KISAH NYATA : “ KANIBALISME ” DI RUMAH SAKIT-RUMAH SAKIT INDONESIA

Bismillah…

Seorang kawan mengisahkan kepada saya: Saat bepergian bertemu dengan sorang ibu yang bercerita dengan mimik bersalah…kisahnya sebagai berikut:

Minggu lalu saya operasi tumor anak saya di RSCM, setelah diangkat daging tumornya kurang lebih 1 kg, niat saya daging (tumor)nya mau saya bawa pulang untuk dikuburkan. Segera saya bungkus dengan plastik dan pulang naik taxi yang biasa mangkal sekitar RSCM. Setiba di rumah Cinere saya segera turun dan membayar ongkos taxi. Luput dari ingatan, daging (kanker) pun tertinggal di taxi. Tanpa berpikir macam-macam saya menganggap kejadian ini biasa… sampai kemarin.. Saat besuk lagi ke RS, saya kembali berjumpa dengan sopir taxi tersebut. Saya tidak begitu mengenali kalau sang sopir tidak menegur saya. “Ibu, yang minggu lalu naik taxi saya, ya?.. saya sengaja mangkal disini dan mencari ibu”, lanjutnya lagi. “Memang ada apa pak? Tanya saya heran. “Anu bu, sewaktu saya ngantar ibu, saya langsung pulang ke rumah, sebelum turun saya periksa di jok belakang mobil ada bungkusan daging..” akunya. “Oh, ya lantas dagingnya dikemanain pak? Tanya saya. “Anu bu, maaf saya tadinya mau antar lagi ke rumah ibu, tapi saya pikir karena dagingnya cuma sedikit, ya saya kasih ke istri saya”. “ Lantas dikemanain pak? hardik saya, karena takut yang terlintas dipikiran saya terjadi. “Ya sudah dimasak, bu!!! … saya tertegun dan hanya terdiam.. “jangan khawatir bu, saya akan ganti kok bu, makanya saya cari ibu..” lanjutnya.

Ya Allah.. saya tidak tahu harus ngomong apa… mau bilang itu daging tumor salah, tidak bilang saya merasa sangat berdosa…

>> KANIBAL,,, baik sengaja maupun tidak sang sopir sudah memakan daging manusia <<

Sesungguhnya bukan kisah memakan daging yang ingin saya ceritakan tapi, bagaimana “kanibalisme” manusia makan sesamanya, saling memperdaya dan menindas. Cukup banyak kisah kanibalisme yang terjadi di berbagai bidang kehidupan, di kehidupan sehari-hari, di birokrasi dan tempat-tempat pelayanan umum termasuk rumah sakit.

@ >>> Permasalahan kesehatan di Indonesia masih sangat buruk, hal tersebut dapat dilihat dari indikator kematian, salah satunya kematian ibu dan anak, apabila di bandingkan dengan negara Malaysia, angka kematian ibu di sana lebih kecil, yaitu 40 : 100.000. Dan di Indonesia, angka kematian ibu mencapai 300 : 100.000, selain itu HDI (Human Development Index) di Indonesia juga buruk, berada di posisi 111. Dengan kata lain komitmen tentang kesehatan juga sangat lemah, padahal kesehatan sangat penting untuk sumber daya manusia. Di Indonesia, anggaran untuk kesehatan hanya berkisar 2,6 atau 2,7 persen dari seluruh anggaran. Menurut WHO, minimal anggaran pada setiap negara dialokasi 5 persen untuk kesehatan. Tidak adanya komitmen politik karena masih ada anggapan bahwa masalah kesehatan hanya sekedar membiayai orang yang sakit atau membangun rumah sakit. Mereka belum melihat bahwa kesehatan mendukung produktifitas dan sehat.

@ >>> Pelayanan kesehatan di Indonesia dinilai telah diperdagangkan. Ironisnya, rumah sakit pemerintah pun disinyalir telah melakukannya. Padahal secara konseptual, sangatlah aneh sebuah rumah sakit yang dibangun dari dana publik, tetapi ketika rakyat sakit dan tidak mampu, mereka harus membayar terlebih dahulu. Bahkan tidak jarang bila tak ada uang, pelayanan tak diberikan hingga nyawa melayang.

Minggu lalu saya tidak habis pikir kenapa RS yang dibangun pemerintah terkadang lebih mahal. Sewaktu menambal gigi anak di RSUD dikenakan biaya 25 ribu, di RS milik tentara lebih mahal 65 ribu.. mau lebih murah? di puskesmas..tapi layanannya? meragukan.

@ >>> Saya jadi ingat arti Tumor (berasal dari tumere bahasa Latin, yang berarti “bengkak”), istilah ini sekarang digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal. Pertumbuhannya dapat digolongkan sebagai ganas (alignan) atau jinak (benign). Ihh jinak2 tomor, jangan-jangan… jangan sampai pemerintah jinak-jinak tumor?? (maksud saya: sebaik-baiknya tumor tetaplah penyakit, jangan sampai pemerintah hanya menjadikan orang miskin sebagai obyek proyek semata).

Rasakan bagaimana rumah sakit berkelas (ihh saya ngeri nyebut nama RS-nya, ingat Bu Prita), bahkan yang dikelola pemerintah –yang nota bene, untuk melayani masyarakat luas (baca: miskin)—tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya.

@ >>> Di RS berkelas terbesar di Republik mimpi sudah menyediakan dokter spesialis yang mumpuni (professor). Tapi jangan salah, bagi masyarakat biasa, untuk bertemu dokter yang mumpuni sangat sulit. Jangan harap bias ditangani langsung, bertemu pun mustahil. Walaupun di ruang prakteknya tertulis Prof. dr. Tubinem, tapi kalau yang datang pasien miskin paling-paing ditangani oleh assistennya. Kalau mau bertemu langsung dengan sang Professor anda harus antri membuat janji dan membayar minimal 300 ribu hanya untuk berjumpa di luar biaya obat… apakah ini Professionalisme? (atau baca: memanfaatkan profesi).. lantas dimanakah gerangan kemanusiaan? Janji & etika profesi kedokteran?? (Sumpah dokter, sumpah jabatan, dan kode etik kedokteran dibuat demi menjaga martabat dokter, melindungi masyarakat, dan meningkatkan kualitas layanan, selain ada kepastian hukum).–

@ >>> Obat-nya (bila beruntung jumpa professor) adalah obat tertentu yang tidak akan ditemukan ditempat lain, jangankan di apotik diluar apotik di dalam komplek RS pun tidak tersedia (“maaf obatnya tidak ada pak, kalau bapak mau menunggu kami pesan dulu mungkin besok tersedia”.-kata apoteker). Jadi obatnya hanya ada di tempat praktek professor tersebut. Mau tidak mau bagi yang mau cepat sembuh beli di professor dengan harga tertentu (tidak tahu mahal atau murah, karena tidak ada apotik pembanding). Apakah ini termasuk monopoli dokter? (Dalam sumpah dan janji profesi, dokter tidak boleh mengambil laba. Namun, dalam praktik, dokter bersinggungan dengan industri farmasi dan obat, selain dengan industri rumah sakit yang membolehkan dokter memetik profit. Itu berpotensi merongrong moral dokter).

Kisah lain cukup banyak terdengar pasien miskin di tolak RS diberitakan di berbagai media. “Dalam kondisi seperti ini, orang miskin adalah orang yang paling dirugikan. Praktek komersialisasi kesehatan telah menggerogoti dunia kedokteran. Orang miskin penderita terlengkap, dan tak heran orang menggunakan istilah ‘orang miskin dilarang sakit’ (Hadar IA, 2009).

@ >>> Tanpa menafikan program pemerintah di bidang kesehatan (misalnya Jamkesmas, atau pun sejenis di tingkat daerah), tingkat pelayanan kesehatan di negeri ini masih terbatas. Terbatas tidak hanya pada jangkauan pelayanan tapi juga pada kualitas layanan. Masyarakat ingin mendapat pengobatan murah (gratis) tanpa mengabaikan kualitas pelayanan (obat-nya).. apabila jangkauannya saja yang diperhatikan, pasien miskin tidak akan sembuh (obat generic dibawah takaran-tingkat penyembuhannya memakan waktu lama). Jangan-jangan ini hanya populis, pengobatan murah (gratis) bagi masyarakat miskin, tapi kualitasnya…??

Ah..semoga tidak. Berdoa saja pemerintah benar-benar menjamin kesehatan rakyatnya melesat menuju cita-cita mulia..rakyat sehat Negara kuat.

RS Swasta? apakah hanya akan menjadi industri dengan motif ekonomi semata, atau memberikan sumbangsih bagi keberlanjutan generasi pertiwi yang sehat…

>> Anda bisa merasakan dan menilai sendiri <>> Revitalisasi posyandu, gaung pencanangan program ini masih jalan di tempat, tapi perlahan semoga bias memberikan manfaat yang lebih optimal.

@ >>> Optimalisasi Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat). Puskesmas mempunyai jaringan keberadaan yang luas di tanah air saat ini belum dimaksimalkan fungsinya. Jika fungsi puskesmas optimal akan meringankan beban rumah sakit, pelayanan Puskesmas juga ditingkatkan tidak hanya melayani penyakit ringan, tapi juga penyakit berat. Jadi bagi masyarakat miskin tidak perlu datang ke kota/RS besar dan sekaligus dapat menghemat biaya kesehatan,

@ >>> Revitalisasi Dokter. Saat ini di kota lebih tepat disebut profesi/pedagang barang dan jasa ekslusif, Dokter hanya menjalankan profesianya mengobati pasien, kemudian menakar harga atas jasa profesi, dan bila perlu mematok harga obat semaksimal mungkin. Mestinya dokter didorong dengan tanggung jawab profesinya, untuk tidak hanya mengobati pasien, tapi juga menjalankan program bakti social (misalnya sebulan sekali melakukan sosialiasi, melaksanakan penyuluhan kesehatan di lingkungannya, dsb).

SUMBER: http://moehs.wordpress.com/2010/07/05/kisah-nyata-%E2%80%9Ckanibalisme%E2%80%9D-di-rscm/

About these ads

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di INFORMASI PENTING!, Realita Ummat, Secret File's dan tag , , , , , , . Tandai permalink.