu dan juga 3 minggu setelah bekam (p <0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa intervensi terhadap nyeri lutut anterior (dengan bekam) dapat mengakibatkan penurunan tingkatan persepsi rasa sakit yang signifikan yang dirasakan oleh individu (Clark et al, 2000). Juga jelas terlihat bahwa tingkatan rasa sakit maksimum yang dirasakan oleh individu berkurang sebesar 50% (dari 10/10 menjadi 5/10) di akhir penelitian. Hasil tersebut sangatlah penting mengingat Terapi Bekam telah lama dianjurkan sebagai terapi yang efektif untuk mengobati nyeri (Cassileth, 2004 dan Hennawy 2004). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini melengkapi saran yang dibuat oleh banyak praktisi bekam di seluruh dunia.

Tampak bahwa range pergerakan aktif maupun pasif meningkat cukup baik setelah bekam. The mean AROM pre cupping was 134.14degrees with the minimum ROM being 95degress. Rerata AROM sebelum bekam adalah 134.14 derajat dengan ROM minimum 95 derajat. Nilai rerata nya telah meningkat menjadi 143 derajat pada 1 minggu setelah bekam dan skor minimum telah meningkat menjadi 124 derajat. Pada minggu ketiga, nilai rerata telah meningkat menjadi 147.24 derajat dan skor minimum telah meningkat menjadi 128 derajat. Setelah pengujian dengan pasangan sampel t-test ditemukan adanya perbedaan skor yang signifikan secara statistik beberapa saat setelah bekam, serta 1, 2 dan 3 minggu setelah bekam (p <0,05). Begitu juga perbedaan yang signifikan secara statistik terlihat pada PROM. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa terapi bekam secara signifikan mampu meningkatkan range pergerakan sendi lutut baik aktif maupun pasif.

Adanya penurunan skor sakit tersebut dapat dikaitkan dengan alasan yang rasional yakni bekam dapat menyebabkan pengeluaran zat seperti morfin (Endorfin), Serotonin atau Kortisol yang pada akhirnya dapat membantu menghilangkan sakit dan memperbaiki status fisiologis seseorang(Schulte, 1996). Akupressure dan Akupunktur dalam faktanya telah digunakan dan terbukti berguna untuk meredakan nyeri dan penanganan addiksi/ketagihan(Schulte, 1996; Hinze, 1988; Cadwell, 1998). Pada tingkat biologis, seperti halnya Akupressure dan Akupunktur, Terapi Bekam bekerja dengan cara merangsang atau mengaktifkan (1) sistem kekebalan tubuh; (2) Pengeluaran Enkefalin; (3) Pelepasan neurotransmitter (4) Penyempitan dan pelebaran pembuluh darah serta (5) Gerbang rasa nyeri pada Sistim Syaraf Pusat (CNS) yang berfungsi mengartikan sensari rasa nyeri (NIH Consensus Development Panel, 1998; Schulte, 1996). Akhirnya, diyakini bahwa perangsangan pada titik Akupuntur dapat mengakibatkan Gerbang nyeri menjadi kewalahan dengan cara meningkatkan frekuensi impulse, sehingga akhirnya menutup gerbang dan dapat meredakan nyeri(Oumeish, 1998; Cadwell, 1998).

Pengaruh Terapi Bekam terhadap Kenyamanan (Tabel 1 dan 2)

Adalah tidak mungkin untuk mengukur pengaruh intervensi seperti Terapi Bekam secara kwantitas terhadap kehidupan seseorang dengan sebenar-benarnya. Pendekatan secara kualitatif untuk mengetahui pengaruh terapi dari perspektif pasien mungkin merupakan interpretasi yang lebih akurat daripada pengaruh umum. Namun demikian skala analog serupa dengan VAS Sakit yang digunakan untuk mengukur secara kwantitas pengaruh terapi bekam terhadap kenyamanan seseorang. Rerata skor kenyamanan VAS telah meningkat dari 7,21 ke 8,23; secara keseluruhan peningkatannya lebih dari 1. Peningkatan skor kenyamanan stabil sepanjang penelitian, hal tersebut mencerminkan keyakinan bahwa Terapi Bekam memiliki dampak positif pada kenyamanan. Temuan ini didukung oleh uji pasangan sampel t-test (p = = 0,05). Hennawy (2004) juga mendukung hal tersebut.

Oleh karena itu sangatlah wajar untuk menetapkan bahwa adanya manfaat biologis terapi bekam bersama dengan factor psikologis dalam memberikan kesehatan fisik dan kenyamanan psikologis.

Kesimpulan

Penelitian ini bukan ditujukan untuk suatu bagian penyelidikan semata tapi untuk melaksanakan perubahan dalam praktek kesehatan. Lebih dari itu tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan juga meningkatkan kesadaran mengenai penanganan dengan terapi bekam dan mendapatkan hal-hal penting yang berkaitan dengan hal tersebut. Keampuhan dari penggunaan bekam untuk nyeri lutut anterior, Range Gerakan dan kenyamanan telah mengungkapkan hasil penelitian yang memiliki perbedaan signifikan secara statistik dalam mendukung Terapi Bekam. Diharapkan juga bahwa sebagai sebuah tindakan, Terapi Bekam perlu diatur dan dilakukan pencatatan oleh para praktisi yang mengembangkannya. Penelitian jangka panjang lanjutan yang berkaitan dengan efek Terapi Bekam harus dilakukan untuk masalah musculoskeletal (otot dan tulang) yang lain.

Lampiran:
Lampiran 1
Lampiran 2: Paket Penilaian

Diterjemahkan oleh dr. Abu Hana di http://kaahil.wordpress.com di publikasikan ulang oleh PONDOK BEKAM THIBB AL-UMMAH untuk “ISLAMIC ZONE” di https://thibbalummah.wordpress.com/

Referensi:

Al Dairani et al,. [n/a] 2001 and 2003 avialable at http://www.thingsnotsaid.org – accessed June 2005

Al-Jawzeyah I. Q. (10 th century) Medicine of the Prophet. Darussalam International Publications.

Al-Rawi and Nessan AH (1997) Joint hypermobility in patients with chondromalacia patellae.;Br J Rheumatol 1997 Dec;36(12):1324-7

Al-Rub A (1999) Healing with the Medicine of the Prophet. Darussalam International Publishers and Distributors.

As-Sawi A, J, M (1992) Proposed Medical research Projects derived from the Qur’an and Sunnah. Hay’at al-I’jaz al-Ilmi. Makkah Al-mukarramah, Saudi Arabia

Ballegaard, S., Norrelund, S. & Smith, D. F., 1996. Cost-benefit of combined use of acupuncture, Shiatsu and lifestyle adjustment for treatment of patients with severe angina pectoris. Acupuncture & Electro-Therapeutics Research. 21(3-4): 187-197

Cadwell, V., 1998. A primer on acupuncture. Journal Emergency Nursing. 24(6): 514-517

Chen A., 1993. Effective acupuncture therapy for stroke and cerebrovascular disease, part I. In: Gosman-Hedstrom, G.; Glaesson, L.; Klingenstierna, U.; Carlsson, J.; Olausson, B.; Frizell, M.; Fagerberg, B. & Blomstrand, C., 1998. Effects of acupuncture treatment on daily life activities and quality of life: a controlled, prospective, and randomized study of acute stroke patients. Stroke: A Journal of Cerebral Circulation. 29(10): 2100-2108

Chirali, I. Z (1999) Traditional Chinese Medicine Cupping Therapy, 6th Edition. Churchill Livingstone.

Clark D, I (2000), N Downing, J Mitchell, L Coulson, E P Syzpryt, M Doherty. Physiotherapy for anterior knee pain: a randomised controlled trial Ann Rheum Dis 2000;59:700-704

Commission for Racial Equality (1999) Ethnic minorities in Britain (WWW). Available at http://www.cre.gov.uk/pdfs/em_fs.pdf (accessed 17 January 2003)

Crespo, C.J., Smit, E., Andersen, R.E., Carter-Pokras, O. and Ainsworth, B.E. (2000) Race/ethnicity, social class and their relation to physical activity during leisure time: results from the Third National Health and Nutrition Examination Survey. American Journal of Preventive Medicine 18(1), 46-53

Curtis N, J (2005), Management of Urinary tract Infections: historical perspective and current strategies: Part 1-before antibiotics. Journal of Urology. 173(1):21-26, January 2005.

Davis, C. M., 1997. Complementary Therapies in Rehabilitation. Holistic Approaches for Prevention and Wellness. SLACK Inc., Thorofare, New Jersey, USA

Department of Health (2001) National Service Framework for Older People. London, The Stationary Office

Duckworth, M. (1999) Outcome selection and typology. Physiotherapy 85(1), 21-27

Ernst, E. & White, A. R., 2000. Acupuncture may be associated with serious adverse events. British Medical Journal. 320(7233): 513

Fairbank 1984) cited by D.P. Johnson 2005 Anatomy, Diagnosis Mechcanics and Management of Anterior Knee Pain (available from http://www.orthopaedics.co.uk/boc/v2rinfo10.htm – accessed July 2005

Falkenstrom, M. K., 1998. Pain management of the patient with cancer in the homecare setting. Journal of Intravenous Nursing. 21(6): 327-334

Felhendler, D. & Lisander, B., 1996. Pressure on acupoints decrease postoperative pain. Clinical Journal of Pain. 12(4): 326-329

Fessele, K. S., 1996. Managing the multiple causes of nausea and vomiting in the patient with cancer. Oncology Nursing Forum. 23(9): 1409-1415

Freeman, J.A. (2002) Assessment, outcome measurement and goal setting in physiotherapy practice. In Edwards, S. (ed) Neurological Physiotherapy (2 nd edition). Churchill Livingstone, London

Hargreaves, S. (2000) Burden of ageing population may be greater than anticipated. The Lancet 355, 2146

Hennawy M (2004). Cupping therapy and Infertility. Available at: http://www.obgyn.net/english/pubs/features/presentations/hennawy15/280,1 Cupping Therapy and Infertility. Accessed December 2004.

Hinze, M. L. M., 1988. The effects of therapeutic touch and acupressure on experimentally induced pain [thesis (Ph.D.)–University of Texas at Austin] Ann Arbor, Mich., U.M.I., America

Jadad, A. R. & Browman, G. P., 1995. The WHO analgesic ladder for cancer pain management: stepping up the quality of its evaluation. The Journal of the American Medical Association. 274(23): 1870-1873.

Jin, Y.; Wu, L. & Xia, Y., 1996. Clinical study on painless labor under drugs combined with acupuncture analgesia. Chen Tzu Yen Chiu Acupuncture Research. 21(3): 9-17

King, C., Castro, C., Wilcox, S., Eyler, A.A., Sallis, J.F. and Brownson, R.C. (2000) Personal and environmental factors associated with physical inactivity among different racial-ethnic groups of U.S middle-aged and older-adult women. Health Psychology 19(4), 354-364

Lee, T. A (2001) Chinese Way Of Easing Pain – Acupressure. Pain, Symptom Control and Palliative Care 1:1

Levangie, P. K and Norkin, C.C (2001) Joint Structure and Function. A Comprehensive Analysis, 3 rd Edition

Longsdale, I. (2005) Manager of The Spa at County Hotel, London. Discussion re. ‘the use of cupping therapy in Eastern Europe’

Michalsen A, Klotz S, Ludtke R, Moebus S, Spahn G, Dobos GJ (2003) . Effectiveness of leech therapy in osteoarthritis of the knee: a randomized, controlled trial. Ann Intern Med. 2003 Nov 4;139(9):724-30

Munro, J., Brazier, J., Davey, R. and Nicholl, J. (1997) Physical activity for the over-65′s – could it be a cost-effective exercise for the NHS? Journal of Public Health Medicine 19(4), 397-402

NIH Consensus Development Panel on Acupuncture, 1998. Acupuncture (NIH consensus conference). Journal of the American Medical Assoication. 280(17): 1518-1542

Oumeish, O. Y., 1998. The philosophical, cultural, and historical aspects of complementary, alternative, unconventional, and integrative medicine in the old world. Archives of Dermatology. 134(11): 1373-1386

Pettinger, N. (1998) Age Old Myths. Health Service Journal 108, 24-25

Schulte, E., 1996. Complementary therapies: Acupuncture: Where East meets West. Research Nursing. 59(10): 55-57

Unschuld P, Medicine in China: A History of Ideas, 1985 University of California Press, Berkeley, CA

Vickers, A. & Zollman, C., 1999. ABC of complementary medicine: Acupuncture (Clinical Review). British Medical Journal. 319(7215): 973-976

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam, Artikel Kesehatan, Kesehatan Umum, Pengobatan Nabawi, Penyakit yang Sembuh dengan Bekam, Terapi Bekam dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke PENELITIAN BEKAM DI INGGRIS, TERBUKTI..!! (Bag.3_selesai)

  1. Fitriyana berkata:

    assalamualaykum,,, izin share ke facebook ya,,,, sangat bermanfaat tulisannya, perlu diketahui kaum muslimin.

Komentar ditutup.