Surat Terbuka: UNTUK ANAK-ANAKKU PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Wahai para penghafal AlQur’an niatkanlah amalanmu hanya kepada Allah تعالى semata, janganlah kamu niatkan amalan tersebut hanya sekedar untuk dipuji, atau agar menjadi imam sholat rowatib, atau memperoleh gemerlapnya dunia, atau agar menjadi pegawai pemerintah atau yang lainnya, karena Allah تعالى hanya menerima niatan yang ikhlas.

Telah datang seseorang kepada seorang shohabat yang mulia bernama Ubadah bin Shomith رضئ الله عنه seraya mengatakan : “Beritahulah kepadaku tentang seseorang yang melakukan sholat dengan mengharap wajah Allah تعالى dan suka untuk disanjung dan seorang yang puasa dengan mengharap wajah Allah I dan suka disanjung, seorang yang bershodaqoh dengan mengharap wajah Allah تعالى dan suka untuk disanjung, dan orang yang berhaji dengan mengharap wajah Allah تعالى dan suka untuk disanjung? Maka Ubadah bin shomith memberikan jawaban:”Tidak ada sesuatu (amalan yang diterima) baginya”. (Tafsir ibn Katsir 3/152)

Melakukan amalan sholih seperti menghafal Alqur’an karena riya’ termasuk syirik kepada Allah تعالى , dan inilah yang Rosulullah صلى الله عليه وسلم paling khawatirkan terjadi kepada umatnya sebagaimana sabda Rosulullah صلى الله عليه وسلم ,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya suatu perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil. Mereka (para shohabat) mengatakan,”apa itu syirik kecil ya Rosulullah ? Beliau menjawab: ”Riya’ “ (HR Mahmud bin labib/ Ash Shohihah no:951)

Allah تعالى tidak butuh terhadap amalan seseorang yang dengan amalan tersebut ia telah melakukan kesyirikan kepada-Nya sebagaimana sabda Rosulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits qudsy,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah تعالى berfirman, “Saya tidak butuh dengan orang yang melakukan kesyirikan . Barang siapa beramal dengan melakukan kesyirikan atas diri-Ku, maka aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya” (HR Abu Hurairah/Muslim)

Demikian pula kesyirikan merupakan sebesar-besar dosa, sebagaimana sabda Rosululloh صلى الله عليه وسلم ,

سُئِلَ رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

Rosulullah r ditanya (tentang) dosa apa yang paling besar ? Beliau menjawab , “ Kamu jadikan sesembahan selain Allah I , padahal Allahlah yang menciptakanmu.” (HR Ibn Mas’ud/ Mutafaqun ‘alaih)

Alangkah rendah dan hinanya seseorang yang menghafal Alqur’an hanya sekedar untuk mencari kehidupan dunia, tidak ada balasan bagi mereka kecuali adzab Allah تعال yang sangat pedih dan sia-sialah amalannya, sebagaimana firman Allah تعالى ,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (١٥)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٦)“

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan ) apa yang mereka usahakan di dunia itu tidak ada pahalanya di akhirat.” (Surat huud 15-16)

Telah berkata Qotadah رضئ الله عنه : “Barang siapa yang hanya mencari kehidupan dunia, maka Allah تعالى akan memberinya di dunia, kemudian kelak di hari kiamat tidak ada suatu amalanpun yang Allah تعالى berikan kepadanya. Adapun orang mu’min, maka Allah تعالى berikan balasan kepadanya baik di dunia maupun di akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir 2/595)

Bahkan orang yang belajar dan menghafal AlQur’an yang tidak ia lakukan kecuali untuk mendapatkan dunia belaka, maka dia tidak akan memperoleh bau harumnya surga, apalagi mau masuk ke dalamnya. Sebagaimana sabda Rosulullah صلى الله عليه وسلم ,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ilmu itu ditujukan untuk mengharap wajah Allah I , (akan tetapi) tidaklah ia belajar kecuali hanya untuk memperoleh sebagian dunia, maka tidaklah ia akan mendapatkan ‘Arfal Jannah yaitu bau wangi surga.” (HR Abu Hurairah / shohih jami’ 6159)

________________________
Diambil dari buku: Cara Praktis Menghafal Al-Quran Al-Ustadz Abu Hazim Muhsin حفظه الله تعالى Bab I : Ikhlas Karena Alloh تعالى

Sumber: Darul Ilmi

About these ads

Tentang Admin

ALAMAT ADMIN : Jln. Letjend. Jamin Ginting KM.8 Gg.Gembira Bawah (Padang Bulan) Kwala Bekala - Medan Johor. Medan-Sumatera Utara e-mail : abujundi5medan@gmail.com
Tulisan ini dipublikasikan di Nasehat, Tips Islami dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Surat Terbuka: UNTUK ANAK-ANAKKU PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

  1. fathimah berkata:

    izin copy.terima kasih…

Komentar ditutup.